Analisadaily.com, Medan - Setelah sukses mencuri perhatian di Berlinale 2026, film terbaru karya penulis dan sutradara Joko Anwar, Ghost in the Cell, dipastikan akan tayang di 86 negara di dunia yakni, Singapura, Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Timor Leste, Vietnam, Filipina, Myanmar, Indonesia, Mongolia, Taiwan, Amerika Serikat, Kanada, Jerman, Austria, Tirol Selatan (Alto Adige), Liechtenstein, Swiss, Armenia, Abkhazia, Azerbaijan, Belarus, Georgia, Kazakhstan, Kirgistan, Moldova, Rusia, Ossetia Selatan, Tajikistan, Turkmenistan, Belgia, Luksemburg, Belanda,
Spanyol, Andorra, Polandia, Britania Raya, Irlandia, Australia, Selandia Baru, Prancis, Portugal, Angola, Guinea-Bissau, Tanjung Verde (Cape Verde), Mozambik, Sao Tome dan Principe, Belize, Kosta Rika, El Salvador, Guatemala, Honduras, Nikaragua, Panama, Meksiko, Argentina, Bolivia, Brasil, Chili, Kolombia, Ekuador, Paraguay, Peru, Suriname, Uruguay, Venezuela, Hungaria, Ceko, Slowakia, Rumania, India, Sri Lanka, Pakistan, Bangladesh, Bhutan, Maladewa, Nepal, Afghanistan, Italia, Vatikan, San Marino, Capodistria, Malta, dan Monako.
Menariknya, hak penayangan, termasuk distribusi bioskop, telah dibeli oleh puluhan negara tersebut bahkan sebelum film ini resmi tayang di Indonesia pada 16 April mendatang.
Ghost in the Cell merupakan produksi terbaru dari Come and See Pictures yang bekerja sama dengan RAPI Films, Legacy Pictures, serta Barunson E&A yang juga bertindak sebagai sales agent untuk perilisan global film ini.
“Ghost in the Cell adalah film yang lahir dari realita Indonesia. Walaupun bergenre komedi horor dan mudah dinikmati, film ini berbicara tentang kekuasaan, sistem yang korup, dan orang-orang kecil yang terjebak di dalamnya. Ini tentang apa yang terjadi ketika kebenaran ditutupi, dan ketika akhirnya muncul ke permukaan,” ujar Joko Anwar.
Ia menambahkan, film ini ternyata memiliki relevansi universal. “Awalnya kami tidak menyangka penonton negara lain bisa relate. Namun ternyata ini bukan hanya cerita Indonesia, melainkan juga cerita Amerika, Brasil, India, hingga Prancis. Korupsi tidak punya kewarganegaraan, ketidakadilan adalah bahasa universal, dan perjuangan untuk kebenaran dimengerti semua manusia. Itu sebabnya 86 negara tertarik membeli hak penayangannya,” lanjutnya.
Menjelang penayangan perdana dunia di Berlinale, film ini juga telah lebih dahulu diakuisisi oleh distributor berbasis Jerman, Plaion Pictures. Kerja sama tersebut membuka jalan bagi Ghost in the Cell untuk tayang di jaringan bioskop negara-negara berbahasa Jerman.
Sebagai informasi, Plaion Pictures dikenal telah mendistribusikan berbagai film pemenang penghargaan bergengsi seperti Anatomy of a Fall, The Whale, Titane, Parasite, hingga Sentimental Value.
Produser Tia Hasibuan menyebut pencapaian ini sebagai bukti kualitas film. “Tayangnya Ghost in the Cell di 86 negara menunjukkan bahwa kualitas produksinya diakui secara luas dan menarik minat banyak pasar internasional,” ujarnya.
Film ini dibintangi oleh deretan aktor ternama seperti Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Lukman Sardi, Morgan Oey, Rio Dewanto, Tora Sudiro, Arswendy Bening Swara, serta memperkenalkan wajah baru Magistus Miftah bersama sejumlah pemain lainnya.
Secara global, film ini akan menjangkau berbagai kawasan, mulai dari Asia Tenggara, Asia Timur, Amerika Utara, Eropa Barat dan Timur, kawasan CIS, hingga Amerika Latin, Afrika, serta subbenua India. Jaringan distribusi yang luas ini menegaskan daya tarik cerita yang lintas budaya dan relevan secara global.
Ghost in the Cell akan mulai tayang di bioskop Indonesia pada 16 April 2026. Informasi terbaru mengenai film ini dapat diikuti melalui akun Instagram resmi @comeandseepictures.
Film ini mengangkat kisah kehidupan para narapidana di Lapas Labuhan Angsana yang sehari-hari diwarnai penindasan, konflik, dan ketidakadilan. Situasi berubah mencekam ketika seorang napi baru masuk dan kematian misterius mulai terjadi satu per satu. Teror tersebut diyakini berasal dari entitas gaib yang memburu individu dengan aura paling negatif.
Dalam upaya bertahan hidup, para napi berlomba-lomba menjadi “baik” demi menjaga aura tetap positif. Namun, di tengah sistem yang tidak adil, hal itu bukan perkara mudah. Hingga akhirnya mereka menyadari satu-satunya cara untuk bertahan adalah bersatu melawan penindasan, bahkan menghadapi teror yang tak kasatmata.











