Membawa NU Sebagai ‘Soft Power’ Dunia Islam (Analisadaily/Ist)
Oleh: Nispul Khoiri (Wakil Rais Syuriah PW NU Sumatera Utara, Ketua IPIM Sumatera Utara dan Guru Besar UIN Sumatera Utara)
Analisadaily.com, Medan - Pasca diumumkannya struktur baru Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) masa khidmat 2026-2031 di Gedung PBNU Jakarta Pusat, ada yang menarik untuk dianalisis sepertinya PBNU ditampilkan dalam wajah baru.
Wajah baru dimaksudkan kepengurusan baru di bawah kepemimpinan hasil mandataris Muktamar ke-35 ini lebih inklusif, segar, dan profesional, tidak saja perombakan posisi dengan merangkul sejumlah wajah baru, tetapi juga komitmen baru menyongsong masa depan NU lebih bermarwah, memperkaya khidmat untuk lebih bermaslahat.
Tentunya NU dibawa harus siap memasuki abad ke-duanya sebagai amanah besar dan mulia. Jika perjalanan NU pada abad pertama tidak bisa dipisahkan dari peran luar biasa masyaikh (pendiri), maka NU memasuki abad ke-kedua ini peran kolektif (jami’iyah) elit-elit NU dalam lintas generasi dan warganya (Nahdliyin) menjadi kebutuhan transformasi organisasi.
Sepertinya membaca NU tidak lagi hanya berfokus pada pengokohkan perannya pada kebutuhan nasional, tetapi eksistensinya semakin didorong memperhatikan kompleksitas krisis global dan memberikan penguatan moderat di tengah gempuran ideologi transnasional serta polarisasi dunia.
PBNU yang dipimpin oleh Rais ‘Aam KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum KH Abdul Hakim Maahfudz (Gus Kikin) dipandang sangat strategis yang akan mampu menjawab berbagai kebutuhan dimaksud.
Konstruksi kepengurusan baru benar-benar didesain cukup afiks layaknya sebuah simfoni berharmoni dari mulai ulama sepuh di jajaran Syuriah sebagai penentu kebijakan, hingga jajaran Tanfiziah sebagai pelaksana program dalam ragam perwakilan.
Terlihat cukup meletakkan keseimbangan pengurus. Kepentingan meletakkan suatu keseimbangan organisasi melalui penguatan profesional-teknokrat-sektor ekonomi, pengembangan penyampaian dakwah lebih kreatif dan penguatan inklusi dengan diadopsinya tokoh-tokoh disabilitas menjadi fondasi penting membawa organisasi ini memasuki abad kedua eksistensinya.
Seiring pula tantangan dihadapi organisasi ini tidak lagi sama dengan abad pertama. NU tidak lagi berhadapan dengan urusan keagamaan tradisional, tetapi dihadapkan ragam persoalan mulai dari digitalisasi, globalisasi, ekonomi umat, dan kompleksitas kebutuhan umat menuntut perubahan besar dalam sistem tata kelola NU.
Selazimnyalah keseimbangan manajerial organisasi mutlak dilakukan. Keseimbangan menjadi kerangka membuat NU kuat secara kultural juga efektif secara struktural. Karena tantangan utama NU sering kali terletak pada penyelarasan dua aspek penting, yakni aspek spritual dan profesionalisme (manajerial organisasi). Tanpa kedua keseimbangan ini potensi NU (struktural-kultural) yang besar tidak akan terkelola secara solid.
Maka diakomodirnya berbagai tokoh repsentatif dalam kepengurusan baru ini dibarengi pembagian tugas yang cukup rapi dan adil antara penjaga nilai-nilai keagamaan (Syuriah) dan penggerak roda organisasi/sosial kemasyarakatan (Tanfiziah) menjadi bagian penting tata kelola menciptakan keseimbangan dimaksud.
Disinilah pentingnya keseimbangan dibangun, karena keseimbangan kunci utama membawa perjalanan roda organisasi ini tetap kuat, stabil, adaptif, konstruktif dan berkelanjutan.
Indonesia sebagai negara besar pasti menginginkan NU yang kuat dan harmoni. Sejak kelahiran hingga perjalanannya, NU telah berhasil mengantarkan Indonesia merdeka, menjaga moral bangsa, alat memperkokoh persatuan nasional hingga NU berhasil merawat moderasi beragama di tengah kemajemukan.
Kekuatan dimiliki NU berbanding lurus dengan negara. Artinya jika NU maju, kuat dan damai, maka negara akan turut merasakannya begitupula sebaliknya. Wajar sekali Presiden RI Prabowo Subianto pada pembukaan Muktamar NU ke-35 di Jombang tanggal 27 Agustus 2026 menegaskan, “NU yang kuat artinya Indonesia kuat, kalau NU rukun Indonesia rukun, NU berkhidmat Indonesia bermartabat.”
Pidato Presiden RI ini menyadarkan betapa pentingnya NU bagi negara sebesar ini, karena NU adalah pilar stabilitas, keamanan dan aset besar bangsa ini. Disinilah keseimbangan antara struktur organisasi, akar rumput jamaah dan sinergi kepemimpinan moral menjadi denyut nyadi NU.
NU Perhatian Dunia
Pada saat meningkatnya polarisasi politik global, konflik identitas dan menguatnya ekstremisme agama di berbagai kawasan dunia, perhatian internasional terhadap Indonesia perlahan bergeser ke satu nama besar, yakni Nahdlatul Ulama.
Organisasi Islam tradisional terbesar di dunia ini tidak lagi dinilai sebatas kekuatan sosial keagamaan domestik, melainkan mulai diperhitungkan sebagai aktor global dalam percaturan peradaban Islam masa depan.
Pertanyaan yang muncul sebagaimana dilontarkan di kalangan pengamat bukan lagi apa itu NU? Melainkan mampukah NU menjadi wajah baru dunia di era modern?
Secara domestik pertanyaan tersebut dipandang selesai ketika NU berhasil membentuk dan mengkokohkan wajah baru Islam yang disebut Islam moderat/wasathiyah Ahlusunnah wal Jamaah di Indonesia.
NU melalui Islam moderat memfungsikan terciptanya harmoni sosial, mencegah ekstremisme serta merawat persatuan bangsa di tengah keberagaman Indonesia.
NU-pun secara konsisten mengamalkan paham Ahlusunnah wal Jamaah menjunjung tinggi sikap tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang) dan i’tidal (lurus).
Melalui wajah Islam ini NU berhasil memainkan peran fundamental memposisikan dirinya sebagai jembatan yang menyatukan nilai-nilai keislaman dengan rasa kebangsaan termasuk melalui kekuatan ini mampu merawat bangsa ini di tengah kebhinekaan.
Islam perspektif NU menjadi daya tawar sangat besar untuk keagamaan bangsa ini kemudian menjadi daya tarik tersendiri bagi Indonesia. NU berhasil mengkombinasikan ajaran Islam moderat dengan nilai-nilai kearifan lokal dan nasionalisme, adanya kekuatan jumlah terbesar nahdliyin, berperannya kiyai dan pesantren, kemudian adanya komitmen kebangsaan NU serta toleransi dan perlindungan minoritas.
Dalam konteks Islam moderat, NU tidaklah sekedar menawarkan konsep kosong, slogan politik atau wacana akademis tanpa makna. Tetapi NU mampu meletakkan ajaran wasathiyah menjadi manifestasi nyata dari ajaran Islam (Ahlusunnah wal Jamaah) kemudian dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari dengan menjunjung tinggi toleransi, hidup berdampingan secara harmonis di tengah kemajemukan masyarakat.
Perspektif lainnya ketika kuantitas nahdliyin menjadi terbesar di negeri ini, maka NU telah memiliki modal sosial dan kultural sebagai pilar utama penguatan Islam Indonesia. Hal ini ditunjukkan berbagai survei bahwa mayoritas Muslim Indonesia mengidentifikasikan diri secara kultural dengan tradisi amaliyah NU baik dalam ibadah khusus naupun ibadah umum.
NU juga dipandang berhasil memberikan penguatan akulturasi dan toleransi dalam menerima serta merawat kearifan lokal selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Melestarikan berbagai tradisi yang shahih tetap dijaga sebagai bagian ekspresi keagamaan yang menyatu dengan identitas bangsa.
Begitupula karakteristik tawaran dakwah NU, prinsipnya untuk mengkedepankan dakwah moderat, damai, santun dan menghargai budaya lokal, menjadi faktor penguat terhadap pembentukan wajah Islam Indonesia yang moderat tersebut.
Tidak kalah menarik pula peran dari kiyai dan pesantren sangat diperhitungkan membangun jaringan pesantren yang luas dimiliki NU menjadikannya sebagai pilar utama pusat transmisi ilmu yang kuat dan penjaga moral di akar rumput serta penyebar Islam yang moderat.
Begitupula NU senantiasa dipandang konsisten mengawal Pancasila dan NKRI karena memandangnya sebagai konsensus nasional yang selaras dengan nilai-nilai Islam moderat.
Konsistensi ini diwujudkan ketika NU mampu mendirikan ribuan pesantren yang notabenenya adalah proses dari pendidikan NU itu sendiri kepada generasi muda memperkuat semangat nasionalisme yang kuat pula.
Islam Wasathiyah Indonesia Rujukan Islam Internasional
Bagi dunia Islam wajah Islam wasathiyah Indonesia tersebut tidak cukup selesai secara domestik tetapi pantas dijadikan rujukan Islam internasional. Dunia Islam memberikan apresiasi setingg-tingginya dan mengakui Indonesia melalui NU mampu menjalankan tata kelola berlandaskan Islam moderat di tengah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia di tengah tantangan sangat kompleks.
Indonesia berhasil menerapkan nilai-nilai yang seimbang, toleran, inklusif dan konstruktif dalam kebijakan publik serta kehidupan berbangsa. Sepertinya Indonesia menciptakan sebuah seni merangkul cukup terukur terhadap berbagai kepentingan bahkan membentuk sistem demokrasi yang stabil.
Keberhasilan ini mengantarkan Indonesia menjadi salah satu aktor strategis diplomasi politik dan agama di kancah dunia. Hal ini terlihat ketika Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah International Grand Imams Conference (IGIC) berlangsung di Jakarta 25-28 September 2026 sekaligus terpilihnya Menteri Agama Nasaruddin Umar sebagai Presiden International Assembly of Mosque Imams pertama, menjadi bukti nyata besarnya harapan dunia Islam kepada Indonesia.
Dalam menguat peran-peran tersebut Indonesia senantiasa membumikan forum-forum global melalui pusat pemikiran moderat yang ditampilkan oleh perguruan tinggi Islam Indonesia seperti UIN dan lainnya guna memperkenalkan corak keislaman yang moderat, ramah, dan sejuk.
Pendekatan ini membuktikan bahwa nilai-nilai Islam dapat berjalan beriringan dengan demokrasi, modernitas dan keragaman budaya.
Memang terbangunnya Islam Indonesia moderat bukanlah konsep tidak berdasar, melainkan hasil dari proses sejarah yang panjang, pertemuan budaya yang inklusif dan komitmen kebangsaan yang kokoh kemudian diwujudkan secara nyata dalam tindakan, budaya dan praktik kehidupan yang damai, toleransi, adaptif dan konstruktif.
Lebih penting lagi keberhasilan NU menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas. NU tetap mempertahankan akar pesantren, kitab kuning dan otoritas ulama tradisional. Sisi lain NU tetap adaptif isu-isu modernitas.
Jadilah Islam Indonesia (Nusantara-Wasathiyah) yang mengkedepankan harmoni di tengah pluralitasnya negara ini. Karena itu bagi negara Islam internasional, Islam moderat Indonesia dinilai teruji memainkan corak keislaman dimaksud. Islam Indonesia adalah model contoh (role model) yang sukses menyelaraskan nilai-nilai agama, demokrasi dan keberagaman.
Artinya melalui model contoh Islam seperti ini, menjadikan posisi geopolitik Islam Indonesia cukup terukur menjaga stabilitas kawasan dan mempromosikan penjaga perdamaian dunia. Jika kemudian negara Islam internasional tertarik mengadopsi model Islam moderat Indonesia (Wasathiyah Islam) sebenarnya menawarkan peluang besar, meskipun pada penerapannya akan juga dihadapkan tantangan tersendiri oleh lanskap politik, budaya dan teologis masing-masing negara.
Memasuki abad ke-dua NU, penguatan hubungan internasional dengan memperkenalkan nilai-nilai Islam moderat dan pemikiran perdamaian di kancah dunia internasional semakin ditunggu. Kehadiran NU pada abad ke-dua pendiriannya harus mampu memperkuat visi besar dan misi strategis untuk mengantarkan NU menjadi penuntun peradaban dengan memperluas peran strategisnya.
Harapan tersebut cukup besar kepada elit-elit NU dalam lintas generasi mereka adalah pelopor utama secara maksimal memerankan transformasi organisasi, atas kesadaran ajaran NU sebagai fondasi pembentukan dan penerapan Islam moderat.
Disinilah penting momentum peralihan kepengurusan baru bukan hanya ajang pergantian kepemimpinan, evaluasi kinerja organisasi, tetapi ada komitmen ideologis dan ijtihad keagamaan NU yang sangat ditunggu-tunggu oleh umat bangsa bahkan dunia yakni bertransformasi besar terhadap kehidupan keummatan dunia.
Nasyaruddin Umar menegaskan “substansi Muktamar NU ke-35 yang telah berlangsung di Jombang tidak hanya sekedar estapet kepemimpinan, amanat murni dari keorganisasian, tetapi harus menjadi mementum baru NU memasuki abad ke duanya”. NU harus berani menerobos menjadikan organisasi ini sebagai “soft power” dunia Islam tidak hanya berbicara soal fikih, tasawuf atau dakwah, tetapi NU harus masuk dalam diplomasi perdamaian, kemiskinan, radikalisme dan lainnya. Semoga!
(KAH/RZD)