Rumah Kecil di Bukit Siosar

Oleh: Robert Sinuhaji

Setelah melewati desa terakhir, Kacinambun, sepanjang jalan sunyi sekali, berbatu-batu, menyempit, dan menanjak terus. Kubayangkan kalau hujan deras, aliran air yang cukup besar mungkin akan menyongsong kami dari atas. Sempat kami ragu, apakah benar jalan yang kami lalui ini? Mita Ginting mengajak berbalik arah, pulang. Namun, kutenangkan hatinya. Kukatakan, tadi aku sempat melihat truk di kejauhan, di balik bukit itu. Tanggung sekali kalau pulang, pikirku. Dan sekali lagi kuingat judul novel karya penulis Italia, Susanna Tamaro, Pergilah ke Mana Hati Membawamu. Kata-kata itu sering memberikan sikap optimis setiap mengambil keputusan.

Monitor di mobil sekarang menunjukkan bahwa kami berada di ketinggian 1.400 meter dpl. Tak lama kemudian, kami tiba di puncak bukit itu, dan seperti dekat rasanya dengan langit. Kubayangkan kalau kabut tebal turun, kami pasti tak melihat apa-apa. Kami sekarang di ketinggian 1.500, Puncak Siosar. Lega rasanya. Kami pun turun. Mengedarkan pandangan ke sekeliling, mungkin kami berada di puncak tertinggi di antara bukit-bukit yang tampak di kejauhan. Namun, sayang sekali, aku tidak bawa kamera andalanku! Terpaksa motret-motret pemandangan pakai ponsel.

Sambil meneruskan perjalanan, dari mobil kami melihat jenis-jenis tanaman yang tumbuh. Maklum, kami petani.

“Lihat, kopinya cantik sekali,” tunjuk Mita.

“Ya, tak kalah dengan tanaman kopi yang tumbuh di sekitar desa-desa di Berastagi”, sahutku.

“Dan lihat, tanaman apa itu?!” tunjuknya lagi.

Aku pun melambankan mobil. Melihat tanaman menjalar ke atas.

“Itu markisah,” jelasnya kemudian.

“Ya, markisah,” ujarku. Luas sekali tanaman ini. Entah berapa hektar. Tanaman markisah masih sekitar semeter panjangnya merambat ke atas tonggak kayu. Ini tanaman petani profesional, pikirku. Dan di kejauhan tampak rumah-rumah berwarna hijau yang tertata rapi. Masih sunyi. Truk-truk tentara hilir mudik mengangkat bahan-bahan bangunan.

“Ayo, kita cari rumah yang sudah dihuni,” ajakku. Tak lama berkeliling, kami melihat seorang bapak tua yang sedang asyik mencat sebilah papan. Tampaknya ia pemilik warung itu. Kami pun berhenti di depannya.

“Mejuah-juah,(1) Pa!” ujarku memberi salam.

“Mejuah-juah!” sambutnya. Ia pun berhenti mencat. Menghampiri kami.

“Minem ate kami,” ujarku. Aku bilang, kami mau minum. Kami duduk di kursi panjang itu.

“Kai ban teh kena?” tanyanya menanyakan apa yang hendak kami minum.

Kami masuk melihat apa saja jenis minuman ringan di warungnya itu. Lalu, kuambil sendiri dua botol Pulpy rasa jeruk. Dan kami duduk lagi.

“Kai mergandu, Pa?” tanyaku menanyakan marganya setelah memperkenalkan diri.

“Ginting mergaku,” jelasnya.

“Adi bage, kalimbubu kam. Enda anakndu beru Ginting.” Aku bilang, Mita  secara adat Karo adalah anaknya karena juga Ginting, berarti bapak itu adalah “kalimbubu, satu marga dengan mertuaku.

Mereka pun bersalaman.

“Beru Ginting?” tanya bapak itu seperti meragukan Mita.

Aku pun menjelaskan bahwa Mita asli beru Ginting, dan ibunya Sinulingga. Ia sejak balita hingga SMA tinggal di Sidoarjo, dan kuliah di Bandung. Beberapa orang memang pernah bertanya, apakah Mita dibuat jadi beru Ginting? Pertama kali tinggal di Seribu Dolok, banyak orang pikir, Mita keturunan Tionghoa atau Sunda karena kalau ngomong logat Jawanya belum hilang sampai sekarang.

“Ja nari kena?” tanyanya menanyakan asal kami.

“Berastagi,” jelasku.

Kami pun ngobrol. Dia senang sekali waktu kuceritakan sering jalan-jalan ke desa-desa yang terletak di hamparan kaki Sinabung yang cantik itu.

“Hampir semua desa di sana sudah kami datangi,” ujarku.

Dan dia mengatakan, abangnya tinggal di Sukandebi. Aku jelaskan pada Mita bahwa desa itu sering kami lewati sewaktu menuju Danau Lau Kawar. Dan bapak itu bilang, dinding Sinabung yang berhadapan dengan danau yang indah itu sudah jebol karena erupsi Sinabung.

“Ya, kami sudah melihatnya langsung,” ujarku. “Dan desa-desa sepanjang jalan mulai dari Naman menuju Lau Kawar masih rawan dengan status awas Sinabung.”

Bapak itu mengatakan, sudah dua bulan ia tinggal di Siosar. Asalnya adalah Bekerah, desa yang terletak di kaki Sinabung. Waktu berbincang-bincang tentang masa lalunya sebelum erupsi, wajahnya menyimpan sedih.

“Megati kunen gambar sanga kami tading kuta, la kugejap naktah iluhku,” ujarnya murung. Katanya, sering ia melihat foto waktu masih tinggal di kampung, dan tak terasa air matanya pun berlinang.

“Tidak ada kemungkinan tinggal di sana lagi setelah Sinabung aman?” tanya Mita padaku seperti ikut merasakan suasana hati bapak yang hampir berusia 70 tahun.

“Lanai kuakap mungkin teringani,” jelas bapak itu. Katanya, sepertinya tak mungkin lagi bisa balik ke kampung. Diceritakannya, rumah-rumah sudah tertimbun debu vulkanik mencapai atap dan bongkahan-bongkahan batu besar berserakan di kampung, dan banyak pula yang menimpa rumah.

Bapak itu menjelaskan, rumah yang ditinggali sekarang bersama isterinya yang pada saat kami datang sedang berada di Kabanjahe, berukuran 6mx6m, berdiri di atas 10mx20m. Air dan listrik sudah tersedia. Namun, ia berharap ada transportasi penghubung dengan desa terdekat apalagi dengan ibukota kabupaten. Ia bilang, tadi pagi isterinya pergi ke Kabanjahe numpang truk tentara. Nanti mau pulang kalau tidak ada tumpangan, terpaksa bermalam di Kabanjahe, di rumah famili. Dan matanya yang letih itu menerawang jauh. Entah apa yang sedang dipikirkannya.

Kami memandang ke seberang, rumah-rumah relokasi tiga desa yang terletak di kaki Sinabung, yakni Sukameriah, Bekerah, dan Simacem, masih banyak yang kosong.

“Adi i jenda pe tading, kai lah ban pe?” tanyanya. Katanya, kalau tinggal di sini pun, mau berbuat apa untuk mencari nafkah?

Aku tanya soal ladang yang mungkin pernah dijanjikan pemerintah.

Ia menunjuk ke arah kami datang. Hutan itu baru dibuka. Kayu-kayu pinus bergeletakan di tanah, di kiri-kanan jalan yang kami lalui. Alat-alat berat untuk membuka hutan masih di sana. Mungkin sekarang hari Minggu beristirahat. Ia tidak tahu, apakah nanti di sana mereka berladang. Ia bilang, masing-masing rumah tangga dijanjikan sekitar setengah hektar.

Menjelang sore, kami pun turun dari puncak.

“Coba bayangkan, andai kita benar-benar jadi pengungsi,” ujarku pada Mita. “Apa yang akan kita lakukan jika tinggal di sini?”

Mita membisu. Aku membiarkan ia berpikir.

“Belum terbayangkan aku,” jawabnya.

Kupikir, kalau pada saat ini memang wajar para pengungsi belum menghuni rumah-rumah itu. Sebab, seperti kata bapak tua, apa yang akan mereka lakukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari? Banyak keluarga terpaksa tercerai-berai, mencari nafkah di mana saja, apa saja, dan banyak di antara mereka menjadi buruh ladang, seperti anak bapak tua itu.

Dan aku teringat pada novel yang sedang kurancang, Kabar dari Gunung. Aku belum menemukan jalan ceritanya, nama-nama tokohnya, dan ending-nya. Sambil berjalan mungkin aku akan menemukannya, pikirku. Dan mungkin nanti jawaban atas pertanyaanku pada Mita, yakni apa yang akan kami lakukan jika tinggal di rumah kecil di pebukitan Siosar akan kutulis secara detail di sana.

Kusetel monitor di mobil untuk mengetahui jarak tempuh. Tujuh kilometer, kami tiba di Kacinambun. Sepuluh kilometer berikutnya, setelah melewati dua desa lagi, Kutambelin dan Singa, kami tiba di Kabanjahe, ibukota Kabupaten Karo. Sebenarnya, kami bisa pulang ke Seribu Dolok  lewat jalan pintas, jalan-jalan tanah penuh lubang dan tanjakan, tapi kami tak menemukan persimpangan jalan itu, sehingga pulang lewat jalan semula. Kubayangkan kalau jalan itu diperbagus, orang-orang Sinabung yang pindah ke sini, kelak bisa juga memasarkan hasil panennya ke Desa Merek, Saribu Dolok, dan terus ke Pematang Siantar.

Berkunjung ke hutan Siosar yang baru dibuka untuk pemukiman baru, mengingatkanku pada cerita-cerita klasik karya Laura Ingalls Wilder, Little House on the Praire, Musim Dingin yang Panjang, Di Tepi Sungai Plum, Tahun-tahun Bahagia, dan banyak lagi. Tampaknya, aku harus baca ulang lagi buku-buku lama itu. Kenapa dulu mereka mendirikan rumah di hutan? Bagaimana mereka bisa berhasil?

Tiba-tiba teringat aku pada adik kelasku di Ekonomi UI yang bermukim di Amerika, Lily Endang Joeliani yang senang dengan cerita-cerita itu. Pasti dia banyak tahu.

“Yang di serial Little House itu, mereka berpindah membuka kawasan baru di tanah yang masih perawan. Hidup mereka sangat berat. Tidak semua orang berhasil. Banyak buku kisah pioneering yang sangat tragis”, tulisnya di inbox-ku.

Dan kuingat bapak tua tadi. Kubayangkan, pada malam menjelang tidur, air matanya berlinang menatap gambar desa permai yang terpaksa ditinggalkannya. Aku pun berbisik dalam hati, semoga ia dan saudara-saudara kita lainnya yang pada saat ini masih di pengungsian, cukup kuat bermental 3T (tangguh, tangkas, dan tanggap), seperti yang dislogankan anak-anak muda Sinabung dalam menghadapi masalah-masalah yang muncul dari erupsi gunung yang indah itu.***

Catatan: “Mejuah-juah,(1) = Salam dalam bahasa Karo.

()

Baca Juga

Rekomendasi