Antara Kemunduran Menyenangkan dan Kemajuan Menyakitkan Ekonomi Jepang

Tokio, (Analisa). “Resesi,” “stagnasi,” “kemerosotan,” adalah gambaran tidak menyenangkan yang selalu saya baca tentang Jepang sebelum saya pindah ke Tokio akhir 2009, kata Jacob M. Schlesinger, koresponden senior untuk Wall Street Journal. Setelah terbiasa dengan lingkungan setempat, kata-kata yang jauh lebih baik agaknya adalah “kaiteki,” yang artinya “menyenangkan,” dan menyampaikan segala kebaikan seperti nyaman, dapat dipercaya, aman, bahkan mempesona, katanya.

Saya sempat bingung oleh perbedaan antara persepsi dunia tentang Jepang dan perasaan tentang kemakmuran luar biasa di sini -- dibandingkan tidak hanya dengan era-penggelembungan Jepang yang saya lihat ketika saya tinggal di sini 20 tahun sebelumnya, namun juga dengan Amerika yang saya alami di antara itu selama masa boomingnya pula, kata Schlesinger.

Tokio dalam resesi menunjukkan tiada yang sukar seperti yang diperkirakan di AS dan Eropa, karena tak nampak keadaan penuh sesak di depan toko-toko, tiada penumpukan sampah, pengemis, stasiun-stasiun bawah tanah yang kotor atau tanda-tanda adanya kejahatan serius di jalanan. Yang saya lihat, Tokio cukup bersih dan menarik selama “dekade yang hilang” yang saya tinggalkan, katanya.

Selama saya meliput kekacau-balauan politik dan ekonomi untuk Wall Street Journal dalam lima tahun terakhir, inilah yang saya lihat untuk menegaskan ketegangan di negara itu, yakni deflasionisme melawan reflasionisme, dua visi yang sebenarnya sangat berbeda tentang masa depan Jepang.

Deflasionisme, katanya, menekankan tentang stabilitas, memandang demografi sebagai takdir, dan percaya bahwa populasi manula Jepang yang menciut akan mendikte ekonomi yang stagnan, tak terelakkan. Respon mereka ialah memperkecil risiko, gangguan dan perpecahan untuk membuat transisi senyaman mungkin -- seperti sebuah negara yang merencanakan masa pensiun. Reflasionis menganggap pandangan itu sebagai kekalahan yang tidak perlu. Bagi mereka, risiko dan gangguan adalah harga yang harus dibayar untuk masa depan yang jauh lebih ekspansif dan dinamis.

Deflasionis menggoncangkan selama sebagian besar masa dua dekade terakhir. Sementara reflasionis berkuasa selama dua tahun di bawah PM Shinzo Abe. Setelah awalnya mengalami popularitas tinggi, Abe yang berhadapan dengan peningkatan kesangsian, meminta diselenggarakannya pemilu 14 Desember sebagai sebuah referendum nasional untuk menghidupkan kembali programnya yang dikenal dengan Abenomics. Pemungutan suara akan mengkalibrasi kembali keseimbangan kekuatan antara filosofi yang memerintah, membantu memutuskan tidak hanya arah ekonomi Jepang, tapi juga peran diplomatik dan militernya di kawasan Asia-Pasifik.

Lemparan Dadu Abe: Deflasionis atau Reflasionis?

“Sebegitu jauh, paling tidak, lemparan dadu Abe belum memicu mimpi buruk mencairnya pasar deflasionis. Juga belum menciptakan pemulihan yang jelas yang dijanjikan reflasionis,” kata Schlesinger.

Keprihatinan reflasionis sampai kepada relevansi Jepang yang menciut  dalam urusan global. Tiongkok kini membanggakan ekonominya yang dua kali ukuran ekonomi Jepang. Peregangan otot yang dilakukan Beijing dengan keras terkait ketegangan teritorial antara kedua negara -- embargo ekspor bahan mentah 2010, boikot barang-barang Jepang 2012 di  pasar domestiknya -- berperan memberi sorotan, bagi reflasionis, tentang bahaya keamanan nasional karena stagnannya produk domestik bruto (PDB).

Sebagian besar dari kebijakan “tiga panah” Abenomics -- stimulus fiskal dan moneter untuk pertumbuhan jangka pendek, perubahan struktural untuk pertumbuhan jangka panjang -- sebenarnya sudah dipertimbangkan sejak lama sebelum Abe. Yang baru dari deklarasi Abe ialah reflasi menjadi prioritas utama Jepang. Deflasionis dan reflasionis umumnya sama-sama punya pengertian terhadap ganjaran dan reaksi potensial. Yang memisahkan mereka ialah toleransi mereka terhadap risiko, kata Schlesinger.

Jepang kini menerapkan stimulus dengan cara ekstrim baru, yakni: Bank sentral membeli -- dan pemerintah menerbitkan -- lebih banyak utang, yang sebanding dengan ekonomi, dibandingkan negara lain. Problema utang Jepang mendahului (masa jabatan) Abe, namun usahanya untuk meningkatkan pertumbuhan dengan menunda tahap kedua kenaikan pajak yang dilakukan oleh para pendahulu deflasionis menunjukkan tingginya kemauan untuk mencoba batas pinjaman yang menghancurkan Jepang.

Para pendahulu Abe tidak mencoba peluang itu, karena para deflasionis khawatir investor akan menyimpulkan kebijakan ekonomi menjadi lepas, hingga menyebabkan terjadinya semacam kemerosotan pasar yang membuat lemah. Memang selalu tidak mungkin mengukur kecenderungan bencana seperti itu, namun prospek yang ada menciutkan stimulus yang lebih berani.

Perdebatan belakangan ini menimbulkan dua pertanyaan besar. Pertama, dapatkah Abenomics benar-benar berhasil  dalam meningkatkan metabolisme negara? Kendati adanya komentar belakangan ini tentang “kegagalannya,” saya pikir , mungkin saja paling tidak akan berhasil moderat -- terutama dengan adanya stimulus moneter dan fiskal baru yang sekarang.

Namun, ketegangan yang sudah ada hanya akan meningkat, terutama jika reformasi struktural semakin ditekankan. (Int./sy.a)

()

Baca Juga

Rekomendasi