Oleh: Dr. Muhammad Iqbal, M.Ag. Al-Quran bukanlah buku ilmiah. Semua umat Islam tentu sepakat dengan pernyataan ini. Namun demikian, tidak sedikit ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang isyarat-isyarat ilmiah. Dari lebih enam ribu ayat Al-Quran, hampir 800 ayat di antaranya berbicara tentang isyarat ilmiah dalam berbagai aspek cabang ilmu. Al-Quran berbicara antara lain tentang lautan, gunung, awan, hujan, benda-benda angkasa, bumi, langit, hewan, tumbuh-tumbuhan, proses reproduksi manusia, sejarah, bangun dan jatuhnya suatu bangsa dan lain-lain yang menuntut manusia untuk melakukan observasi dan penelitian tentang masalah-masalah tersebut. Apa yang dibicarakan Al-Quran lima belas abad yang lalu, pada masa modern sekarang sedikit demi sedikit mulai terkuak melalui berbagai penelitian para ilmuwan. Sebagai sebuah kitab petunjuk dan pedoman hidup bagi manusia, inilah yang menjadi salah satu kekuatan Al-Quran.
Kenyataan ini diakui bukan hanya oleh umat Islam. Sebagian orientalis juga mengakui pengaruh Al-Quran selama lima belas abad ini. Dalam bukunya Mohammadanism an Historical Survey, HAR. Gibb menyatakan bahwa tidak seorang pun dalam 15 abad ini telah memainkan alat yang begitu nyaring dan luas getaran jiwa yang diakibatkannya, seperti apa yang dilakukan oleh Muhammad bersama Al-Quran yang dibawanya. Pengakuan ini memperlihatkan bahwa Al-Quran adalah kitab yang paling berpengaruh terhadap kemanusiaan sepanjang zaman.
Setidaknya, ada tiga aspek isyarat ilmiah yang diungkapkan Al-Quran. Pertama, isyarat tentang berbagai cabang ilmu pengetahuan seperti astronomi, biologi, ilmu bumi, oceanologi, zoologi, kimia dan fisika; kedua, berita tentang peristiwa masa lalu dan masa yang akan datang, seperti kisah-kisah para nabi bersama umatnya yang durhaka, Fir`aun, Haman, berita tentang kekalahan bangsa Romawi atas Persia dan kemenangannya kembali beberapa tahun berikutnya; ketiga, keserasian matematis kata-kata yang digunakan Al-Quran.
Untuk aspek yang pertama, sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sudah banyak temuan-temuan ilmiah yang dilakukan manusia. Penemuan terbaru dilakukan oleh Robert Guilhem, seorang seorang pakar genetika yang juga pemimpin Yahudi di Albert Einstein College. Ia menyatakan dengan tegas keislamannya setelah kagum dengan ayat-ayat Al-Quran yang menyatakan tentang masa tunggu wanita muslimah yang bercerai dengan suaminya (dalam bahasa fikih disebut masa `iddah) selama tiga kali suci (lebih kurang tiga bulan).
Dalam penelitiannya ia menyimpulkan bahwa hubungan intim suami istri menyebabkan laki-laki meninggalkan sidik (tanda) khususnya pada perempuan. Ia mengatakan jika pasangan suami istri (pasutri) tidak bersetubuh, maka tanda itu secara perlahan-lahan akan hilang antara 25-30 persen. Tanda tersebut akan hilang secara keseluruhan setelah tiga bulan berlalu. Dalam penelitiannya pada masyarakat Muslim Afrika di Amerika, ia menemukan setiap wanita Muslimah di sana hanya mengandung sidik khusus dari pasangan mereka saja. Penelitian serupa dilakukannya di perkampungan non-muslim Amerika. Hasilnya, wanita di sana yang hamil memiliki jejak sidik dua hingga tiga laki-laki. Ini berarti, wanita-wanita non-Muslim di sana melakukan hubungan intim juga dengan selain laki-laki yang menjadi suaminya yang sah. Setelah penelitian tersebut, ia akhirnya masuk Islam. Ia meyakini hanya Islamlah yang menjaga martabat perempuan dan menjaga keutuhan kehidupan sosial. Ia yakin bahwa perempuan muslimah adalah yang paling bersih di muka bumi ini.
Dalam aspek kedua, berita peristiwa masa lalu dan yang akan datang, penemuan-penemuan arkeologi juga telah membuktikan kebenaran Al-Quran. Bekas kejayaan bangsa `Ad yang dihancurkan Allah berhasil ditemukan pada tahun 1983 di dekat kota Aden. Jasad Fir`aun yang diselamatkan setelah ditenggelamkan di Laut Merah juga bisa disaksikan hingga hari ini di ruang Mumi Museum Mesir di Kairo. Pada tahun 1963, seorang arkeolog Yordania bernama Rafiq Wafa’ al-Dajani, menemukan gua termpat persembunyian ashhabul kahfi yang diabadikan Al-Quran dalam surat al-Kahfi. Sementara aspek keserasian matematis kata-kata yang digunakan Al-Quran, terlihat bahwa Allah sangat teliti dan cermat dalam memilih kata-kata. Terdapat keserasian dan keseimbangan bilangan kata-kata dalam Al-Quran. M. Quraish Shihab mencatat beberapa keseimbangan matematis jumlah kata-kata dalam Al-Quran, yaitu: kesimbangan jumlah kata dengan antonimnya, kata dengan sinonimnya, kata dengan kata lain yang menunjuk penyebab dan akibatnya. Sebagai contoh, kata al-hayat (hidup) dan al-mawt (mati) masing-masing berjumlah 145; kata an-naf` (manfaat) dan al-madharrah (mudarat) berjumlah 50, kata Al-Quran, wahyu dan Islâm berjumlah 70, `aql (akal) dan nur (cahaya) berjumlah 49. Kata yawm (hari) disebutkan sebanyak 365 kali, persis sebanyak hari-hari dalam setahun.
Ketiga aspek di atas semakin mengukuhkan kebenaran Al-Quran yang tidak mungkin ditulis dan dibuat-buat oleh manusia (Muhammad Saw.) sebagaimana dituduhkan oleh para pengingkarnya, sejak masa Al-Quran diturunkan hingga saat ini, bahkan hingga hari akhir nanti. Al-Quran benar-benar maha karya Allah Swt. Meskipun demikian, Al-Quran juga membuka diri untuk dikritik, ditandingi dan ditantang oleh siapa pun. Al-Quran memberi kesempatan kepada manusia yang meragukan kebenarannya untuk membuat ayat-ayat tandingan yang semisal dengannya. Tantangan Al-Quran ini berlaku untuk selamanya hingga hari kiamat.
Namun demikian, penemuan-penemuan ilmiah yang dilakukan manusia tidak boleh dijadikan dasar untuk mencari justifikasi Al-Quran. Artinya, temuan-temuan ilmu pengetahuan dan perkembangan modern teknologi sekarang tidak boleh dijustifikasi dan dipandang sebagai maksud ayat-ayat Al-Quran. Temuan-temuan tersebut hanyalah sebagai satu upaya untuk menguak isyarat-isyarat Al-Quran tentang ilmu pengetahuan dan bukan satu-satunya penafsiran terhadap Al-Quran. Karena, kalau temuan-temuan tersebut dijadikan sebagai satu-satunya penafsiran ayat-ayat kauniyah Al-Quran, maka bila di kemudian hari terjadi koreksi terhadap temuan tersebut, konsekuensinya adalah bahwa Al-Quran menjadi tidak relevan dengan ilmu pengetahuan. Namun demikian, kerangka ilmiah perlu digunakan dalam memahami ayat-ayat kauniyah Al-Quran agar pemahaman terhadap kitab suci umat Islam ini dapat lebih mendekati kebenaran dan tidak hanya sekadar dugaan atau spekulasi.
Akan sia-sia menafsirkan ayat-ayat Al-Quran tanpa didukung oleh pendekatan saintifik. Untuk dapat memahami ayat-ayat Al-Quran yang menyangkut alam serta proses alamiah di dalamnya kita harus meneliti alam dengan melakukan serangkaian usaha ilmiah (saintifik) seperti mengukur apa yang diobservasi, menganalisis data pengukuran secara kritis dan menarik kesimpulan secara rasional. Pengembangan sains justru diperintahkan Allah agar kita dapat memahami ayat-ayat Al-Quran lebih tepat dan sempurna, sehingga tampak kebesaran dan kekuasaan Allah secara lebih nyata, dan supaya kita dapat menguasai pengetahuan tentang sifat dan kelakuan alam sekitar kita dan mengelolanya demi kepentingan kemanusiaan, sebagaimana tugas kita sebagai khalifah Allah di muka bumi.
Dengan pendekatan ini, penafsiran ayat-ayat kauniyah akan lebih dapat dipertanggungjawabkan dan lebih mampu menjelaskan makna serta kandungan Al-Quran, meskipun—sekali lagi—penafsiran demikian tetap berada dalam tingkat relatif yang dapat diperbincangkan, daripada penafsiran yang hanya berdasarkan pemikiran spekulatif dan tidak didukung fakta-fakta ilmiah. Penafsiran ilmiah ini hanya salah satu alternatif saja bagi upaya pemahaman kita terhadap Al-Quran.***











