Oleh: Ardani.
DESA Bukit Lawang Kecamatan Bahorok Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara tidak hanya keindahan Sungai Bahorok. Di situ ada juga Goa Patu Rizal yang begitu eksostik. Gua dengan panjang 250 meter dan tinggi 100 meter jika kita menyusuri di dalam gua itu akan terlihat lorong gua yang pada dindingnya basah karena tetesan air yuang mengalir di dalam gua. Air seakan berpameran tunggal membentuk dinding gua menjadi ornamen alami.
Pada lorong gua itu sesekali cahaya matahari tembus ke dalam gua dari celah-celah gua yang sedikit terbuka. Cahaya yang masuk sedikit itu dan membentur dinding gua membuat keindahan tersendiri..
Setiap wisatawan mancanegara (wisman) dan wisatawan nusantara (wisnu) maupun pelancong lokal yang suka menikmati wisata petualangan akan merasa andrenalinnya bergerak kencang dan bernafas lega ketika ada cahaya matahari yang masuk kedalam gua. Kegalauan itu hilang sebab dengan adanya cahaya matahari yang masuk orang yang menyusuri gua merasa masih ada oksigen di daalm gua ini.
Cadas-cadas dari batu dan tanah yang berumur berabad itu membentuk terjal-terjal yang bagaikan di rongga kerongkongan. Kita merasakan betapa alam dan ekosistemnya mampu mencipatakan cadas-cadas terjal dan ukiran maha dasyat pada lorong-lorong gua itu..
Nilai kelelahan dan andrenalin (getaran darah) yang terus bergemuruh mebuat wisata petualangan ini terasa asyik dan menegangkan.
Karena kadang setiap orang yang menyusuri gua ini sesekali harus menerobos celah sempit seukuran badan dan harus hati-hati melepaskan badan dari celah sempit itu. Setiap kali kita mampu melewati rintangan itu ada rasa lega. Tetapi itu hanya sebentar sebab di depan datang lagi rintangan anak-anak tangga yang basah dan licin yang harus diterobos kembali. Kemungkinannya jatuih terpeleset dan kulit akan memar dihantam cadas.
Karenanya jika ingin berpetualangan di gua ini disarankan memakai helm pelindung untuk kegiatan petualangan, serta sepatu yang dipakai untuk menyusuri petualangan di tebing-tebing licin. Selain itu senter gua yang biasa dipakai dikening untuk memudahkan petualangan itu.
Sepanjang menyusuri gua Patu Rizal para petualang wisata merasa berada di dunia lain, tebing atau cadas keras di atas kepala membentuk sebuah ornamen yang tak pernah kita temukan di atas bumi.
Udara yang lembab dan basah dan suara gemericik air dan masih alaminya gua itu mengesankan sekali sebab hanya sekitar 45 km dari kota Medan pengunjung bisa menemukan gua yang terbentuk atas proses alam. Selain itu menambah keyakinan bahwa disekitar kawasan Gunung Lauser itu memang selalu ada suasana alam yang alami.
Sepanjang menyusuri gua itu tak ada yang memandu tentang cerita gua itu. Karenanya perlu juga Pemda Langkat memikirkan untuk mengembangkan potensi wisata petualangan ini seperti di Gua Jepang di Bukit Tinggi Provinsi Sumatera Barat yang ada pemandu wisatanya.
Warga setempat hanya mengambil retribusi atau kutipan kepada pengunjung gua tersebut, dan tak ada upaya mereka untuk mengetahui apakah para petualang wisata itu berhasil atau tidak sampai ke ujung gua.***
Penulis seorang jurnalis dan tinggal di Medan.











