Ketua PMSK dr Pantas Hasibuan SpP:

Harry Jonggi Masih Direktur PKIM

Medan, (Analisa). Ketua Perkumpulan Membangun Sekolah-Sekolah Kristen (PMSK) dr Pantas Hasibuan SpP menegaskan hingga kini Harry Jonggi Pasaribu masih tetap sebagai Direktur yang sah memimpin Perguruan Kristen Immanuel Medan (PKIM). 

Penetapan dirinya sebagai Direktur PKIM sesuai Surat Keputusan (SK) pengangkatan yang dikeluarkan dan ditandatangani oleh Ketua PMSK dalam hal ini dr Pantas Hasibuan SpP dengan No. SK : 37/PMSK/IM/2014.

“Harry Jonggi Pasaribu itu masih sah sebagai Direktur PKIM sesuai SK yang saya keluarkan. Jadi tidak ada lagi direktur lain yang diangkat PMSK. Demikian juga dengan pemberhentian direktur, semua kewenangan PMSK,” tegas Ketua PMSK dr Pantas Hasibuan SpP saat ditemui di RS Murni Teguh Memorial Hospital (MTMH), Selasa (25/8) terkait kisruh yang terjadi belakangan ini di sekolah yang terletak di Jalan Slamet Riyadi Medan itu.

Begitu pula dengan penetapan kepala sekolah SD hingga SMA, lanjutnya, SK-nya dikeluarkan PMSK yang ditandatangani oleh Ketua dr Pantas Hasibuan SpP dan Sekretaris Ir Togar Silalahi. Jadi, kalau ada kepala sekolah SD, SMP dan SMA yang baru diangkat oleh oknum tertentu, itu tidak sah alias ilegal. “Kewenangan itu ada pada saya, pada PMSK,” tegasnya.

Terkait kisruh yang terjadi di sekolah beberapa waktu lalu, Pantas mengaku sudah melanjutkan ke proses hukum. “Kita tidak ingin mencederai amal hukum dan pendidikan anak-anak sekolah. Jadi ada hukum yang berlaku di sekolah tersebut dan sudah masuk ke ranah hukum. Kita tunggu saja bagaimana kelanjutan dari proses hukum tersebut,” tegasnya.

Direktur PKIM  Harry Jonggi Pasaribu yang ditemui terpisah mengungkapkan, selama SK pengangkatan dirinya belum dicabut oleh Ketua PMSK dr Pantas Hasibuan SpP, dia akan tetap mengikuti peraturan yang ada. “Masa jabatan saya pun sudah tidak lama lagi di sini. Namun, di sisa waktu yang ada, saya upayakan untuk memajukan sekolah ini,” tuturnya.

Upaya untuk memperbaiki sekolah yang sudah lama berdiri tersebut, salah satunya mengupgrade sumberdaya manusianya, yakni, para pengajar di sekolah yang merupakan warisan sejak zaman Belanda itu. 

“Untuk mencari guru yang handal demi kualitas para siswa, saya berlakukan fit and proper test. Dari fit and profit test yang sudah dilakukan terhadap para guru, beberapa guru justeru tidak mampu mengikuti arus peraturan. Akhirnya terpaksa mereka keluar karena tidak memenuhi standar oleh lembaga yang saya minta melakukan fit and propert test itu,” tuturnya seraya menambahkan untuk memajukan sekolah, dirinya sudah melakukan studi banding ke berbagai sekolah yang sudah mapan di Jakarta dan di Medan. (mc)

()

Baca Juga

Rekomendasi