Kelestarian Hutan Kunci Sukses Beternak Lebah

Oleh: Ir. Fadmin Prihatin Malau. Kelestarian hutan kunci sukses beternak lebah madu. Apa hubungannya dengan hutan lestari? Banyak yang belum paham dan mengetahui bahwa beternak lebah madu yang kini banyak dilakukan masyarakat memiliki hubungan erat dengan kondisi hutan meskipun lokasi beternak lebah madu itu jauh dari hutan.

Hutan merupakan tempat berkembangbiak lebah madu. Bila hutan tidak ada maka tidak ada tempat berkembangbiak lebah madu. Hubungan ini harus dipahami para peternak lebah madu. Lebah tidak hanya menghasilkan madu, tetapi juga berfungsi untuk melestarikan hutan karena lebah melakukan penyerbukan berbagai jenis tanaman di hutan.

Hasil penelitian dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menilai eksploitasi berlebihan terhadap lebah bisa menyebabkan jumlah tanaman yang diserbuki lebah madu menjadi terganggu dan kalah dari tanaman lain.

Hasil penelitian ini maksudnya beternak lebah madu harus sejalan, selaras dengan kondisi hutan yang ada. Artinya, populasi lebah berhubungan atau berpengaruh dengan komposisi ekologi hutan.

Hal itu karena lebah dan tanaman memiliki hubungan yang mesra. Bila hutan tidak lestari atau hutan hancur maka lebah madu yang diternakkan tidak memiliki habitat yang cocok dengan lebah dan lebah-lebah itu bisa terancam punah.

Bila begitu maka kunci sukses beternak lebah madu tergantung dari kondisi hutan yang lestari atau masih adanya tersedia hutan. Bila tidak maka akan sulit mengembangkan atau beternak lebah sebab lebah habitatnya adalah hutan.

Penggundulan Hutan

Penggundulan hutan terjadi setiap saat mengancam populasi lebah madu karena habitatnya sudah hilang. Pada hal lebah madu itu menjaga dan melestarikan hutan sebab kehadiran lebah madu di hutan membantu penyerbukan berbagai tanaman hutan.

Kini luas hutan terus berkurang dan terjadi perubahan iklim akan menjadi tantangan berat bagi para peternak lebah madu. Luasan hutan terus berkurang dan suhu terus meningkat membuat serangga lebah madu sulit hidup karena serangga ini hanya bisa hidup pada suhu 27 hingga 32 derajat Celcius.

Lebah madu masuk jenis serangga akan tetapi bukan serangga hama yang justru cocok untuk perubahan suhu sebab mempunyai pertahanan tubuh yang baik. Suhu semakin panas hanya cocok buat serangga hama atau serangga perusak. Misalnya, serangga hama wereng yang cepat berkembangbiak ketika terjadi perubahan iklim.

Berdasarkan penelitian para arkeolog lebah madu di dunia ini sudah ada pada zaman tertier atau 56 juta tahun lalu. Hal ini dapat dilihat gambar lebah madu jantan sedang istirahat diatas bunga teratai pada Mitologi Hindu sebagai simbol Dewa Wisnu yang merupakan lambang kehidupan dan perdamaian.

Sedangkan pemeliharaan lebah madu sudah ada 3000 tahun Sebelum Masehi (SM) yang dilakukan Bangsa Mesir kuno dengan membudidayakan lebah madu di sekitar Sungai Nil. Sementara perkembangan budidaya lebah madu di Indonesia dipelopori oleh Rijkeuns seorang Bangsa Belanda tahun 1841.

Budidaya lebah madu kala itu sangat tradisional dengan cara merusak atau membakar sarang lebah madu. Sementara di negara lain yakni Australia, Jerman, Rumania, Mexico, India, Jepang dan Tiongkok sudah lebih maju dengan memeliharanya.

Cara tradisional ini karena Indonesia memiliki hutan alam yang luas (sekitar 200 Juta hektar) dengan beraneka jenis tanaman yang berbunga sepanjang tahun maka budidaya lebah madu sangat alami.

Kondisi ini terus berlangsung sampai Indonesia merdeka. Namun, cara tradisional itu kurang menguntungkan sebab tidak maksimal karena yang diperoleh hanya madu saja sedangkan royal jelly, tepung sari (bee pollen), lilin dan perekat (propolis) tidak diperoleh. Pada hal produk ini mempunyai nilai ekonomi yang sangat baik karena dapat memperbaiki kebutuhan gizi manusia dan dapat meningkatkan pendapatan peternak lebah.

Sedangkan untuk lingkungan para peternak lebah madu secara tidak langsung telah melestarikan lingkungan dan melestarikan sumber daya hutan, meningkatkan produktivitas tanaman sehingga tercipta hubungan simbiosis saling menguntungkan.

Proses simbiosis saling menguntungkan tercipta yakni tanaman menghasilkan bunga yang mengandung nektar dan tepung sari sebagai makanan lebah, sedangkan lebah  madu membantu proses penyerbukan bunga tanaman.

Sayangnya jika luasan hutan setiap hari berkurang (hilang) maka proses simbiosis ini tidak dapat berlangsung maksimal. Kelestarian hutan merupakan modal dasar dari keberhasilan beternak lebah madu.

Melestarikan lingkungan, terutama hutan yang berkaitan dengan proses pelestarian sumber daya hutan, peningkatan produktivitas tanaman sangat dibutuhkan agar tercipta hubungan simbiosis saling menguntungkan.

Kondisi lingkungan yang lestari harus diciptakan agar menguntungkan manusia secara umum dan khususnya bagi para peternak lebah madu. Hal ini sudah dirasakan masyarakat desa Lintong Nihuta, Kecamatan Ronggur Nihuta, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara sebagai peternak lebah madu.

Alman Simbolon (34) kepada penulis mengakui kondisi hutan Samosir yang sudah gundul memengaruhi hasil ternak lebah madu. Diakui Simbolon membudidayakan lebah madu harus didukung dengan kelestarian hutan maka masyarakat Samosir sangat menyayangkan kondisi hutan Samosir yang rusak.

Hutan alami membuat semakin banyak produksi madu, royal jelly, tepung sari (bee pollen), lilin dan perekat (propolis) karena ada tempat berkembangbiak lebah madu, ”Beternak lebah merupakan pekerjaan yang membutuhkan keseriusan. Bila tidak, maka hasil yang diperoleh tidak maksimal. Masih banyak kendala yang dihadapi,” katanya.

Menurut lelaki pencinta lingkungan ini, kendala pengembangan budidaya ternak lebah madu sekarang ini disebabkan masih kurangnya kesadaran, motivasi dan kerajinan masyarakat untuk beternak lebah madu. Buktinya masih sedikit yang mau bergabung dalam kelompok tani peternakan lebah madu dan mencintai lingkungan.

Diceritakannya, tentang proses pembuatan kandang lebah madu yang dikenal dengan nama stoope. Kandang lebah madu cukup menggunakan kawat bekas tali close mesin sepeda motor, triplek sebanyak 8 sisiran. Artinya, triplek itu dipotong-potong memanjang dengan panjang 26 sentimeter, lebar 2 sentimeter, tinggi 30 sentimeter dan paku kecil secukupnya.

”Hemat dan praktis. Pemakaian kandang lebah (stoope) cukup lama sebab tahan lama. Artinya, selama lebah masih ada di dalamnya tentu stoope terus digunakan,” katanya menandaskan.

Dalam kandang yang sederhana itu, kata Simbolon satu ratu lebah berada dalam setiap satu kloni atau satu stup. Biasanya ada tiga kelompok lebah, yaitu kelompok pekerja, kelompok pejantan dan ratu lebah. Umur ratu lebah sangat panjang sampai 7 tahun, sedangkan umur lebah pekerja sangat singkat, hanya 48 hari saja, lalu kemudian lebah-lebah pekerja itu mati.

Kandang lebah madu (stoope) ditempatkan tinggi dari tanah. Mengapa? Karena untuk menghindari hama berupa serangan binatang pengganggu dan gulma-gulma. Hama atau musuh lebah adalah semut hitam, semut merah yang halus, semut-semut kecil dan kecoa.

Dalam satu stoope, madu yang bisa dihasilkan dari seperempat sampai setengah botol bir. ”Melihat produksi yang dihasilkan maka budidaya ternak lebah madu ini sangat berpotensi dikembangkan untuk membantu ekonomi keluarga,” kata Alman Simbolon optimis.

Disamping menghasilkan madu juga bisa menghasilkan propolis, beevolen, royal jelly yang dapat dikonsumsi dan sudah terbukti dapat menyehatkan tubuh bagi yang mengkonsumsinya, meningkatkan vitalis dan semangat kerja sebab mengandung kandungan gizi yang sehat dan seimbang.

Kesemuanya itu berhasil apa bila lingkungan lestari atau kelestarian hutan terjaga, jangan sampai hutan rusak atau punah maka akan punah pula lebah madu itu karena kelestarian hutan kunci sukses beternak lebah madu.

(Penulis adalah Dosen Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Medan, pemerhati masalah lingkungan)

()

Baca Juga

Rekomendasi