Oleh: Hendri Koeinata
Bab 8
Hati Fransisca tercekat. Langkah-langkahnya terhambat di tangga tatkala dilihatnya papa mamanya duduk di ruang keluarga sambil bercanda ria dengan Fendy.
Fendy yang sedang tertawa menangkap kehadirannya. “Fransisca! Kebetulan sekali kau turun. Aku pikir kau takkan menemuiku lagi sejak insiden minggu lalu.” Fendy tersenyum sinis. Sepertinya ia telah berhasil menyakinkan papa Fransisca. “Malam ini aku datang ingin membicarakan masalah pernikahan kita. Masalah yang serius seperti ini, kau juga harus ikut dengarkan.”
“Tidak!” Fransisca menyerbu ke hadapan papa mamanya. “Apa-apaan ini, Papa?”
“Fendy sudah menceritakan semuanya. Apa kau pikir Papa akan membiarkan putri kesayangan Papa jatuh ke tangan berandalan seperti itu? Dia bahkan melukai leher dan tangan Fendy dengan pisau. Untung saja lukanya tak dalam. Kalau terjadi apa-apa dengan Fendy, apa kau bisa bertanggung jawab?”
“Itu hanya sandiwara saja. Kau yang telah menyuruh anak buahmu memukul Kak Sudirman!” teriak Fransisca menuding Fendy. “Dari mana kau bisa membayar orang-orang yang pandai berkelahi seperti itu? Kau pasti memiliki tujuan yang tak baik!”
“Fransisca! Kau tak mencintaiku, itu tak apa-apa. Aku tetap akan menerimamu dengan tangan terbuka. Kau memfitnahku dan menuduhku atas apa yang tak kulakukan, itu tak apa-apa. Setidaknya, sekarang bersikap jujurlah di hadapan papa mamamu!”
“Sudah!” suara Hendri Utomo berdentum. “Papa dan Mama sudah sepakat. Kau akan menikah dengan Fendy Sabtu depan. Jangan berharap kau bisa melangkahkan kakimu keluar dari pintu itu dalam satu minggu ini! Apa pun yang kauperbuat dan yang kaukatakan, Papa tak akan percaya. Berhentilah berpikir macam-macam!”
“Tidak!” air mata si gadis mulai mengalir keluar. “Kalian tak pernah memedulikan kebahagiaanku. Kalian telah menukar kebahagiaanku dengan harta benda dan materi. Aku sangat mencintai Kak Sudirman. Kalau aku tak bisa bersamanya, lebih baik aku mati!” suaranya melengking tinggi dan memancing para pelayan untuk menguping pembicaraan itu.
Plak! Satu tamparan mendarat di wajah Fransisca. Fendy pura-pura melindungi. Nafas Hendri Utomo terlihat memburu.
“Dia hanyalah pengawal pribadi direktur di bank tempat Mama bekerja.” Saronita ikut bicara dengan mata menyala-nyala. “Dia tak bisa memberikan kebahagiaan yang biasanya kaunikmati. Berpikirlah realistis! Kau pikir kau bisa kenyang hanya dengan menelan cinta? Kalau cinta bisa dimakan, lebih baik Mama nikahkan kau dengan seorang tukang sampah saja! Fendy begitu mencintaimu tapi kau malah melukainya bukan hanya secara fisik tetapi juga secara mental.”
“Tak kusangka sebelumnya bahwa kalian begitu egois. Aku benar-benar tak habis pikir papa mamaku sendiri bisa berbuat demikian terhadapku. Ternyata masalah ini tak sesederhana yang kuduga.” Lalu ia berpaling ke Fendy. “Jangan mengira kau akan menang dengan begitu mudah! Dengan melakukan hal ini, kau malah menunjukkan sisi lemahmu. Aku takkan menikah dengan orang yang menjijikkan sepertimu!”
“Kau...!” Fendy sudah tak bisa membuka mulut lagi karena si gadis sudah menghilang ke lantai atas.
“Bersabarlah, Fendy! Pernikahan ini tetap akan dilaksanakan. Kami akan berusaha membuka pikirannya agar ia tahu mana yang terbaik buatnya,” kata Saronita disertai dengan anggukan dari suaminya.
“Baiklah!” Fendy tersenyum sinis. “Aku percaya Om dan Tante takkan mengecewakan aku.”
***
Ponsel Paramita berdering. Begitu ia menjawabnya, suasana romantis kafe itu berubah menjadi mencekam. “Ternyata kau tak lupa dengan apa yang kauucapkan minggu lalu ya?” kata Paramita dengan mata mendelik tajam.
“Besok jam dua belas tepat di Hotel A. Aku akan menunggumu di restoran hotel itu. Siapkanlah data yang kuinginkan. Jika tidak, Ridwanto akan segera tahu siapa kau sebenarnya,” terdengar tawa kemenangan di seberang.
Paramita memutuskan hubungan komunikasi. Dia membanting ponselnya ke atas meja, menyebabkan minuman di hadapannya sedikit bergoncang.
“Aku tak bisa memberikan data itu kepadanya. Aku harus melakukan sesuatu. Aku tak mau diperas oleh perempuan brengsek itu seumur hidupku.” Paramita teringat seseorang. Dia mengambil ponselnya lagi dan menekan beberapa angka.
“Hallo! Setelah enam tahun lamanya, akhirnya aku memiliki tugas yang kedua untukmu. Pertama, aku ingin kau menghajar seseorang besok siang di Hotel A. Kalau dia masih melawan, bunuh saja dia! Nanti kau akan kuberikan fotonya. Kedua, aku ingin kau membelikanku sepucuk pistol sebagai alat jaga-jaga. Kali ini uang yang kau terima akan melebihi apa yang kauperkirakan. Hiii… hiii...! Selamat bekerja!”
***
“Aku turut prihatin atas apa yang terjadi denganmu, Sudirman,” kata Ridwanto begitu ia melihat kemunculan Sudirman di ruangannya pagi itu. Dia segera membantu Sudirman untuk duduk. “Untuk beberapa hari ini kau boleh mengambil cuti. Aku tak keberatan. Aku akan memberi tahu bagian keuangan untuk tak memotong gajimu.”
Kepala Sudirman yang masih dibalut perban mulai berdenyut-denyut. “Apa kau bilang? Kok gaya bicaramu seperti seorang atasan yang berbicara dengan bawahannya? Aku ini sahabatmu, Ridwanto! Gara-gara ingin membantumu, aku melepaskan pekerjaanku yang dulu. Melihatku dalam keadaan seperti ini, apakah kamu sama sekali tak iba?”
Hati Ridwanto tercekat. Dia menyadari kesalahan kata-katanya. “Maafkan aku, Sudirman! Selain menghiburmu, aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Aku tak berhak ikut campur dalam kehidupan pribadimu.”
“Menghibur?” Sudirman tersenyum palsu. “Kau malah membuatku semakin sadar betapa tak bergunanya aku apabila dibandingkan denganmu. Dengan menjentikkan jari saja, kau bisa mendapatkan Paramita dan gadis cacat itu. Aku harus berkorban dan pengorbananku itu belum tentu akan membuat Fransisca berpaling padaku. Kau tahu mengapa Budiman sangat tak menyukaimu? Sekarang, aku mulai memahami perasaannya.”
“Jangan berkata seperti itu tentang Silvana! Kemarin malam kau tak bersamanya jadi, kau tak mengerti penderitaannya.” Ridwanto menarik kerah baju Sudirman. Emosinya mulai meluap.
“Lantas, apakah kau mengerti penderitaan Paramita yang terus menunggumu selama ini? Kau adalah laki-laki kurang ajar! Kau tak pedulikan pengorbanan Paramita dan malah berbalik arah mengejar gadis cacat itu!”
Satu tinju melayang ke wajah Sudirman. Kepala Sudirman mulai berdarah. Namun, emosi telah membuat Ridwanto tak menghiraukannya. “Pergi! Enyah dari hadapanku sekarang juga!” teriaknya.
“Jangan khawatir! Kau tahu apa tujuanku ke sini? Aku ingin menyerahkan surat pengunduran diri!” Setelah melemparkan surat itu ke wajah Ridwanto, ia langsung menghilang di balik pintu.
***
Juliaty mulai resah ketika ia melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul setengah satu. Dia meneguk arak yang dihidangkan di hadapannya. Ini sudah gelas ketiga. Emosinya mulai memuncak. Dia meneguk habis arak itu, beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah toilet. Juliaty mengeluarkan ponselnya dari tas. Dia menekan beberapa tombol tetapi yang didengarnya adalah pemberitahuan bahwa nomor yang dituju sedang tidak aktif.
Dengan kesal, ia mendorong pintu toilet. Begitu ia melangkah ke dalam toilet, sebuah kain putih yang sudah dilumuri obat bius ditempelkan oleh sebuah tangan ke hidung dan mulutnya. Dia tercekat, berusaha melawan, namun kesadarannya sudah direnggut oleh obat bius itu. Dia tenggelam semakin dalam kegelapan pekat tak berujung.
Dia berusaha mencari jalan keluar. Dia memegang dinding kegelapan yang menyelimutinya. Dia berteriak minta tolong tetapi tak ada yang mendengar teriakannya. Dengan susah payah dia memanjat dinding kegelapan mencari cahaya.
Akhirnya dia berhasil melihat cahaya. Namun, di balik cahaya itu dilihatnya tiga lelaki yang memandanginya yang terikat di tempat tidur dengan penuh nafsu. Juliaty mulai menjerit begitu pakaiannya dicabik satu per satu. Akan tetapi, dia malah mendapat tamparan maut yang langsung membuatnya pasrah menerima apa yang akan dia terima.
***
“Aku datang ke rumahmu tadi, tetapi kata Tante Darny kau sudah berangkat pagi-pagi sekali,” kata Paramita seraya berjalan masuk dengan gaya yang menantang dan duduk di lengan kursi Ridwanto. “Kelihatannya kau memiliki satu masalah. Katakanlah! Mungkin aku bisa membantu.”
“Untuk apa kau datang ke sini?” tanyanya dingin.
“Aku datang karena ingin bertemu denganmu. Apakah datang saja aku harus mencari sebuah alasan?” suaranya mulai berubah menjadi sayu.
Dia ingin mendaratkan satu ciuman ke bibir sang kekasih tetapi dia malah menghindar.
“Kalau yang duduk di sini adalah gadis bisu itu, kau pasti akan menyambutnya tanpa pikir dua kali. Kau baru bertemu dengannya sekali tetapi dia sudah bisa membuatmu tergila-gila seperti ini,” kata Paramita dengan mata tajam.
“Jangan bicara sembarangan! Aku tak punya perasaan apa-apa terhadap Silvana! Aku hanya kasihan padanya,” kata Ridwanto berusaha menghindari kepastian yang semakin lama semakin jelas di hatinya.
“Kasihan? Atas dasar apa kau kasihan padanya? Apakah kau tak kasihan padaku yang telah menunggumu selama enam tahun? Apakah semua waktu yang kuberikan selama ini tak berharga?” air matanya mulai menggenang.
Ridwanto tercengang. Di satu sisi ia merasa bersalah terhadap Paramita. Enam tahun sudah berlalu. Selama ini ia terus berusaha membalas perasaan Paramita terhadapnya. Akan tetapi ia tak berhasil. Begitu ia menyadari ketidakberhasilannya, muncul bayangan wajah Silvana yang memikat hatinya. Gadis itu sungguh cantik! Muncul keinginan dalam dirinya untuk bertemu dengan gadis itu lagi.
“Maafkan aku, Paramita!” Ridwanto menyambar jasnya dan berlalu melewati Paramita yang berlinang air mata.
***
Bab 9
Mobil Ridwanto berlalu dengan kencang. Begitu mencapai rumah Shella, dia menginjak rem kuat-kuat. Terdengarlah bunyi gesekan antara ban mobil dengan aspal yang mengejutkan penghuni rumah. Dewi menyingkapkan tirai jendela untuk melihat siapa yang turun dari mobil. Dari tampang dan penampilannya yang memakai jas panjang kelihatannya ia bukan orang jahat. Dewi membuka pintu setelah mendengar dua ketukan.
“Saya teman Silvana, Bu. Bolehkah saya bertemu dengan Silvana?” Ridwanto memamerkan sebaris gigi yang putih bersih.
Dewi menganga. Ia bertukar pandang dengan suaminya untuk sesaat. Saat bersamaan Shella muncul dari balik gorden yang memisahkan ruang tengah dengan ruang dapur. Ia kebingungan mengenali suara tamu ini. Begitu tatapan Ridwanto menangkap bayangan wanita yang dirindukannya, ia langsung mangambil dua langkah lebar, menangkap tangan Shella dan membawanya keluar dari rumah itu dengan senyuman lebar.
“Astaga! Suman! Siapa orang itu? Dia telah membawa kabur Silvana dengan begitu cepat. Bagaimana kita menjelaskannya kepada Budiman nanti?” kata Dewi panik.
“Semoga saja Shella baik-baik saja! Kau tak bisa melawannya apalagi diriku yang masih belum sembuh total ini. Apakah kau melihat potongan tangannya yag kekar tadi? Kelihatannya, Silvana sangat penting baginya. Dia takkan melukai Silvana,” ujar Suman.
Dalam perjalanan, tangan Ridwanto terus memegangi tangan sang kekasih. Dia semakin yakin bahwa perasaan yang mengendap-endap di dalam batin selama ini adalah sebentuk cinta dalam kebisuan. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia takkan melepaskan tangan ini lagi.
“Mengapa Black tiba-tiba memegangi tanganku seerat ini? Mengapa dia tiba-tiba membawaku keluar kabur dari rumah? Terus terang, aku merasa sangat bingung sekaligus takut. Apakah ini cinta? Jika ini adalah cinta, mengapa sekarang yang kukhawatirkan itu justru adalah Budiman? Bagaimana perasaannya jika dia tahu bahwa aku dibawa kabur oleh seorang laki-laki asing? Maafkan aku, Budiman! Dalam ketidaksempurnaanku seperti sekarang, aku tak bisa berbuat apa-apa.”
Mobil berhenti di sebuah tempat. Dengan perlahan-lahan Ridwanto menuntun Shella turun dari mobil. Shella mendengar suara perpaduan antara kicauan burung-burung dengan melodi cinta yang dibawa oleh air sungai yang mengalir. Entah mengapa itu mendatangkan ketenangan yang misterius dan sulit ditebak.
“Mengapa kau membawaku ke tempat seperti ini?” Shella menulis di atas papan elektroniknya. “Sepertinya kita sedang berada di hutan.”
“Kau benar. Sekarang kita berada di Sibolangit. Aku tahu kau sangat suka ketenangan. Oleh sebab itu aku membawamu ke sini. Coba pusatkan perhatianmu pada kicauan burung-burung, suara angin yang membelai daun pepohonan, embun pagi yang sejuk dan panasnya sinar Matahari pagi!” balas Ridwanto sambil memandang Shella dengan penuh arti.
Shella berusaha tersenyum. Akan tetapi, di sisi lain jantungnya berdegup semakin kencang menyadari betapa dekatnya dia dengan Black. Akan tetapi, dia tak menjauh melainkan tetap berdiri di tempatnya.
“Kita tak boleh seperti ini, Black.” Shella menulis setelah ia berhasil mendorong lelaki itu dengan lembut.
“Mengapa? Kau tak bisa membohongiku. Kalau kau tak punya perasaan yang sama, kau takkan mau menurut dengan mengikutiku ke sini.”
“Kita berasal dari dunia yang berbeda. Maafkan aku, Black! Aku tak bisa mengambil risiko mendorongmu ke limbah kehancuran bersamaku.” Silvana memalingkan wajahnya ke arah lain.
Ridwanto merasa sungguh kecewa! Apa yang diharapkannya ternyata tak terjadi. Silvana tak menerimanya dengan tangan terbuka, dengan pelukan hangat yang penuh cinta.
Bersambung Minggu depan











