Panen Padi Merosot Tajam

Sidikalang, (Analisa). Panenan padi sawah di Ke­camatan Berampu Kabupaten Dairi merosot. Kondisi tanaman di sana bervariasi antara sedang panen dan proses pemasakan.

Setiara boru Batubara (49) dan suami Tamba Sigalingging (52) di Desa Berampu me­nerangkan, kuan­titas panen kali ini menurun tajam lantaran tingginya bulir hampa. Ba­nyak malai tegak tanpa isi. Di sisi lain, serangan hama tikus juga sangat ganas.

Wasni boru Regar men­jelaskan, lajimnya panenan mereka rata-rata 25 kaleng per rante (400 meter kuadrat). Dari pengukuran sejumlah warga, terpuruk hingga 15 kaleng per rante. Masalah serupa menimpa hampir seluruh areal.

Ditanya seputar bulir hampa, ibu rumah tangga ini meng­aplikasikan pupuk ZA seperti pola pertanaman terdahulu. Pakai seperti biasa. Di sini jarang pakai urea, untuk sumber nitrogen, umumnya tabur ZA. Diakui, petani memang tidak me­minta umpan racun atau perlakuan lain dari Dinas Pertanian melalui penyuluh lapangan. Dan, petugas juga kurang respons turun ke area

Rustialam boru Lumban Batu mengatakan, pengendalian hama tikus dilakukan dengan pem­berian umpan racun. Timek dicampur pakai ubi kayu. Cara itu kurang ampuh. Banyak tak dimakan. Petani lainnya terpaksa memagar pematang sawah untuk mempersulit gerakan organis­me pengerat dimaksud. Dibutuhkan tambahan biaya.

Sebelumnya, Kepala Bidang Tana­man Pangan pada Dinas Perta­nian, Bintoha Angkat mem­benarkan, Kecamatan Berampu adalah satu dari 5 kecamatan tergolong tinggi serangan tikus. Insti­tusi telah me­nyalurkan tiran ban­tuan Dinas Per­tanian Sumut. Keter­serdiaan racun didanai APBD sudah habis lantaran tak ada dibelan­jakan tahun 2014.

Ketua Komisi Penyuluhan Perta­nian, Depriwanto Sitohang mempre­diksi, gangguan tikus bakal sukar diatasi. Kemung­kinan berkepanjang­an kalau tertib tanam diabaikan. Rea­litas saat ini, musim tanam di satu desa saja berbeda-beda. Hal itu mem­buat hama penyakit tetap punya ma­kanan. Habis dari lokasi A, pindah ke persawahan B, C dan seterusnya.

Kalau petani mau mengikuti pe­tun­juk terutama musim tanam, sik­lus reproduksi hama akan terken­dali. Sebab, pada periode tertentu, hewan itu kehabisan sumber energi. Jika penanaman dilaksanakan dalam tempo 1 minggu di 15 kecamatan, sera­ngan juga merata serta kerugian petani juga relatif kecil, papar ketua fraksi partai Golkar DPRD.

Jaman dulu, itu diterapkan. Makanya di sejumlah perkam­pungan ada pemberitahuan atau ‘tinting’.

Imbauan mirip perintah disam­paikan parsinabul dan ditaati masya­rakat. Sekitar 15 tahun lalu, pola sa­ling membantu atau disebut marsi­ruppa me­rupakan teknik meringan­kan beban. Pagi ini bertanam ke la­dang kami dan siang ke sawah tetangga. (ssr)

()

Baca Juga

Rekomendasi