Sofyan Tan di SLB Dwituna Harapan Baru: Menembus Batas Fisik, Merajut Asa Bersama Anak-Anak Istimewa (Analisadaily/Ist)
Analisadaily.com, Medan – Alunan musik keyboard dan dentuman drum mengisi ruangan Yayasan Pendidikan Dwituna Harapan Baru di Jalan Sei Batang Serangan Nomor 75, Medan, Rabu (14/10/2026).
Di antara suara musik yang menggema, anak-anak tunanetra bernyanyi dan menari dengan penuh semangat. Senyum dan kegembiraan terpancar dari wajah mereka, seolah ingin mengatakan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkarya.
Di tempat itu, mata mungkin tak mampu menangkap keindahan dunia secara utuh. Namun, hati dan semangat mereka menghadirkan warna yang tak kalah indah. Musik menjadi bahasa, tarian menjadi ungkapan, dan setiap nada yang dimainkan menjadi bukti bahwa mereka memiliki kemampuan untuk tumbuh, belajar, dan berprestasi.
Suasana hangat itu menyambut kedatangan Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan, yang berkunjung untuk melihat langsung kehidupan dan proses pendidikan anak-anak penyandang disabilitas netra di Medan.
Rombongan disambut tarian Melayu serta penampilan musik yang mencuri perhatian. Riki, seorang guru tunanetra, dengan terampil memainkan keyboard. Gonzano, siswa SLB tersebut, menghentakkan stik drum mengikuti irama. Suara merdu Yosep melengkapi pertunjukan, sementara Ica dan Yeti tampil menari sekaligus bernyanyi.
Tak ada tatapan mata yang saling bertemu untuk menyampaikan kekaguman. Namun, setiap nada dan gerakan seolah menjadi percakapan yang menyentuh hati. Mereka membuktikan bahwa keterbatasan penglihatan tidak memadamkan kemampuan untuk menciptakan keindahan. Di balik penampilan itu, ada ketekunan para guru yang setiap hari mendampingi anak-anak belajar mengenali dunia dengan cara mereka sendiri.
Pembina Yayasan Pendidikan Dwituna Harapan Baru, Lindawaty, menyambut kehadiran Sofyan Tan dengan penuh syukur. Didampingi Kepala Sekolah SLB Harapan Baru, Lie Afni, Bendahara Yayasan Miss Merlyn, para guru, staf, dan orang tua siswa, ia menceritakan perjuangan yayasan dalam memberikan pendidikan bagi anak-anak tunanetra dan tunanetra majemuk.
Bagi Lindawaty, pendidikan bukan sekadar mengajarkan anak membaca dan menulis. Lebih dari itu, pendidikan adalah jalan untuk menumbuhkan kemandirian, membangun kepercayaan diri, dan membuka kesempatan agar anak-anak penyandang disabilitas dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Salah satu bekal penting yang mereka pelajari adalah huruf braille, yang menjadi jendela untuk mengenal ilmu pengetahuan. Anak-anak juga dilatih mengembangkan keterampilan melalui musik, tari, dan berbagai kegiatan yang membantu mereka mengekspresikan diri.
Tongkat putih yang digunakan penyandang tunanetra pun memiliki makna lebih dari sekadar alat bantu. Tongkat itu menjadi simbol kemandirian sekaligus penunjuk arah agar mereka dapat melangkah dengan lebih percaya diri.
Lindawaty berharap perhatian terhadap pendidikan penyandang disabilitas semakin besar. Baginya, setiap anak berhak mendapatkan kesempatan untuk berkembang, tanpa dibatasi kondisi fisik yang mereka miliki sejak lahir.
Menyaksikan langsung semangat anak-anak dan pengabdian para guru membuat Sofyan Tan mengaku kagum sekaligus terharu. Kunjungan tersebut, menurutnya, berangkat dari kerinduannya untuk mengetahui lebih dekat kondisi sekolah luar biasa, terutama yang melayani penyandang disabilitasnetra di Kota Medan.
Baginya, melihat anak-anak tampil percaya diri di atas panggung merupakan pengingat bahwa potensi manusia tidak bisa diukur hanya dari kesempurnaan fisik. Di balik keterbatasan yang terlihat, tersimpan kemampuan yang dapat berkembang apabila mendapatkan pendidikan, pendampingan, dan kesempatan yang tepat.
Sofyan Tan pun menyatakan komitmennya untuk mendukung perkembangan Yayasan Pendidikan Dwituna Harapan Baru agar manfaatnya semakin luas bagi anak-anak penyandang disabilitas. Ia juga membuka kesempatan bagi lulusan SMA dari yayasan tersebut untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Satya Terra Bhinneka dengan beasiswa penuh.
Selain itu, mahasiswa yang ingin mendapatkan pengalaman sekaligus berkontribusi bagi masyarakat akan difasilitasi untuk menjalani magang sebagai relawan di SLB tersebut.
Komitmen itu menjadi harapan baru bagi anak-anak yang selama ini berjuang mendapatkan kesempatan setara. Sebab, pendidikan tinggi dan pengalaman belajar di lingkungan yang lebih luas semestinya bukan hanya menjadi milik mereka yang terlahir dengan kondisi fisik sempurna.
Di penghujung kunjungannya, Sofyan Tan menyampaikan pesan yang mengandung makna mendalam bagi seluruh hadirin. Ia mengingatkan bahwa kondisi fisik yang berbeda bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan atau dipandang sebagai aib.
Menurutnya, seseorang yang tidak dapat melihat, mendengar, atau berjalan bukan berarti kehilangan kesempatan untuk menjadi manusia yang bermartabat. Justru, kemuliaan seseorang terletak pada hati, sikap, dan perbuatannya terhadap sesama.
“Tidak ada kata bahwa kekurangan tidak bisa melihat, kekurangan tidak bisa mendengar, tidak bisa berjalan, itu merupakan satu aib. Bukan aib, itu karena cobaan,” ujar legislator Dapil Sumut 1 itu.
Ia kemudian mengajak semua orang untuk melihat manusia bukan semata-mata dari penampilan fisiknya, melainkan dari keluhuran hati dan perilakunya.
“Ada orang yang kelihatan fisiknya normal, tapi hatinya tidak normal. Bukankah lebih baik kita berjiwa normal, berhati mulia, daripada orang yang selalu menganggap dirinya sempurna, tetapi dia membawa aib dan menyengsarakan hidup orang lain?” tutur Ketua Dewan Pembina Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) itu.
Pesan itu seakan merangkum seluruh makna kunjungan hari itu. Di tengah anak-anak yang bernyanyi, menari, dan memainkan alat musik, tersimpan pelajaran berharga tentang keberanian, ketekunan, dan penerimaan terhadap sesama.
Ketika kunjungan berakhir, yang tertinggal bukan hanya kenangan tentang sebuah pertunjukan musik. Ada kesadaran bahwa setiap anak memiliki cahaya dalam dirinya. Tugas keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara adalah memastikan cahaya itu tidak padam karena kurangnya kesempatan.
Sebab, masa depan anak-anak istimewa itu tidak seharusnya ditentukan oleh apa yang tidak bisa mereka lakukan, melainkan oleh seberapa luas kesempatan yang diberikan agar mereka dapat menunjukkan apa yang mampu mereka capai.
(REL/RZD)