Jangan Menganggap Diri Suci

Kisah ini saya kutip dari sebuah blog di internet. Mudah-mudahan bisa menjadi bahan renungan kita. Kisahnya tentang seorang santri yang menuntut ilmu pada seorang kyai. Setelah bertahun-tahun belajar, tibalah saatnya ia menghadapi ujian kelulusan. Ia menghadap kyai untuk ujian. Oleh sang kyai, si santri diberi tugas selama tiga hari untuk mencari siapa orang atau makhluk yang lebih buruk dari dirinya. Santri tersebut meninggalkan pondok untuk melaksanakan tugas dan mencari jawaban atas pertanyaan kyainya.

Hari pertama si santri bertemu dengan seorang pemuda pemabuk berat yang dapat dikatakan hampir tiap hari mabuk-mabukan. Santri berkata dalam hati, “Inilah orang yang lebih buruk dariku. Aku telah beribadah bertahun-tahun, sedangkan dia mabuk-mabukan terus.” Tetapi sesampai ia di rumah, pikirannya berubah, “Belum tentu. Sekarang dia mabuk-mabukan, tetapi siapa tahu pada akhir hayatnya Allah SWT. memberi hidayah dan dia husnul khatimah. Aku sekarang memang baik, rajin ibadah. Namun siapa yang bisa jamin pada akhir hayat nanti aku menjadi husnul khatimah? Dia belum tentu lebih jelek dariku.”

Hari kedua, kembali ia berjalan dan bertemu dengan seekor anjing yang menjijikkan. Anjing itu bulunya kusut, jorok, kudisan, kurus dan hampir mati. Santri bergumam, “Nah, ketemu sekarang yang lebih buruk dari aku. Anjing ini sudahlah haram dimakan, kudisan, jelek lagi.” Santri gembira karena telah dapat jawaban atas tugas gurunya.

Waktu akan tidur sehabis shalat `Isya, dia merenung, “Anjing itu kalau mati, habis perkara. Dia tidak dimintai tanggung jawab atas perbuatannya oleh Allah, sedangkan aku akan dimintai pertanggungjawaban yang sangat berat. Kalau aku berbuat banyak dosa akan masuk neraka. Aku tidak lebih baik dari anjing itu.”

Hari ketiga akhirnya santri menghadap kyainya dan melapor. “Tidak ada yang lebih jelek dari saya, karena ternyata orang yang paling buruk itu adalah saya, Guru.” Kyai pun tersenyum, “Kamu aku nyatakan lulus, Nak.”

Kisah ini sangat tepat untuk kita renungkan. Mungkin selama ini kita merasa paling dekat dengan Allah. Kita sudah berbuat amal ibadah yang disenangi Allah. Lalu dengan amal ibadah itu kita merasa telah membeli sebuah “kavling” di surga nanti. Dengan amal ibadah ini pun kita menuding orang lain tidak lebih baik dari kita. Meskipun tidak terucap, barangkali sesekali pernah terlintas di hati kita betapa bahagianya kita telah dekat dengan Allah dan betapa kasihannya orang lain yang jauh dari Allah. Kita pun akhirnya mengklaim diri sebagai makhluk yang lebih suci dibandingkan orang lain.

Tapi, sadarkah kita bahwa ketika kita menuding orang lain dengan telunjuk kita, empat jari—atau minimal tiga jari kita—tertuju pada diri kita sendiri. Dalam Al-Qur’an surat an-Najm ayat 32 Allah menegaskan, “Janganlah kamu  menganggap dirimu suci. Dia lebih tahu siapa yang bertakwa.”  Tidak ada seorang pun yang berhak mengklaim dirinya lebih suci. Perjalanan hidup kita ibarat sebuah pertandingan lari. Kita berlari dengan sebaik mungkin untuk mencapai finish lebih dahulu. Tapi, betapa pun kita telah jauh meninggalkan saingan, sebelum mencapai garis finish semua kemungkinan bisa saja terjadi. Sangat boleh jadi orang yang telah merasa menang karena berhasil mendahului saingannya, ternyata justru di beberapa meter terakhir mengalami masalah sehingga gagal mencapai garis finish. Mungkin ia tiba-tiba terjatuh, terkilir, kaki kram atau pingsan karena kecapekan.  

Begitulah kehidupan dunia. Sebelum nafas terpisah dari badan, sebelum jiwa bercerai dari raga, semua kemungkinan dapat saja terjadi. Kita hanya menjalankan hidup, Allah Yang Maha Menentukan. Seperti halnya pemuda pemabuk dalam cerita di atas. Mungkin saja dalam perjalanan hidupnya ia berubah memperoleh hidayah  bertobat kepada Allah dan menjadi orang yang saleh. Bukankah banyak cerita pertobatan orang besar yang dapat menjadi bahan pelajaran bagi kita? Sebaliknya si santri juga tidak tertutup kemungkinan berubah menjadi orang durhaka pada akhir perjalanan hidupnya. Jalan masih panjang terbentang ke depan.

Oleh karena itu, kita wajib berusaha untuk melakukan yang terbaik dan menjadi yang terbaik dalam kehidupan ini. Jangan membanding-bandingkan diri dengan orang lain, apalagi menganggap diri kita yang paling suci. Kalau bisa, terlintas dalam pikiran pun jangan. Atau, kalau sempat terlintas, segera buyarkan dan beristighfar kepada Allah. Hanya Allah Yang Maha Suci. Tugas kita adalah berusaha sekuat tenaga untuk senantiasa menjaga kesucian jiwa dan tidak mengotorinya dengan  berbagai kemaksiatan dan dosa. Mohon kepada Zat Yang Maha Suci agar kesucian jiwa yang merupakan fitrah manusia sejak lahir senantiasa terpelihara dan terjaga.

Puasa sesungguhnya adalah proses kreatif kita untuk mempertahankan kesucian fitrah. Dengan berpuasa kita tidak sempat untuk memikirkan amal orang lain. Dengan puasa kita diajak untuk melakukan dialog dengan batin kita yang terdalam, sejauh mana sudah bekal yang akan kita bawa untuk persiapan menghadapi Mahkamah Allah di Hari Akhir kelak?

()

Baca Juga

Rekomendasi