Profil Minggu:

Sujarwo, Rendah Hati tapi Kaya Prestasi

Oleh: Faisal Pardede

SEPENINGGAL pendiri Kala Hitam Kancho Winta Karna yang wafat pada tahun 2010, prestasi Kala Hitam Su­mut tetap berkibar.

Kepengurusan Kala Hi­tam Sumut di bawah kepe­mim­pinan Ketua Umum Ris­tanto SH, menorehkan pres­tasi dalam berbagai kejua­raan berlevel nasional mau­pun internasional.

Kala Hitam Sumut yang mulai keluar kandang mam­pu menjuarai berbagai kejua­raan aliran kontak langsung atau full body contact. Kala Hitam Sumut tampil sebagai juara merajai kejuaraan ka­rate Binus Open yang diikuti karateka dari berbagai pro­vinsi tiga tahun berturut mu­lai 2012, 2013 dan 2014.

Bahkan karateka Kala Hitam Sumut mampu berjaya dalam kejuaraan interna­sio­nal berlevel Asia di Malaysia dimana dengan keberhasilan Reza Fahrian tampil sebagai juara.

Tetap berkibarnya presta­si tidak terlepas dari peran seluruh murid sabuk hitam yang saling bahu membahu.

Salah satu murid sabuk hi­tam kancho yang menonjol perannya dibalik berbagai sukses prestai adalah sensei Sujarwo sebagai Chief Ins­truc­tur.

Sujarwo yang mantan atlet andal di era tahun 1980-an, turun langsung meng­gem­bleng dan menyeleksi atlet yang akan mengikuti even nasional maupun inter­nasio­nal.

Sujarwo meru­pakan sosok yang low profile. Ia selalu eng­gan untuk diekspos di Medan. Mengenai hal itu, Sekretaris Umum Kala Hitam Sumut Tri Agus Jaya meng­ungkapkan alasannya. "Ia me­mang pelatih rendah hati yang kaya prestasi," ujar Tri Agus.

Meski selalu bersikap ren­dah hati, Sujarwo selalu serius ketika meng­gembleng murid-murid Kala Hitam, apalagi jika atlet akan mengikuti ke­jua­ra­an.

Hanya murid yang benar-benar berkualitas yang bisa mendapat reko­men­dasi dari­nya untuk mengikuti kejua­raan. Seperti saat akan mengikuti kejuaraan karate berlevel Asia di Ma­laysia, hanya Reza Fachrian dan Kristian yang direko­men­dasikan, tapi terbukti kedua­nya tampil membang­gakan bahkan Reza mampu menya­bet medali emas.

Sujarwo bersikap persis seperti pilosofi Kala Hitam seperti yang diungkapkan Ka­ncho Winta, sebagai he­­wan yang jarang menam­pakkan diri dan tidak mau me­nonjolkan diri, walau pu­nya kekuatan yang sangat mem­ba­hayakan lawan.

“Sensei Su­jar­wo tidak mau mere­ko­men­da­sikan atlet hanya yang diperkira­kan mampu jua­ra barulah diki­rim,” kata Tri Agus.

Menjelang Ke­­jurda Winta Karna Cup 2015, Sujarwo kembali menye­leksi karateka Kala Hitam Sumut, sehingga hanya 97 atlet yang dire­komendasikan layak ikut.

Di eranya pria yang kini tinggal di kawasan Helvetia Medan yang kini menginjak usia 49 tahun juga terkenal dengan kehebatan. Dengan postur yang relatif tidak ter­lalu besar ia kerap menga­lahkan lawan yang lebih be­sar. Sebab itu ketika aktif sebagai atlet di era 80 an ia sempat dijuluki sebagai "pem­­bunuh raksasa" atau Giant Killer.

Adi Sukanto, salah satu murid Kancho Winta Karna mengakui dulunya Sujarwo memang atlet yang hebat karena memiliki tehnik kara­te full body contact yang berkualitas, tak heran jika ia selalu mengalahkan lawan-lawan yang lebih besar.

"Dulu memang yang ada hanya kelas bebas jadi yang bertanding berat badannya berbeda hingga yang atlet dilaga secara bebas. Sujarwo memang selalu mengalahkan lawan yang lebih besar," ujar salah satu mantan atlet seba­gai konsultan di PU Bina Mar­ga Aceh Selatan Adi Su­kanto.

Kehebatan yang dimili­kinya yang diturunkan kepa­da murid-murid Kala Hitam Sumut lainnya. Inilah salah satu alasan mengapa prestasi karateka Kala Hitam ditakuti lawan. (*)

()

Baca Juga

Rekomendasi