KTNA Apresiasi 2 Tahun Prabowo, Acungkan 2 Jempol untuk Mentan Amran: Swasembada Pangan Tercapai Setahun (Analisadaily/Ist)
Analisadaily.com, Jakarta - Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional menyampaikan apresiasi dan kebanggaannya terhadap dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai telah menghadirkan perubahan nyata bagi petani Indonesia.
Berbagai persoalan mendasar di lapangan, mulai dari ketersediaan pupuk, kepastian harga gabah, hingga dukungan sarana dan prasarana produksi pertanian, kini telah teratasi.
Ketua Umum KTNA Nasional HM Yadi Sofyan Noor menegaskan, kebijakan pembangunan pertanian selama dua tahun terakhir benar-benar dirasakan manfaatnya oleh petani. Perubahan tersebut bukan sekadar tercatat dalam program pemerintah, melainkan terlihat langsung dalam aktivitas budidaya hingga panen.
“Kalau kita bicara pertanian, selama dua tahun ini apa yang dilakukan untuk pembangunan pertanian betul-betul terasa bagi kita. Baik urusan pupuk, HPP gabah, maupun sarana dan prasarana operasional di lapangan, seperti alat dan mesin pertanian, pompa, serta irigasi,” ujar HM Yadi Sofyan Noor dalam program Bincang Tipis-Tipis yang dipandu host Erman Tale Daulay di kanal Tale Trias Info, Selasa (20/10/2026).
Menurut Sofyan, persoalan yang selama ini menjadi kekhawatiran petani perlahan dapat diatasi. Petani kini lebih mudah memperoleh pupuk, mendapatkan dukungan peralatan produksi, dan memiliki kepastian harga yang lebih baik ketika panen tiba.
Ia secara khusus menyoroti kebijakan penurunan harga pupuk sebesar 20 persen yang dinilainya membantu meringankan beban biaya produksi. Sementara itu, penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp6.500 per kilogram memberikan pegangan bagi petani agar tidak terus-menerus dihantui kekhawatiran harga anjlok saat panen raya.
“Dulu pupuk langka, sekarang tidak langka lagi seperti dulu. Harganya juga diturunkan 20 persen sehingga lebih terjangkau untuk persiapan produksi. Kalau panen, petani juga tidak lagi setakut dulu terhadap harga yang jatuh,” katanya.
Bagi KTNA, keberhasilan mengatasi persoalan mendasar tersebut merupakan fondasi penting untuk memperkuat ketahanan pangan, mewujudkan kedaulatan pangan, sekaligus membangun kemandirian pangan nasional.
Swasembada pangan, target empat tahun, terealisasi dalam setahun, Sofyan menilai arah kebijakan Presiden Prabowo yang menempatkan kemandirian bangsa dan swasembada pangan sebagai agenda strategis mulai menunjukkan hasil konkret. Salahsatu indikator yang disorotnya adalah kondisi persediaan beras nasional yang dinilainya aman.
Dalam wawancara tersebut, ia menyebut stok beras nasional masih berada di kisaran 5,2 juta ton. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu gambaran penting kemajuan menuju kemandirian pangan, meskipun keberlanjutan produksi dan stabilitas pasokan tetap harus dijaga.
Sofyan juga menyoroti pencapaian swasembada pangan yang menurutnya dapat direalisasikan jauh lebih cepat daripada perkiraan awal pemerintah.
Ia mengungkapkan, ketika pemerintahan Presiden Prabowo dimulai, target swasembada pangan semula dibicarakan dalam rentang waktu empat tahun. Namun, berdasarkan perhitungannya, kebutuhan tambahan produksi untuk menutup kekurangan beras saat itu relatif dapat dikejar melalui optimalisasi lahan, peningkatan produktivitas, dan pengaktifan kembali lahan-lahan pertanian yang belum dimanfaatkan secara maksimal.
“Waktu Presiden memulai pemerintahan dua tahun yang lalu, targetnya swasembada dalam empat tahun. Saya waktu itu bertanya, kok empat tahun? Padahal, menurut perhitungan kami, kekurangan yang harus ditutup sebenarnya tidak terlalu besar dan bisa dikejar,” ungkapnya.
Ia menyebut optimalisasi lahan, termasuk pengembangan kawasan pertanian di Sumatera Selatan dan pengaktifan lahan yang sebelumnya belum produktif, sebagai bagian dari upaya mempercepat pencapaian target tersebut.
Bagi KTNA, percepatan ini memperlihatkan bahwa swasembada pangan bukan sekadar cita-cita jangka panjang. Dengan perencanaan yang tepat, dukungan sarana produksi, optimalisasi lahan, dan eksekusi yang kuat, target tersebut dapat dikejar lebih cepat, yakni dalam setahun.
Dua Jempol untuk Mentan Amran, Eksekutor yang Bekerja di Lapangan
Di balik apresiasinya terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo, Sofyan secara khusus memberikan dua jempol kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Ia menilai Amran memiliki keunggulan sebagai pemimpin yang tidak berhenti pada perencanaan, tetapi mampu mengeksekusi program dan memastikan hasilnya dirasakan petani.
Menurut Sofyan, percepatan pencapaian swasembada pangan menjadi salah satu alasan utama KTNA memberikan apresiasi tersebut.
“Beliau memang eksekutor. Itu yang kami lihat sebagai kelebihan beliau. Kami tidak akan membanggakan seseorang kalau kinerjanya tidak benar, tetapi beliau membuktikannya di lapangan,” tegas Sofyan.
Ia menekankan bahwa penilaian terhadap kinerja Menteri Pertanian harus didasarkan pada bukti nyata, bukan sekadar pernyataan atau angka di atas kertas.
Petani, menurutnya, dapat menilai langsung apakah pupuk mudah diperoleh, apakah harga gabah sesuai dengan kebijakan pemerintah, dan apakah sarana produksi tersedia untuk mendukung kegiatan tanam hingga panen.
Dukungan alat dan mesin pertanian, mulai dari traktor untuk pengolahan lahan hingga combine harvester untuk panen, menjadi bagian dari perubahan yang dirasakan petani.
“Jangan kita memuji orang tanpa dasar. Pembuktiannya ada di lapangan. Kalau ingin tahu benar atau tidak, turunlah ke lapangan dan tanyakan kepada petani,” ujarnya.
Sofyan mengakui bahwa dalam pelaksanaan kebijakan pemerintah, masih mungkin terdapat petani yang belum sepenuhnya puas. Namun, ia menilai kinerja harus dilihat secara menyeluruh, berdasarkan manfaat yang dirasakan petani secara umum.
Kesejahteraan petani menjadi ukuran keberhasilan. Selain peningkatan produksi dan pencapaian swasembada, Sofyan menegaskan bahwa kesejahteraan petani harus menjadi ukuran utama keberhasilan pembangunan pertanian.
Ia menyoroti perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) yang menurutnya meningkat dari kisaran 110–112 hingga mencapai sekitar 124 dan kemudian 130. Angka tersebut, jelasnya, menjadi salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat perkembangan daya beli dan kondisi ekonomi petani.
Data NTP yang dipublikasikan Badan Pusat Statistik (BPS), menurut Sofyan menjadi rujukan penting dalam menilai apakah kebijakan pertanian benar-benar memberikan dampak ekonomi bagi pelakunya.
“Setiap kesejahteraan petani itu ada ukurannya. Salah satunya NTP. Ketika angkanya meningkat, itu menjadi salah satu indikator bahwa kondisi pendapatan petani membaik,” katanya.
Karena itu, ia berharap kebijakan pertanian tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga memastikan usaha tani semakin ekonomis, menguntungkan, dan berkelanjutan.
KTNA Bangun Laboratorium Lapangan, Petani Harus Belajar Melalui Praktik
Dalam wawancara tersebut, Sofyan juga menjelaskan peran KTNA dalam memperkuat kapasitas petani melalui pengembangan laboratorium lapangan di Cianjur, Jawa Barat, dengan luas kawasan sekitar 14,5 hektare.
Kawasan Addrienta Farm yang dikembangkan KTNA tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi petani untuk mengenal dan mempraktikkan teknologi pertanian modern, baik di sektor tanaman pangan, perkebunan, hortikultura, maupun perikanan.
Menurut Sofyan, petani tidak cukup hanya dibekali teori. Mereka harus melihat, mencoba, dan menguasai teknologi secara langsung agar mampu meningkatkan produktivitas dan menyesuaikan diri dengan perkembangan pertanian modern.
“Kami membuat kawasan yang kami sebut laboratorium lapangan. Di sana berbagai teknologi pertanian kami tampilkan dan kami ajarkan kepada petani yang ingin belajar. Kalau tidak praktik, tidak bisa. Ini bukan sekadar teori, tetapi harus diajarkan melalui praktik,” jelasnya.
Inisiatif tersebut sejalan dengan upaya KTNA memperkuat regenerasi petani dan menyiapkan sumber daya manusia pertanian yang lebih terampil, produktif, dan mampu mengembangkan usaha secara profesional.
Bagi KTNA, peningkatan produksi harus berjalan beriringan dengan penguatan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan kewirausahaan petani. Hulu kuat, hilirisasi bergerak, petani memperoleh nilai tambah.
(KAH/RZD)