Hitam-Putih Etnis Tionghoa di Medan

Medan, (Analisa). Akar masalah Tionghoa di In­do­nesia, termasuk di Medan, sehingga di­pandang: pelit, arogan dan tidak mau ber­baur, kata Nasrul Hamdani, penulis buku "Komunitas Cina di Medan" adalah buah warisan kolonial Belanda. Belanda saat itu menerapkan stra­ti­fikasi sosial bertingkat tiga, yakni kelas Eropa, diikuti kelas Timur Asing yang di­dalamnya mencakup komunitas Cina dan kelas terakhir, Bumiputra.

"Inilah kemudian yang membuat komunitas Tionghoa dipandang bumiputera sebagai kelas yang lebih tinggi dari mereka," paparnya dalam seminar bertajuk "Sejarah Tionghoa di Medan" yang digelar mahasiswa Ilmu Sejarah Unimed, di gedung Audio Vi­sual, Pendidikan Sejarah, FIS, Uni­med, Senin (1/6).

Lebih lanjut Nasrul menjelaskan dari zaman revolusi fisik hingga tahun 60-an komunitas Tionghoa mengalami banyak tindakan diskriminatif. Pada 1960 misalnya, terangnya, ribuan orang Tionghoa diusir dari Indonesia ka­rena mereka dilarang berdagang di dae­rah-daerah pedalaman.

Hal lain yang jadi perhatian Nasrul ada­lah dia mengapresiasi minat para pe­neliti sejarah membahas tentang Tiong­hoa semakin meningkat. Hal ini diper­kuat oleh keluarnya keputusan presiden yang melarang penggunaan kata Cina dan diganti dengan Tiong­hoa.

Dian Purba selaku pemateri kedua le­bih mengangkat tema tentang ko­mu­nitas Tionghoa dalam kekerasan Mei 1998. Mahasiswa pascasarjana Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada itu menjelaskan bahwa awal mula re­formasi bergema di Medan. Aksi de­mons­trasi terjadi 2 Mei di kampus Uni­versitas HKBP Nommensen, disu­sul aksi serupa di IKIP Medan, 4 Mei 1998.

Dian menyingkap tragedi pelecehan seksual seorang mahasiswi IKIP Medan oleh aparat keamaman. "Sete­lah peristiwa itu yang terjadi di Medan un­tuk seminggu ke depannya adalah aksi penjarahan dan pembakaran ru­mah atau toko orang Tionghoa. Ba­gai­mana menjelaskan hubungan antara demonstrasi itu dengan aksi pen­ja­rahan itu? Kenapa orang Tionghoa yang menjadi sasaran amuk massa?" Be­gitu Dian membongkar rasa ingin tahu peserta.

Dian kemudian memaparkan ten­tang lokasi-lokasi kekerasan di Medan. Mayoritas tempat kerusuhan, te­rang­nya, terjadi di jalan-jalan protokol. Dan orang Tionghoa banyak tinggal di jalan-jalan protokol itu. "Dengan de­mikian ruko-ruko yang dibakar itu ada­lah milik orang Tionghoa," tegas­nya.

Selama seminar berlangsung, pe­serta sangat antusias. Apalagi saat sesi ta­nya jawab dibuka. Puluhan tangan ber­­lomba teracung menandakan me­reka hendak bertanya. Sejarah tentang komunitas Tionghoa di Medan men­jadi kajian yang sangat diminati pe­serta. (dgh)

()

Baca Juga

Rekomendasi