Pemulihan Pascabencana di Kota Medan, Mahasiswa STIKes Mitra Sejati Gagas ‘Kampung Tangguh Banjir’ (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Medan - Dalam upaya mendukung pemulihan pascabencana banjir di Sumatera Utara (Sumut), tim Mahasiswa Berdampak dari STIKes Mitra Sejati melaksanakan program bertajuk “Kampung Tangguh Banjir: Program Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Mahasiswa untuk Pemulihan Sosial, Kesehatan, dan Lingkungan Pascabencana di Kota Medan.” Kegiatan dilakukan di Lingkungan V dan VIII, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Medan Maimun.
Program ini diketuai Martaulina Sinaga, SKM, S.Kep, Ns, M.Kes, dengan anggota Adriana Bangun, SST, MKM dan Suryani, SKM, MKM, serta melibatkan 50 mahasiswa lintas program studi, yakni Kebidanan Program Diploma Tiga, Administrasi Rumah Sakit Program Sarjana, dan Informatika Medis Program Sarjana, dengan total kontribusi mencapai 160 Jam Kerja Efektif Mahasiswa (JKEM).
Menurut Martaulina, kegiatan diawali pembekalan dan pelepasan simbolis Tim Mahasiswa Berdampak untuk Pemulihan Dampak Bencana Sumatera oleh Dr. Fauzan Adziman, ST, M.Eng, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) pada Rabu, 28 Januari 2026 lalu di Auditorium Universitas Negeri Medan (Unimed).
"Momentum ini menjadi penguatan komitmen mahasiswa dalam berkontribusi nyata bagi masyarakat terdampak bencana," katanya, Kamis (26/3/2026).
Diuraikannya, di lapangan mulai 2 Februari sampai 13 Maret 2026 mahasiswa STIKes Mitra Sejati melaksanakan berbagai kegiatan terintegrasi yang berfokus pada aspek promotif, preventif, dan rehabilitatif.
Kegiatan tersebut meliputi edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), penyuluhan gizi bagi ibu hamil dan balita, serta penerapan teknologi E-KIA yang dapat diakses https://kia.stikesmitrasejati.ac.id/ guna meningkatkan pemantauan kesehatan ibu dan anak secara digital.
Selain itu, sambungnya, mahasiswa juga melakukan pemeriksaan kesehatan bagi lansia, gotong royong untuk perbaikan sanitasi lingkungan, serta konseling kesehatan secara individu dan kelompok guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan pascabencana.
"Sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan, tim juga melakukan penanaman pohon bambu China di bantaran Sungai Deli. Penanaman ini bertujuan mencegah abrasi, longsor dan erosi tanah, mengingat karakteristik akar serabut bambu yang mampu mengikat tanah dengan kuat," katanya.
Selain itu, imbuh Martaulina, bambu juga berperan sebagai penahan banjir, penyerap karbon dioksida, serta membantu meningkatkan debit air tanah. Melalui program Kampung Tangguh Banjir, mahasiswa tidak hanya berperan dalam pemulihan kondisi masyarakat, tetapi juga mendorong terciptanya ketahanan komunitas menghadapi potensi bencana di masa mendatang.
"Program ini diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan masyarakat berbasis mahasiswa yang berkelanjutan dan berdampak luas di berbagai wilayah rawan bencana," pungkasnya.
(HEN/RZD)