Oleh : Nina Irmayanti Harahap
Ilmu pengetahuan selalu berjalan beriringan dengan perkembangan peradaban manusia. Dalam sejarah Islam, ilmu pengobatan berkembang melalui pengamatan, pengalaman, dan pemikiran rasional. Para ilmuwan mempelajari bahan alam, merumuskan pengetahuan tentang obat, dan mewariskan karya yang menjadi bagian penting dalam sejarah kedokteran dan farmasi.
Ilmu pengetahuan selalu berjalan beriringan dengan perkembangan peradaban manusia. Dalam sejarah Islam, ilmu pengobatan berkembang melalui pengamatan, pengalaman, dan pemikiran rasional. Para ilmuwan mempelajari bahan alam, merumuskan pengetahuan tentang obat, dan mewariskan karya yang menjadi bagian penting dalam sejarah kedokteran dan farmasi.
Kini, sains farmasi telah berkembang jauh. Penemuan obat, bioteknologi, hingga kecerdasan buatan membuka peluang baru bagi dunia kesehatan. Sains farmasi mengalami perubahan, memungkinkan pengembangan obat yang semakin spesifik, efektif, dan terstandar.
Namun, muncul pertanyaan penting: apakah kemajuan teknologi selalu berarti kemajuan bagi kemanusiaan? Kenyataannya, obat yang efektif belum tentu mudah dijangkau semua orang. Harga yang tinggi, penggunaan obat yang tidak rasional, konflik kepentingan, dan persoalan keselamatan pasien menunjukkan bahwa keberhasilan ilmiah perlu disertai tanggung jawab moral.
Di sinilah filsafat ilmu dan bioetika memiliki peran penting. Filsafat ilmu membantu kita memahami bagaimana pengetahuan diperoleh, diuji, dan digunakan. Dalam konteks filsafat ilmu menelaah beberapa landasan ontologi membahas objek dan hakikat ilmu farmasi; epistemologi berkaitan dengan proses memperoleh dan memvalidasi pengetahuan; sedangkan aksiologi mempertanyakan tujuan serta konsekuensi moral penerapan ilmu.
Sementara itu, bioetika merupakan komponen penting dalam pengembangan sains farmasi karena mengingatkan bahwa penelitian dan pelayanan kesehatan harus menghormati manusia, memberikan manfaat, mencegah bahaya dan resiko, dan menjunjung keadilan perlindungan pasien, serta keadilan pelayanan Kesehatan dan persoalan etika semakin kompleks ketika teknologi digital dan kecerdasan buatan penemuan obat, pengolahan data kesehatan, serta pengambilan keputusan klinis.
Inovasi tersebut menawarkan efisiensi, tetapi juga menimbulkan risiko bias, ketidakjelasan tanggung jawab, dan pelanggaran privasi sehingga tanggung jawab ilmuwan farmasi memastikan integritas data, transparansi metode, keselamatan subjek penelitian, dan pengelolaan konflik kepentingan.
Perspektif Islam dapat memperkaya pembahasan tersebut. Nilai amanah, keadilan (adl), kemaslahatan (maslahah), dan perlindungan jiwa (hifz al-nafs) memberikan landasan moral bagi pengembangan ilmu farmasi.
Nilai-nilai ini sejalan dengan pentingnya keselamatan pasien, integritas penelitian, dan pemerataan akses terhadap pengobatan. Elmahjub (2023) menunjukkan bahwa etika Islam dapat berkontribusi dalam membangun kerangka etika teknologi yang lebih inklusif.
Sementara itu, Raquib dan kolega (2022) membahas relevansi etika kebajikan Islam dalam pengembangan kecerdasan buatan. Pemikiran tersebut membuka ruang untuk mendiskusikan integrasi nilai Islam dalam pengembangan sains farmasi.
Meski demikian, integrasi agama dan sains bukan berarti menggantikan bukti ilmiah dengan keyakinan. Klaim tentang khasiat suatu obat tetap harus dibuktikan melalui penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan. Nilai agama berperan dalam memberikan arah moral, sedangkan metode ilmiah digunakan untuk menguji keamanan, mutu, dan efektivitas obat.
Atas dasar itu, dapat dikembangkan sebuah kerangka konseptual yang menghubungkan tiga unsur: bukti ilmiah, bioetika, dan maqasid al-syariah. Kerangka ini dapat disebut FIBBM, yaitu integrasi Filsafat Ilmu, Bioetika, dan Berorientasi Maqasid. Tujuannya adalah mendorong keputusan kefarmasian yang tidak hanya benar secara ilmiah, tetapi juga bertanggung jawab secara etis dan bermanfaat bagi masyarakat.
Kerangka tersebut masih memerlukan pengembangan dan pengujian lebih lanjut. Namun, gagasan dasarnya penting: keberhasilan sains farmasi tidak semestinya hanya diukur dari banyaknya inovasi atau kecanggihan teknologi, melainkan juga dari sejauh mana hasilnya melindungi kehidupan dan meningkatkan kesejahteraan manusia.
Pada akhirnya, ilmu pengetahuan dan nilai kemanusiaan tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri. Sains memberikan kemampuan untuk menemukan solusi, bioetika membantu menilai tanggung jawabnya, dan nilai Islam mengingatkan bahwa pengetahuan merupakan amanah. Ketiganya dapat menjadi pijakan untuk membangun sains farmasi yang maju, berintegritas, dan berpihak pada kemaslahatan bersama.
*Penulis Adalah Mahasiswa Doktoral Farmasi Universitas Islam Indonesia dan Dosen Institut Kesehatan Delihusada Delitua*











