Tradisi yang Menuju Sirna

Oleh: Iqbal Nasution

Berbagai kesenian dan permainan tradisional Batak ditampilkan di Lapangan Sisingamaraja XII pada acara pembukaan Festival Danau Toba (FDT) 2014 di Kota Balige Kabupaten Tobas. Di hadapan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi, Sapta Nirwandar, Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho dan sejumlah perwakilan Kepala daerah dari kabupaten se-kawasan Danau Toba itu ditampilkan sejumlah atraksi dan permainan tradisional.

Selain itu, tarian tor-tor sawan masal ikut memeriahkan pergelaran Budaya Batak. Atraksi dan permainan tradisional dalam acara itu antara lain Martumba (menari) dan Margalah (sejenis olah raga gembira yang biasa dimainkan kaum muda) yang dipertunjukkan oleh ratusan siswa SD dan pelajar tingkat menengah atas dari kabupaten setempat.

Berbagai acara budaya dan penyelenggaraan pameran ekonomi kreatif dilangsungkan di lapangan yang terletak pinggiran Danau Toba, Balige. Sungguh menakjubkan, ketika 300 penari kolosal tortor sawan dari berbagai sekolah dari Kabupaten setempat asuhan sanggar Yayasan Pusuk Buhit, membentangkan ulos sepanjang hampir 500 meter. Telah dicatat sebagai pemegang rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk ulos terpanjang.

Tak kalah menakjubkan, permainan puluhan anak SD menggunakan perlengkapan tradisional seperti tempurung kelapa, bambu dan tampah (martumba). Kemudian, pertunjukan  dilanjutkan dengan tari tortor dan maminta gondang serta eksibisi permainan tradisional Batak Margala.

Kordinator Panitia perlombaan marultop FDT 2014, Antoni Dolok Sarigu menerangkan, marjalekat merupakan jenis permainan tradisi Batak. Permainan ini, juga telah dinasionalisasikan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga menjadi enggang. Dahulu, marjalekat dimainkan anak-anak dengan menggunakan bambu, sekaligus secara sederhana memanfaatkan sumber daya alam yang ada di masing-masing daerah.

Sekarang ini, setelah ditetapkan peraturan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga, akhir permainan ini mengalami perubahan. Dari bambu menjadi kayu, dengan ukuran tertentu. Sesuai peraturannya, kayu yang digunakan dengan tinggi 2,5 meter dan pijakannya berasal dari tumpukan tanah setinggi 50 centimeter.

Permainan ini, selalu diperagakan pada saat malam bulan purnama. Selain marjalekat, margala juga dimainkan pada saat yang sama. Mergala sendiri merupakan permainan yang ada di setiap daerah di Indonesia, namun penyebuttannya saja yang berbeda-beda.

“Permainan ini, juga telah dinasionalisasikan Kementerian Pemuda dan Olahraga menjadi hadang. Hadang itu, memiliki arti menghadang atau menghalangi orang untuk masuk ke garis yang telah ditentukan,” ungkap pria kelahiran Balige ini.

Selanjutnya, martumba. Martumba sejenis tarian yang diiringi dengan nyanyian. Tarian ini, biasa diperagakan saat menyambut musim panen. Selain itu, pada acara-acara pesta, penyambutan dan sukuran.

Marultop atau sumpit, juga sejenis permainan. permainan dengan menggunakan bambu yang telah dilubangi. Pada ujung bambu dimasukkan anak panah, lalu dihembuskan dengan mulut. Permainan ini, dahulunya digunakan untuk berburu hewan.

Selain itu, pada ujung anak panah dioleskan ramuan sejenis racun, sehingga hewan yang menjadi sasaran langsung tak berdaya. Marultop juga, telah dinasionalisasikan. Pada pertandingan ini, setiap peserta akan dinilai dari anak panah yang tepat pada sasaran yang telah ditentukan. Jadi Marultop ini, sama dengan olahraga memanah.

Kemudian, ada juga mossak Batak. Mossak merupakan olahraga bela diri sejenis pencak silat. Meskipun sejenis pencak silat, namun mossak memiliki jurus-jurus yang berbeda, tandas PNS Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Tobasa ini.   

Salah seorang tokoh masyarakat Kota Balige, Drs. Henry Simangunsong menyebut, jenis permainan ini, sudah jarang dilakoni anak-anak zaman sekarang. Meski demikian, permainan tradisional itu, masih tetap ada di wilayah pedesaan dan pedalaman.

“Untuk wilayah perkotaan, permainan ini, sudah punah dan tak pernah lagi dimainkan para putra-putri Batak. Hal ini, seriring dengan perkembangan zaman dan kamajuan teknologi,” keluhnya.

Mantan pejabat Pemkab Tobasa ini berharap, dengan adanya pagelaran festival budaya Batak, warisan tradisional itu tetap dilestarikan. Hal ini, membuktikan, bahwa bangsa Indonesia khususnya Suku Batak merupakan bangsa yang bermoral dan berbudaya, tandasnya.

Tokoh masyarakat Batak, TB Silalahi yang memandu permainan anak-anak tradisional dari Toba Samosir (Tobasa) pada pembukaan FDT kali ini, mengakui, kebudayaan seperti itu mesti dilestarikan.

“Dulu permainan-permainan itu sering dimainkan anak-anak. Saat ini sudah jarang dimainkan,” tandasnya.

Sungguh ‘Tanah Batak’ mewariskan budaya yang sangat kaya. FDT diharapkan bisa menggugah wisatawan domestik maupun mancanegara dalam meningkatkan destinasi Danau Toba sebagai objek pariwisata Internasional yang patut dibanggakan.

()

Baca Juga

Rekomendasi