Puluhan mahasiswa USU lakukan pengabdian masyarakat. (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Batang Toru - Tim dosen dan mahasiswa lintas disiplin dari Universitas Sumatera Utara (USU) melakukan kegiatan pengabdian masyarakat dalam program mahasiswa berdampak pemulihan bencana di Desa Aek Ngadol Nauli, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan. Kegiatan yang berlangsung satu bulan ini sebagai bentuk penguatan terhadap sendi sendi kehidupan sosial masyarakat pascabencana.
"Program mahasiswa berdampak pemulihan bencana 2026 berlangsung satu bulan. Mulai 18 Februari hingga Maret 2026. Melalui kegiatan ini diharapkan menjadi model praktik baik (best practice) dalam pemulihan berbasis komunitas yang dapat direplika di wilayah terdampak bencana lainnya di Indonesia," ujarnya melalui siaran pers, Selasa (31/3/2026).
Kegiatan pengabdian masyarakat yang bertajuk "Crafting Institutions untuk Pemulihan Infrastruktur Sosial Pascabencana" ini melibatkan tiga dosen dan 50 mahasiswa lintas disiplin. Seperti Antropologi Sosial, Pertanian, Sastra, Melayu, Kesehatan Masyarakat hingga ekonomi.
Para mahasiswa yang tergabung dalam MASADEPANT (Mahasiswa Departemen Antropologi) menjadi motor utama pelaksanaan kegiatan di lapangan selama satu bulan.
Menurutnya, dampak paling serius pascabencana justru pada infrastruktur sosial, seperti aturan, kelembagaan dan relasi sosial yang menompang kehidupan masyarakat.
Maka dari itu, dalam melakukan pengabdian masyarakat ini digunakan pendekatan crafting institutions, yang merujuk pada konsep yang dikembangkan oleh Elinor Ostrom. Pendekatan ini menekankan pentingnya memahami rules-in-use dan working rules aturan yang benar-benar hidup dan dipraktikkan dalam masyarakat.
Lebih lanjut ia bilang satu di antara fokus kegiatan bekerja sama dengan kelompok Satahi II. Jadi, tim menghidupkan kembali institusi Lubuk Larangan.
Lubuk Larangan merupakan praktik kearifan lokal berupa penetapan bagian sungai sebagai kawasan larangan menangkap ikan dalam periode tertentu. Setelah masa larangan dicabut, masyarakat bersama-sama menangkap ikan untuk dikonsumsi dan dibagikan secara merata.
Tidak hanya itu, tim juga mengaktifkan kembali LPMD dan ruang cerita warga. Tim mahasiswa berupaya menghidupkan kembali fungsi lembaga ini dengan menggali aturan-aturan lokal yang pernah ada serta mendorong partisipasi warga.
Adapun, pendekatan yang digunakan tidak hanya bersifat teknokratis, tetapi juga humanis. Mahasiswa secara aktif mendengarkan dan mendokumentasikan pengalaman warga, mulai dari anak-anak, remaja, perempuan, hingga lansia tentang peristiwa bencana yang mereka alami. Pendekatan ini terbukti efektif dalam membangkitkan kembali semangat hidup masyarakat.
“Berulang kali kalimat ini diucapkan kepada kami bahwa dengan ada yang mau mendengar cerita mereka, semangat hidup itu kembali muncul,” ujar Jaka Solter, Koordinator Lapangan Mahasiswa Berdampak.
Jaka menambahkan, sebagai program pendukung yang inovatif, tim juga menjalankan intervensi psikososial khusus bagi kelompok rentan. Di SDN No.100723 Aek Ngadol Sitinjak, anak-anak diajak mengekspresikan trauma banjir melalui metode menggambar dan bercerita.
Cerita Terseret Banjir
Seorang siswi, Fitri Agus Lina menceritakan pengalamannya terseret kayu saat banjir. Meski kini harus belajar beralaskan tikar karena meja dan kursi sekolah rusak terendam lumpur, semangatnya untuk menjadi Polwan tetap membara.
Program ini juga menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini agar anak-anak berkomitmen menjaga kelestarian pohon dan sungai di desa mereka.
Dampak emosional yang mendalam juga dirasakan kaum ibu dan lansia yang kerap mengalami "pikiran kosong" dan syok berat. Fenomena pluviophobia ketakutan berlebih setiap kali hujan turun kini membayangi keseharian mereka.
Kolaborasi lintas disiplin untuk pemulihan berkelanjutan ini menunjukkan pemulihan pascabencana membutuhkan pendekatan lintas disiplin dan berbasis masyarakat. Keterlibatan mahasiswa dari berbagai fakultas memungkinkan intervensi yang lebih komprehensif dari aspek sosial, kesehatan, ekonomi, hingga lingkungan.
(REL/WITA)











