ONGGO

Oleh: Jansen Napitupulu. Siapa bilang semua anak terminal berjiwa barbar? Siapa bilang semua anak terminal mencintai kekerasan? Siapa bilang semua anak terminal berperilaku kriminal?! Tak semua anak terminal dicap dengan stempel buram! Masih ada anak terminal berhati mulia, lembut hatinya, seputih kapas. 

“Kembalikan dompet Ibu itu, Bartol! Jadi pencopet sangat dibenci Tuhan, Bartol!” kata pemuda itu sambil menyandang kotak terbuat dari gabus tempat teh botol. Mereka sedang berada di balik bus kota di tempat sunyi di pojok dalam terminal metropolitan.

“Tapi, bagaimana nanti dengan Bang Sogor?! Bang Sogor bisa marah besar kalau aku nggak beri setoran hari ini! Ini sudah sore, Onggo! Baru dapat sasaran, Onggo!  Hari ini, Ibu tadi korban pertama dan korban terakhir, Onggo!” jelas Bartol sang pencopet.

“Sudah! Jangan kau masalahkan itu! Kubantu kau! Ini keuntunganku dari jual teh botol dan kacang tojen! Anggap lah aku yang kau copet hari ini! Nanti kau setor ke Bang Sogor! Sekarang, kau kejar Ibu itu! Kembalikan dompetnya dengan utuh!” kata Onggo sambil menyerahkan sejumlah uang kepada si pencopet bernama Bartol. Kemudian Bartol segera berlari mengejar ibu yang baru dicopetnya. Mengembalikan dompet yang belum sempat digerayanginya. 

Onggo tersenyum-senyum kecil, Hatinya sangat bahagia karena bisa menyelamatkan uang ibu itu dari kelatahan tangan Bartol. Setidaknya mulai mempengaruhi hati Bartol supaya jangan lagi jadi tukang copet, meski uang keuntungan dari jual teh botol dan kacang tojen bungkus harus dikorbankannya. 

Adegan penjual teh botol dan tukang copet itu kuintip dari pojok dalam terminal, dari balik angkutan bus kota yang ngetem nunggu giliran trip berangkat. Tentu tanpa sepengetahuan pedagang teh botol dan si pencopet. Dan sudah tiga hari aku kasak-kusuk  mengikuti gerak-gerik Onggo di dalam terminal. Aku merasakan sosok Onggo sangat istimewa sehingga semangatku tak pernah surut membuntuti sambil mengamat-amatinya. 

Suasana terminal belakangan ini sangat hiruk pikuk. Armada bus antara kota dalam provinsi dan antara kota antara provinsi serta antara pulau bertambah jumlahnya, tak henti-henti menaikkan penumpang. Juga angkutan bus kota mulai dari roda empat hingga roda enam bertambah jumlahnya, tak henti-henti menaikkan dan menurunkan penumpang. 

Juga pedagang asongan jumlahnya ikut bertambah. Tak ketinggalan jumlah pengemis ikut bertambah. Tapi jumlah tukang copet tak jelas kuketahui apakah jumlahnya ikut bertambah. Apakah Bang Sogor si raja copet menambah jumlah anak buahnya untuk melakukan aksi copet di terminal? Entalah! Aku tak tahu! Hanya saja bocoran yang kudapat dari kepala terminal, belakangan ini terminal sangat hiruk pikuk karena hari Idul Fitri sudah diambang pintu.

***

Onggo! Yah, aku melihatnya lagi. Aku mengamat-amatinya dari kantin terminal sambil menikmat teh manis dingin. Onggo sedang menjajakan teh botol dan kacang tojen kepada sejumlah penumpang di dalam bus antara kota antara provinsi jurusan Yogyakarta.

Tiba-tiba suara jeritan seorang wanita terdengar dari dalam bus antara kota antara provinsi. Aku segera bangkit, mengayunkan langkah menuju bus yang masih menaikkan penumpang. Ingin mengetahui apa yang terjadi. Sekejap saja aku sudah berada dalam bus, duduk di bangku paling belakang dekat pintu berpura-pura seperti penumpang. Kedua mata dan telingaku jeli menangkap adegan Onggo dengan wanita muda yang tadi menjerit. Onggo sedang berdiri di pertengahan  gang bus, berdekatan dengan wanita itu. 

Di hadapan Onggo, wanita itu menangis sambil memperlihatkan tasnya yang koyak kena sabetan pisau.

“Sebelum naik ke dalam bus ini, tas saya masih bagus, Mas! Dompet saya hilang kena copet, Mas!” kata wanita itu sambil menangis sejadi-jadinya. Onggo merasa kasihan. Hatinya begitu terharu. Ditatapnya wanita berpenampilan sederhana itu.    

“Warna apa dompet, Mbak? Berapa jumlah uang yang hilang?” tanya Onggo sangat serius.

“Warna biru muda, Mas! Uang yang hilang lima ratus ribu, Mas! ATM dan KTP saya juga ada di dalam dompet ikut kena copet, Mas!” kata wanita itu sedih. Dan tangisnya tinggal satu-satu. Tak lama kemudian, tangisnya benar-benar berhenti. Kemudian ditatapinya Onggo. Ia seperti merasakan sosok Onggo akan jadi dewa penolong. Dan sangat berharap dompetnya bisa kembali dengan utuh.

“Mbak tunggu sebentar!” kata Onggo lalu turun dari pintu depan bus sambil menyandang kotak gabus tempat jualannya. Ia berlari sekencang-kencangnya, menyibak keramaian terminal, larinya seperti angin saja. 

Sekitar lima belas menit kemudian Onggo muncul, dan menyerahkan dompet warna biru muda kepada wanita itu. Haaaa! Mataku terbelalak menyaksikan kejadian itu. Secepat itu kah dompet bisa kembali? Hatiku digayuti seribu tanya.

“Terima kasih, Mas! Terima kasih, Mas! Ini dompet saya yang hilang tadi, Mas!” kata wanita itu kegirangan.

“Mbak periksa dulu isinya yang benar! Siapa tau isinya nggak utuh!” saran Onggo. Wanita itu memeriksa isi dompet. Mulai dari menghitung jumlah uang hingga membolak-balik ATM dan KTP.

“Nggak ada yang hilang, Mas! Semua utuh termasuk jumlah uang saya, Mas! Terima kasih ya, Mas! Kalau Mas nggak menolong saya, bisa-bisa berabeh! Bisa-bisa gagal rayain Idul Fitri di kampung, Mas! Sekali lagi, matur nuwun ya, Mas....!” kata wanita itu masih kegirangan sambil menatap Onggo. 

Onggo hanya mengangguk sambil menghadiahi wanita itu dengan senyuman tulus.  Onggo sangat bahagia dapat menolong wanita itu. Sementara aku terheran-heran, bagaimana bisa Onggo secepat itu menemukan dompet dengan isinya masih utuh. Jangan-jangan Onggo mengenal semua pencopet di terminal sehingga menyegani Onggo? Atau bisa saja Onggo pasang strategi dengan cara berkorban sebagaimana kepada Bartol yang mencopet dompet seorang ibu beberapa waktu lalu. Onggo merelakan uang keuntungannya berjualan berpindah ke tangan Bartol sehingga bersedia mengembalikan dompet sang ibu. Atau mungkin saja Onggo pasang strategi lain yakni mengakui wanita pemilik dompet warna biru muda itu adalah saudaranya yang sedang pulang kampung sehingga si pencopet mengembalikannya kepada Onggo. 

Mungkin saja begitu karena semula niat Onggo bertekad untuk menolong wanita yang kecopetan itu. Tentu berbagai cara dilakukan Onggo supaya dompet wanita itu bisa kembali dengan utuh. Onggo…,Onggo! Aku tak habis pikir bagaimana caranya kamu bisa mendapatkan kembali dompet wanita itu? Tapi yang membuatku lebih tak habis pikir, adalah sikap dan perbuatanmu yang sangat mulia!

Ketika kuceritakan kejadian di terminal itu kepada seisi rumahku, justru tak dapat respon menggembirakan. Bapakku, kakakku, kedua adikku, apalagi emakku memvonisku kurang kerjaan!

“Kamu itu ya, mengada-ada aja! Ngapain bela-belain harus ke terminal hanya untuk buntuti si....”

“Onggo, Mak!”

“Ya, Onggo! Ngapain?! Kurang kerjaan kamu itu!” Emak nyerocos kayak mercon meledak. Aku tak terlalu perduli, tak menanggapi omongan Emak. Yang penting hatiku senang, damai dan puas. Setidaknya aku mulai mengerti kehidupan di terminal. Setidaknya aku mulai memperaktekkan ilmu yang kuperoleh dari bangku kuliah. Bapak dan Emak tak tahu bahwa sebenarnya kehadiranku di terminal itu untuk mengemban tugas kantor yang mulai kurintis secara sembunyi-sembunyi yang sebenarnya tak mereka setujui.

***

Aku masih membuntuti dan mengamat-amati Onggo. Semua perilaku Onggo sangat positip. Mulai dari membela orang yang kecopetan hingga cara menjajakan jualan teh botol dan kacang tojen bungkus. Bahkan ketika bersaing dengan penjual asongan lainnya dihadapinya dengan ramah, tipo seliro nan kental, tak sedikit pun membiaskan kekerasan. Bahkan Onggo sering membantu penumpang yang kepayahan naik bus karena keberatan beban barang. Onggo dengan senang hati mebantunya tanpa memungut sepeser bayaran jasa. 

Meski Onggo setiap hari berjibaku menghadapai kehidupan keras di terminal, sholat lima waktu tak pernah ketinggalan. Ia dengan khusyuk menunaikan sholat di musholah terminal. Bahkan Pak Urip petugas kebersihan terminal mengaku kagum kepada Onggo.  

Semula Pak Urip enggan kukorek tentang Onggo.

“Adik ini siapanya, Onggo?! Ngapain nanya-nanya riwayat Onggo segala!” kata Pak Urip sore itu di beranda musholah terminal. Ia habis melakukan sholat azhar.

“Saya bukan siapa-siapanya Onggo, Pak.” ujarku sesopan mungkin.

“Jadi ngapain adik terlalu perduli kepada Onggo?! Adik ini siapa sebenarnya?!” Pak Urip sedikit curiga.

“Saya Arisa, Pak. Rumah saya di seberang terminal ini, Pak.” kataku menenangkan hati Pak Urip. Aku berpikir, rupanya anak terminal termasuk Pak Urip bukan orang lugu. Melainkan orang yang selalu bercuriga.

“O…. begitu!” kata Pak Urip, dan rasa curiganya sirna. Dengan lancar Pak Urip menceritakan riwayat Onggo hingga sampai jadi anak terminal. 

Onggo itu tak jelas asal usulnya, apalagi bibit, bebet, bobotnya. Sepengetahuan Pak Urip, Onggo dibesarkan oleh seorang janda setelah ditemukan masih orok di beranda musholah terminal. Onggo dibuang begitu saja oleh orang tak jelas di beranda musholah terminal. 

Ada lagi selentingan didengar Pak Urip, Onggo lahir dari rahim seorang pelacur jalanan yang lupa menelan pil anti hamil sebelum berhubungan badan dengan pelanggannya. Maka konsekwensinya, lahirlah Onggo ke dunia ini meski akhirnya dicampakkan di beranda musholah terminal. Hingga umur empat tahun, Onggo dibesarkan janda itu. Setelah janda itu meninggal karena nenggak racun serangga alias bunuh diri, hidup Onggo jadi terlunta-lunta dan akhirnya terdampar di terminal metropolitan.

“Sejak umur empat tahun hingga sekarang, Onggo sudah berada di terminal ini. Onggo bekerja serabutan. Mulai dari tukang semir sepatu, penjual koran, penyapu lantai bus, kondektur bus kota hingga terakhir pekerjaannya penjual teh botol dan kacang tojen bungkus. Namun sekali pun tangannya tak pernah dikotorinya jadi tulang copet,” kata Pak Urip lalu menjentikkan abu di ujung rokok yang baru dihisapnya.

 Kemudian rokok dihisapnya lagi dalam-dalam, menghembuskan asapnya hingga mengepul tak beraturan di udara.

“O…, begitu, Pak!” kataku yang siap-siap lagi mendengar cerita Pak Urip tentang Onggo.

    “Onggo itu anak baik-baik. Dia itu nggak seperti anak terminal di sini yang kebanyakan berhati jahat. Onggo selalu jujur sebagai pedagang asongan. Onggo nggak pernah bermuka dua. Onggo nggak pernah berjualan sambil mencopet sebagaimana dilakukan banyak temannya. Atau sekedar bekerja sama dengan tukang copet, sekali pun nggak pernah dilakukan Onggo!”

“O…, begitu, Pak!” kataku terkagum-kagum.

“Bahkan Sogor si raja copet di terminal ini pernah menawari Onggo menjabat wakil raja copet, wakil Sogor sendiri! Namun dengan halus Onggo menolak sehingga hati Sogor nggak sampai tersinggung,”

“O…, begitu, Pak!” kataku masih terkagum-kagum.

“Onggo juga rajin berinfaq. Biasanya setiap tahun sebelum menjelang Idul Fitri, Onggo akan menyerahkan infaqnya kepada panitia infaq di musholah terminal ini,”

“O, ya….!” kataku semakin terkagum-kagum.

“Onggo itu lain dari yang lain! Onggo itu bukan anak terminal yang sembarangan! Onggo itu tak barbar! Onggo itu tak kasar! Onggo itu tak kriminal!”

“Ya, ya, itu saya tau, Pak! Sangat saya tau, Pak!”

“Onggo itu punya seorang kekasih yang baik hati,”

“Haaaa….!!!!” kataku terhenyak.

“Kekasihnya seorang calon wartawati bernama Melati yang sudah satu bulan magang di terminal ini,” kata Pak Urip membuatku semakin terhenyak. Dan mataku berkunang-kunang. Aku nyaris semaput. Karena aku juga seorang calon wartawati yang baru  7 minggu kurang satu hari magang di terminal ini. Tapi namaku bukan Melati, melainkan Arisa yang diam-diam mulai menyukai Onggo. Namun Onggo sudah punya kekasih. Tapi, sudahlah! Yang penting Onggo bahagia. Dan aku akan menulis tentang Onggo apa adanya untuk rubrik profil minggu di koran tempatku magang. ***

()

Baca Juga

Rekomendasi