Dr. Stiven Widjaja, A.A, B.S, M.M (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Medan - Beberapa hari lalu, ribuan orang berkumpul dalam sebuah ritual penghormatan leluhur yang dikenal sebagai Ji Zu. Banyak yang melihatnya sekadar sebagai tradisi budaya. Sebagian lain mungkin melihatnya sebagai praktik spiritual.
Anak-anak kita tumbuh dalam dunia yang penuh kompetisi, angka, dan pencapaian. Sekolah-sekolah berlomba mencetak siswa berprestasi. Orang tua senantiasa berharap anak mereka menjadi sukses, sementara dunia kerja menuntut kecepatan dan kecerdasan tanpa kompromi.
Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, jarang sekali kita berhenti sejenak dan bertanya: apakah karakter mereka bertumbuh seiring dengan kepintaran mereka?
Menghormati leluhur bukan berarti kita hidup di masa lalu. Justru sebaliknya. Dari kesadaran akan asal-usullah, seseorang menemukan arah untuk melangkah maju. Manusia yang tahu dari mana ia berasal akan lebih berhati-hati dalam menentukan ke mana ia akan pergi.
Dalam Ji Zu, ada satu nilai sederhana yang sering terlupakan dalam kehidupan modern kita: berbakti. Berbakti bukan sekadar tradisi usang; ia adalah fondasi peradaban. Anak yang belajar menghormati orang tua di rumah, akan lebih mudah menghormati gurunya di sekolah.
Murid yang belajar menghargai guru, akan lebih mudah menghormati aturan di masyarakat. Pada akhirnya, generasi yang terbiasa menghormati nilai-nilai luhur akan lebih siap memimpin dengan hati.
Itulah sebabnya dalam penyelenggaraan Ji Zu tahun ini, kami mengambil langkah berani dengan melibatkan generasi muda secara langsung. Mereka tidak sekadar berdiri di pinggir lapangan sebagai penonton, melainkan turun tangan menjadi pelaku. Ratusan siswa Carnegie School dan mahasiswa ITB Carnegie yang bertugas menjalankan prosesi dengan presisi tinggi ini bukan sedang memainkan peran seremonial belaka.
Mereka sedang berlatih disiplin dan tanggung jawab. Mereka sedang belajar bahwa ada nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar ego diri mereka sendiri. Di atas panggung itu, mereka mempraktikkan cara menjadi pribadi yang tertib, konsisten, dan dapat dipercaya. Sebab, pendidikan sejati tidak boleh berhenti di ruang kelas; ia harus hidup dan bernapas dalam tindakan nyata di lapangan.
Saya sangat percaya bahwa bangsa yang kuat tidak hanya dibangun oleh kecerdasan intelektual, tetapi oleh karakter yang kokoh. Kita membutuhkan pemimpin yang bukan hanya pintar berbicara, tetapi tahu cara berterima kasih.
Kita membutuhkan para profesional yang bukan hanya mampu menghasilkan keuntungan, tetapi juga mampu menjaga integritas.
Menariknya, di tengah pusaran perbedaan agama dan latar belakang budaya di negeri ini, nilai berbakti ternyata menjadi sebuah titik temu.
Dalam forum lintas agama yang kami selenggarakan, perwakilan tokoh Islam, Kristen Katolik, dan Buddha sepakat mufakat bahwa menghormati orang tua dan leluhur adalah sebuah nilai universal. Nilai ini nyatanya mampu melampaui batas-batas sekat kepercayaan.
Ketika masyarakat dari lintas iman bisa duduk bersama dan berbicara tentang esensi bakti, kita tersadar bahwa fondasi kebangsaan kita sebenarnya tidaklah rapuh. Ia ada, ia hidup, dan hanya perlu terus diingatkan kembali.
Saya membayangkan masa depan Indonesia di mana generasinya maju dalam ilmu pengetahuan, tetapi tidak kehilangan kejernihan nurani. Kota-kota kita boleh berkembang pesat, tetapi warganya tidak kehilangan rasa hormat.
Anak-anak kita harus berani bermimpi setinggi langit, tetapi tetap menundukkan kepala dengan takzim kepada orang tua mereka.
Tradisi boleh berubah bentuk seiring zaman. Teknologi boleh berkembang tanpa batas, dan dunia boleh bergerak semakin cepat. Tetapi jika fondasi karakter tidak ditanam kokoh, maka segala kemajuan itu hanya akan menjadi lapisan tipis yang nir-kedalaman.
Pada akhirnya, Ji Zu mengajarkan kita untuk berani berhenti sejenak, menundukkan hati, dan mengucapkan satu frasa yang sangat sederhana namun memiliki daya magis yang kuat: Terima kasih. Terima kasih kepada orang tua. Terima kasih kepada guru. Terima kasih kepada para pendahulu yang telah berpeluh membuka jalan.
Dari rasa terima kasih itulah lahir benih tanggung jawab. Dan dari tanggung jawab itulah lahir masa depan yang cerah. Jika kita sungguh-sungguh ingin membangun bangsa yang kuat, mari kita mulai dari rumah. Mari mulai dari keluarga. Mari mulai dari nilai bakti yang ditanam sejak dini. Karena peradaban bangsa yang besar, selalu dimulai dari anak-anaknya yang tahu cara menghormati.
Berita kiriman dari: Dr. Stiven Widjaja, A.A, B.S, M.M











