Oleh: Syafitri Tambunan. Architecture of Realistic Fantasy (ARF), merupakan gaya bangunan yang biasanya memiliki struktur yang menyerupai kegiatan sehari-hari ataupun produk yang berkaitan dengan itu. Beberapa waktu belakangan, tepatnya era modern ini, gaya bangunan seperti ini mulai menjamur, bahkan menguji kenekadan warga Indonesia, Muhammad Jusuf Sokartara.
Rumah Sepatu Jusuf yang berada di Jalan Karang Sari Kecamatan Medan Johor ini salah satunya. Menurut arsitek Peranita Sagala, ST. MMPP. IAI., bangunan miliki Jusuf itu termasuk di dalamnya. “Keren bangunannya. Cuma, kalau meniru bentuk sepatu, seperti realitanya, atapnya lebih datar. Namun, tepatnya, bangunan ini tergolong dalam ARF, masuk di era modern,” sebutnya.Era modern, dalam sejarahnya, ada pada akhir abad 1910an hingga 1960an. Ada yang tergolong fungsionalisme kubisme, international style, dan juga brutalisme.
Dijelaskannya, ARF, misalnya, ada pada sebuah rumah sepatu (Shoe House) seorang wanita tua yang tinggal di sepatu. Sebuah dongeng yang akhirnya keluar ke lanskapnya Amerika. “Ternyata, rumah sepatu berawal dari lagu Inggris yang lahir tahun 1974,” katanya.
ARF berstruktur menyerupai kegiatan sehari-hari ataupun yang berkaitan dengan produk aktivitas, seperti misalnya sepatu. “Untuk membuatnya, memang lebih rumit dibanding rumah biasa,” akunya.
Menurut beberapa media di seluruh dunia, bangunan seperti fantasi ini ada di sejumlah negara. Misalnya, teapot dome (rumah teko) dibangun tahun 1922 di Wyoming, USA, Shoe House (Rumah Sepatu) karya Mahlon N. Haines dibangun tahun 1948 di York, Pensylvania USA, Shoe House /Boot House (Rumah Sepatu) di Taman Kamala Nehru Park, Mumbai India, Einstein Tower di Postdam Jerman. Bangunan-bangunan ini terlihat unik. Keunikannya tidak kalah dibandingkan dengan rumah khas di New Ngelepen Jogjakarta yang dikenal dengan Rumah Teletubies (dome house) dan tentunya Rumah Sepatu Muhammad Jusuf Sokartara di Medan Sumatera Utara.
“Teapot house bergaya ARF, begitupun dengan Shoe House di Pensylvania dan Shoe HouseJusuf di Medan. Bangunan lain yang mirip sepatu, adalah Einstein Tower Jerman, lebih khusus masuk dalam ekspresionisme atau modern. Sedangkan rumah teletubies yang di Jogja tidak terlalu berfilosofi, karena pembangunannya berfungsi untuk shelter, meskipun tetap di gaya modern,” paparnya.
Dalam Probing Popular Culture On and Off the Internet (Fishwick, 2004), bangunan sama seperti bintang-bintang di langit, mudah dilihat, tapi sulit dijelaskan, dan mudah lenyap. Maka, bangunan unik ini tidak mudah dijelaskan dengan kata-kata, tapi mudah dilihat oleh mata.











