Oleh: Fadmin Prihatin Malau
Penduduk pantai barat pulau Sumatera, Samudera Indonesia umumnya berprofesi sebagai nelayan. Kini kehidupan para nelayan semakin susah, karena ikan hasil tangkapan mereka terus berkurang, sehingga sulit memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Ketika melaut, ikan yang didapat hanya bisa mengembalikan modal membeli solar, perawatan perahu, jaring dan lainnya. Wajar wajah-wajah lesu para nelayan yang merapat ke tepi pantai menjadi pemandangan biasa.
Dulu, wajah para nelayan selalu ceria, karena ikan hasil tangkapan banyak. Masyarakat di tepi pantai turut ceria sebab dapat menikmati ikan segar gratis bila hanya untuk keperluan makan. Kini, pemandangan itu tidak ada lagi. Mungkin alam tidak bersahabat lagi dengan mereka.
Dahulu kakek penulis sangat bersahabat dengan alam lauat. Melihat bintang bersinar di langit pada malam sudah mengetahui lokasi ikan yang banyak, tidak butuh komputer seperti sekarang.
Hanya dengan merasakan arah angin dan melihat gelombang laut, kakek penulis sudah mengetahui di posisi laut mana bakal datang badai.
Kini, alam sudah tidak menentu, berubah-ubah dalam waktu singkat dan ikan sulit ditangkap. Cuara ekstrem terus terjadi, badai tropis mengakibatkan gelombang tinggi sehingga ikan langka dan para nelayan tidak berdaya. Benarkah alam tidak mau bersahabat lagi?
Sesungguhnya alam ingin selalu bersahabat dengan manusia, tetapi manusia yang tidak memelihara alam. Manusia adalah pemimpin alam. Namun, manusia salah memimpin sehingga terjadi kerusakan alam, jadi menyalahkan alam.
Pengelolaan laut Indonesia memprihatinkan, kerusakan terumbu karang terjadi hampir pada semua perairan Indonesia. Ekosistem terganggu, sehingga biota laut terancam punah termasuk ikan yang merupakan kebutuhan hidup manusia.
Tradisi Melestarikan Alam
Mangure Lawik, merupakan tradisi budaya nelayan di Kabupaten Tapanuli Tengah dan Sibolga. Mangure Lawik dilaksanakan untuk mewujudkan rasa syukur dan mendoakan agar hasil tangkapan ikan banyak, terhindar dari bala dan laut lestari serta sebagai sarana kebersamaan nelayan.
Mangure Lawik juga disebut upacara jamu laut, tapi tradisi ini sudah mulai punah. Upacara Mangure Lawik ditandai dengan menyembelih seekor kerbau yang dagingnya dimasak untuk dimakan bersama semua masyarakat. Sedangkan kepala kerbau dilarung ke tengah laut sebagai kurban persembahan agar laut bersahabat dengan nelayan. Tradisi ini sudah ada ratusan tahun lalu. Satu tradisi budaya yang dilakukan turun temurun meskipun sulit untuk membuktikan kebenarannya.
Melestarikan lingkungan sangat penting, sebagaimana dilakukan nenek moyang bangsa Indonesia sejak dahulu. Sehingga alam tetap bersahabat, dan setiap aktivitas yang dilakukan selalu dekat dengan alam. Berbagai kearifan lokal selalu berhubungan dengan alam. Sebab nenek moyang bangsa Indonesia sadar bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa alam. Karena itu kita harus menjaga dan melestarikan alam.
Dari pola pikir ini membuat para nenekmoyang bangsa Indonesia selalu mengutamakan bagaimana agar alam tetap lestari sebab bila alam rusak atau ekosistem lingkungan terganggu kehidupan manusia akan terancam.
Fakta yang ada dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2011 terdapat 30,02 juta jiwa penduduk miskin, dari jumlah itu sebanyak 7,87 juta orang atau 25,14% adalah nelayan sebagai penduduk miskin nasional dengan kriteria menggunakan armada perahu di bawah 5 gross ton (GT).
Kemiskinan para nelayan berhubungan erat dengan kondisi alam laut Indonesia. Lihat saja nelayan tradisional melaut sejak subuh sampai pagi hari dan siang sampai petang, rata-rata berpenghasilan Rp 50.000 paling maksimal Rp. 100.000 per hari. Hasil tangkapan ikan terus berkurang akan tetapi jumlah nelayan terus bertambah karena tidak ada pilihan pekerjaan lain penduduk di daerah pantai. Bertolak belakang dengan Indonesia negara maritim yang memiliki kekayaan laut tetapi untuk menyediakan ikan masih impor.
Pembangunan satu kata menjadi proses perubahan laut dari dahulu sampai hari ini. Pada hal pembangunan itu sebaliknya menjadi proses pengrusakan laut dengan biota-biodatanya. Hak-hak makhluk hidup termasuk manusia terganggu dan terpinggirkan.
Dahulu para nelayan tradisional paham dan mahir membaca tanda-tanda alam sehingga dengan melihat bentuk gelombang laut mengetahui pada posisi mana badai sedang melanda.
Hanya dengan melihat rasi bintang di langit pada malam hari mengetahui pada posisi mana ikan-ikan sedang berkumpul.
Semua tanda-tanda alam itu baru ada apa bila ekosistem laut terjaga dengan baik. Sama saja dengan teknologi canggih, baru akan berguna bila semua perangkat pendukungnya ada dan bekerja dengan baik, minimal pada posisi standar.
Tradisi budaya Mangure Lawik satu tradisi budaya yang mengingatkan pentingnya menjaga ekosistem laut beserta biota-biotanya sehingga laut menjadi lestari. Laut akan lestari bila tidak terjadi proses perusakan ekosistemnya.
Pengrusakan biota-biota laut membuat tidak bisa lagi alam lingkungan memberikan tanda-tanda kepada manusia. Rusaknya ekosistem laut membuat alam tidak lagi bersahabat dengan manusia. Akibatnya, para nelayan di pantai barat pulau Sumatera Utara sudah tidak bersahabat lagi dengan laut.
Tradisi budaya nelayan di Kabupaten Tapanuli Tengah dan Sibolga, Mangure Lawik sebagai wujud rasa syukur dari hasil tangkapan ikan yang banyak, karena sudah terhindar dari bala dan sebagai sarana kebersamaan sesama nelayan sudah jarang dilakukan. Kini muncul cuaca ekstrim akibat dari kearifan lokal masyarakat yang sudah hilang. Manusia merusak alam dan ketika alam murka manusia menyalahkan alam yang tidak bersahabat lagi dengan manusia. Mari kembalikan kearifan lokal budaya Indonesia yang begitu bersahabat dengan alam.
(Penulis adalah dosen Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Medan, staf ahli Lingkungan JKM Indonesia)











