Oleh : Hanafis Sastra Winata
Luka merupakan rusaknya sebagian jaringan tubuh yang dapat disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul, perubahan temperatur, zat kimia, ledakan, sengatan listrik, atau gigitan hewan. Luka yang terinfeksi atau lambat menutup dapat mengganggu aktivitas dan membebani biaya pengobatan.
Di tengah kebutuhan tersebut, para peneliti melihat pada asam kandis (Garcinia xanthochymus) tumbuhan yang selama ini lebih dikenal sebagai penyedap masakan di masyarakat Minangkabau.
Kulit batangnya mengandung senyawa fenolik seperti xanthone dan flavonoid. Dalam sejumlah studi dilaporkan memiliki aktivitas antioksidan, antibakteri, dan antiinflamasi. Riset doktoral ini mengembangkan ekstrak kulit batang ini menjadi sediaan topikal untuk penyembuhan luka yang diuji secara in vivo.
Bagaimana hubungannya dengan pendidikan Islam ? Konsep ulul albab dalam QS Ali Imran 3:190-191 memberi kerangka yang menarik. Ciri utamanya adalah berpikir dan berzikir.
Berpikir tampak dalam kerja ilmiah yang mengamati fenomena alam, sedangkan berzikir hadir dalam kesadaran bahwa setiap ciptaan memiliki tujuan. Tiga pilar ilmu pengetahuan dapat dipakai untuk membaca riset ini.
Secara ontologis, objek kajian ini bersifat material dimana senyawa aktif, jaringan kulit, dan proses regenerasi sel. Islam mengingatkan bahwa realitas tidak berhenti pada yang terlihat (QS Al-Haqqah 69:38-39).
Ada dimensi non-material berupa niat, amanah, dan tanggung jawab moral seorang peneliti. Secara epistemologis, ilmu diperoleh lewat pendengaran, penglihatan, dan hati (QS An-Nahl 16:78).
Pendengaran berarti belajar dari literatur dan pengetahuan tradisional, penglihatan berarti observasi dan pengujian laboratorium, sedangkan hati berarti kejujuran data dan kepedulian terhadap kesejahteraan hewan uji.
Secara aksiologis, tujuan ilmu adalah manfaat dimana Allah tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia (QS Ali Imran 3:191). Kulit batang yang sering dianggap limbah ternyata berpotensi menjadi bahan terapi.
Lima semangat ulul albab juga terasa dalam proses riset. Integrasi tampak ketika seorang farmasi, biologi, dan nilai keislaman berjalan bersama tanpa dikotomi. Sensitivitas berarti peka membaca tanda-tanda alam dan kearifan lokal yang menyimpan petunjuk awal.
Relevansi menuntut hasil riset benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat dalam halnya perawatan luka yang terjangkau dan berbahan lokal. Imajinasi mendorong inovasi dari ekstrak mentah menuju topikal yang praktis, melekat baik, dan melepaskan zat aktif secara terkendali, sebagai bagian dari upaya menyiapkan masa depan yang lebih sehat.
Terakhir, independensi menjaga sikap hati-hati, klaim khasiat harus dibuktikan dengan data, bukan sekadar tradisi atau popularitas. Semangat verifikasi dalam QS Al-Hujurat 49:6 sejalan dengan prinsip uji ilmiah yang ketat.
Pada akhirnya, penelitian ini adalah dua bentuk ibadah yang berjalan beriringan. Secara vertikal ini menjadi cara mengenal kebesaran Allah lewat keajaiban tumbuhan dan proses penyembuhan tubuh.
Secara horizontal ini menjadi ikhtiar menghadirkan manfaat bagi sesama, sejalan dengan nilai menolong dan berbuat baik yang ditekankan dalam QS Ar-Ra’d 13:20-22.
Sehingga pendidikan Islam di perguruan tinggi tidak harus hadir hanya di ruang kajian agama. Ia dapat hadir di laboratorium, ketika seorang peneliti menimbang bahan, mencatat data dengan jujur, dan berharap ilmunya menjadi jalan kesembuhan bagi orang lain.
*Penulis adalah Mahasiswa Doktoral Farmasi Universitas Islam Indonesia dan Dosen Institut Kesehatan Helvetia Medan*











