Analisadaily.com, Medan - Muhammad Fadly yang akrab disapa Padleeee menjadi salah satu representasi pekerja kreatif yang tumbuh dan berproses dari nol. Di usia 28 tahun, ia bukan hanya sekadar fotografer dan videografer, tetapi juga bagian dari generasi yang menggantungkan harapan besar pada masa depan industri kreatif nasional.
Perjalanannya dimulai sederhana. Tahun 2013, saat masih duduk di bangku kelas 3 SMP, Padleeee mulai mengenal dunia fotografi. Ketertarikan itu tumbuh tanpa paksaan, berawal dari rasa penasaran, lalu berubah menjadi kecintaan mendalam terhadap visual. Kamera menjadi medium untuk memahami dunia: tentang cahaya, komposisi, hingga emosi yang tersembunyi di balik setiap gambar.
Memasuki 2015, ia mulai menapaki dunia profesional sebagai fotografer freelance. Tidak ada jalan instan. Ia menerima berbagai pekerjaan dengan bayaran minim bahkan tak jarang hanya berupa ucapan terima kasih.
Namun dari situ, ia membangun fondasi: pengalaman, relasi, dan ketahanan mental.
Dari memotret pernikahan (wedding) hingga dokumentasi coffee shop, langkah kecil itu membawanya pada kesempatan lebih besar.
Ia mulai bekerja dengan sejumlah perusahaan kreatif, memperluas pandangan tentang industri yang digelutinya. Baginya, industri kreatif bukan sekadar estetika visual, melainkan ruang besar yang menggabungkan peluang ekonomi, jejaring relasi, dan kekuatan emosi.
“Semua dibangun atas dasar kepercayaan dan rasa,” ujarnya.
Seiring waktu, kiprahnya semakin meluas. Ia pernah dipercaya menjadi fotografer dan videografer untuk brand tingkat Asia, hingga kini dikenal sebagai fotografer spesialis bagi sejumlah pejabat di Sumatera Utara seperti mantan Wakil Gubernur Sumatera Utara, Musa Rajekshah, Walikota Medan, Rico Waas, Bupati Toba, Effendi Napitupulu dan lainnya.
Tahun 2020 menjadi titik balik penting ketika ia memutuskan fokus sebagai fotografer spesialis. Sejak itu, kariernya melaju pesat dengan jam terbang tinggi.
Bersama rekannya, Padleeee kemudian mendirikan Studio By Sara—sebuah ruang kreatif yang menjadi wadah eksplorasi ide dan kolaborasi. Studio ini tidak hanya menjadi tempat produksi, tetapi juga simbol dari perjalanan panjang yang dibangun dengan konsistensi dan keberanian.
Baginya, setiap visual adalah cerita. Tidak ada batasan nilai dalam sebuah ide.
“Sebuah ide punya miliaran cerita. Semua visual punya makna di baliknya,” kata Padleeee, Sabtu (11/4/2026).
Ia pun mendorong generasi muda untuk terus berkarya dan berani menyampaikan emosi melalui karya visual.
Meski telah menjelajahi hampir seluruh wilayah Indonesia hingga beberapa negara di Asia, Padleeee memilih untuk tidak menonjolkan sisi materi.
Ia enggan menyebut angka dari hasil kerjanya, namun mengakui bahwa industri ini mampu memberikan kehidupan yang layak. Namun di balik optimisme itu, terselip kegelisahan.
Belakangan, perhatian terhadap industri kreatif kembali diuji dengan munculnya kasus yang menimpa Amsal Sitepu. Pekerja kreatif tersebut dikaitkan dengan dugaan mark up dalam proyek pembuatan video desa di wilayah Kabupaten Karo. Kasus ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku industri kreatif, yang merasa profesi mereka masih rentan disalahpahami, bahkan berpotensi dikriminalisasi.
Bagi Padleeee, peristiwa tersebut menjadi refleksi penting. Ia menilai bahwa masih ada kesenjangan pemahaman antara nilai kerja kreatif dengan sistem birokrasi yang ada. Proses kreatif yang kompleks, berbasis ide dan eksekusi visual, sering kali dinilai secara sempit hanya dari angka-angka administratif.
“Industri ini besar. Perannya nyata, bahkan sudah diakui di seluruh dunia. Tapi pemahaman terhadap proses kreatif itu sendiri masih perlu diperkuat,” ungkapnya.
Ia berharap pemerintah dapat lebih hadir, tidak hanya dalam bentuk regulasi, tetapi juga perlindungan dan pemahaman terhadap pekerja kreatif. Baginya, industri ini bukan sekadar tren, melainkan sektor strategis yang mampu membuka lapangan kerja, menggerakkan ekonomi, dan membangun identitas budaya bangsa.
Cerita Padleeee adalah potret dari ketekunan dan keberanian. Dari seorang pelajar dengan kamera sederhana, hingga menjadi kreator visual dengan jangkauan lintas daerah dan negara. Perjalanan itu bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi juga tentang harapan kolektif.
Di balik setiap frame yang ia abadikan, tersimpan pesan yang lebih besar: bahwa industri kreatif layak untuk dilihat, dihargai, dan dilindungi. Bukan dikriminalisasi. Apalagi dihargai dengan nol rupiah (Rp.0).
Dan di tengah dinamika yang ada, suara-suara seperti Padleeee menjadi pengingat bahwa kreativitas bukan sekadar karya, melainkan juga perjuangan. Ia tak ingin kasus yang dialami Amsal Sitepu terjadi lagi pada mereka yang bekerja di industri kreatif. “Kita hanya butuh jasa kita dihargai. Dan pemerintah harusnya menjadi garda terdepan menghargai itu bukan sebaliknya malah mengkriminalisasi pekerja kreatif,” harap pria lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Muhamaddiyah Sumatera Utara (UMSU) tersebut.











