Kisah Anak Kos Sanro Naibaho Lolos SNBP, ‘Maksen’ di Sidikalang Tak Pernah Beli Daging (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Sidikalang - Sanro Naibaho siswa SMK HKBP Sidikalang Kabupaten Dairi termasuk siswa paling beruntung.
Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, Tuhan membuka jalan baginya hingga diterima di Politeknik Negeri Medan (Polmed) jurusan teknik telekomunikasi.
Apalagi, lingkup bilangan ruang kelas, dia bukanlah figur menonjol. Namun dalam hidup, doa orang tua dan nasib, bisa mengalahkan segalanya.
“Bagi Tuhan, tak ada yang mustahil,” kata pengkotbah dalam ajaran Kristiani.
“Saya rangking sepuluh di kelas jurusan teknik jaringan komputer dan telekomunikasi (TJKT). Bukan juara. Tetapi, memperoleh rejeki,” kata Sanro di hadapan Kepala Sekolah, Melanton Sirait dan Wakil Kepala Sekolah, Okto Naibaho, Selasa (7/4).
Dia menerangkan, kondisi kehidupan orang tua dipandang susah di Dusun Saor Nauli Desa Lae Rambong Kecamatan Silima Pungga-Pungga.
“Saya anak petani. Macam manalah petani di kampung. Jauh dari hiruk pikuk keramaian dan kemajuan. Masih pelosok,”kata Sanro.
Si buah hati pasangan suami istri Hamonangan Naibaho-Bellina Situmeang ini menyebut, beras kebutuhan makanan dikirim dari kampung melalui angkot. Titipan diambil di loket. Jumlahnya 1 kaleng (15 kilogram) per bulan.
Sedangkan uang dikirim Rp200 ribu per 2 minggu. Rupiah tersebut dipakai buat belanja ikan, sayur, minyak goreng, sabun dan lainnya termasuk alat tulis.
“Kami belanja jalan kaki ke Pasar Sidikalang. Ya, biasa, tawar sana sini. Mana paling murah, beli di situ. Pulang menenteng kantongan kresek berisi bahan pokok,” kata Sanro.
Pernah belanja daging? Sanro berkata jujur. Tidak pernah. Kalau beli daging, uangnya bakal cepat habis. Yang penting, perut berisi, bisa makan 3 kali sehari.
“Jaranglah konsumsi daging. Kalau namanya beli, sepanjang kos, tak pernah. Paling-paling kalau ada dikirim bersama beras,” ujar Sanro.
Diterangkan, sehari-hari, dia bangun pukul 05.00 Wib. Kemudian masak sendiri (maksen). Usai sarapan, berangkat ke sekolah. Sore hari, masak lagi.
Menyusul keterbatasan keuangan, Sanro mengungkap, belum pernah mencicipi menu di kafe atau restoran di sekitaran Sidikalang. Yang penting, bisa bersekolah dan hidup sehat.
Ditambahkan, bila libur 2 hari, ia pulang membantu orang tua. Dia bangga atas kasih sayang ayah dan ibu. Sanro berharap, kelak jadi orang sukses.
Kepala Sekolah, Melanton Sirait menyebut, kehidupan pelajar binaannya, rata-rata serupa.
“Siswa kami didominasi anak dari keluarga kelas menengah ke bawah. Kebanyakan mereka masak sendiri,” kata Melanton.
Diutarakan, tahun ini, 5 siswa lolos ke PTN jalur SNBP. 3 diantaranya memperoleh kursi di Polmed.
(SSR/RZD)