Masjid Terapung di Laut Merah

Oleh: Muhammad Ali. MLS. Agenda berkunjung ke Laut Merah dan Masjid Terapung sangat dinanti bagi Jamaah Haji ataupun Jamaah Umroh Indonesia. Hal ini lumrah karena rasa penasaran untuk melihat laut yang berwarna merah dan masjid yang terapung.

Laut Merah merupakan nama sebuah teluk yang berada di Jazirah Arab tepatnya yang memisahkan benua Asia dengan benua Afrika. Jalur ke arah selatan dari laut ini melewati Babul Mandib dan Teluk Aden. Sedangkan di utara terdapat Semenanjung Sinai dan Terusan Suez.  Laut yang muncul karena perpisahan Jazirah Arab dan Benua Afrika jutaan tahun yang lalu  menjadi habitat bermacam-macam kehidupan laut. 

Bagi jamaah haji ataupun jamaah umroh dari Indonesia mengunjungi Laut  Merah dan Masjid Terapung sudah dianggap program rutin yang seolah wajib dikunjungi walaupun dua tempat tersebut bukanlah syarat menunaikan ibadah haji. Jamaah hanya sekedar tour karena letak kedua tempat tersebut hanya sekitar dua jam dari Makkah. Perjalanan sangat menggembirakan karena dalam perjalanan guide selalu bercerita tentang sejarah Islam dan menunjukkan tempat-tempat bersejarah juga kuburan-kuburan yang berumur ratusan bahkan ribuan tahun.

Bus travel yang membawa penulis dan rombongan ke Laut  Merah cukup baik dan di perjalanan kami selalu diberi makanan ringan gratis dari para penyumbang yang selalu mereka katakan dari Hamba Allah, yang berarti mereka me­rahasiakan penyumbang agar tidak terkesan "ria" atau membanggakan diri.

Guide juga bercerita tentang kisah Nabi Musa yang membelah Laut Merah menjadi dua dan ditengahnya terdapat sebuah jalan untuk menyeberang saat kaumnya dikejar-kejar oleh balatentara Fir'aun. Tapi setelah kaum Nabi Musa sampai ke ujung, lautpun kembali seperti semula sehingga kawanan bala tentara Fir'aun tenggelam semuanya. 

Setelah sampai di Kota Jeddah, kami heran banyak sekali pedagang pandai berbahasa Indonesia dan ada Toserba "Ali Murah"  dan juga "Bakso Oedin" walaupun harganya selangit yah kamipun coba menikmati Bakso Jeddah ini. Ada lagi penjual jam tangan dan pernak pernik lain dengan transaksi menggunakan Rupiah bukan Rial, ini menunjukkan betapa banyaknya orang Indonesia di Kota Jeddah pada musim haji dan umroh.

Asal Usul Nama Laut Merah

Rombongan sepertinya sudah tidak sabar ingin menyaksikan laut yang berwarna merah. Ada yang ingin mandi, ada yang ingin mencicipi airnya, dan ada yang ingin membawa airnya balik ke Makkah. Macam-macam rencana teman-teman dalam perjalanan menuju Laut Merah. Tetapi setelah kami sampai di tepian pantai Laut Merah, kami makin heran dan bertanya-tanya  "mana laut merahnya"?

Guide orang Madura berceloteh inilah dia Laut Merah, warnanya tetap biru indah tak ternoda, air jernih bak cermin, ombak beriak indah sebagaimana laut lainnya.

Di pinggiran pantai telah tersedia shelter dan tempat bermain anak-anak yang cukup luas sehingga pengunjung bisa berpiknik ria sambil menikmati terpaan terpaan angin sepoi. Teringat akan kampungku juga punya laut dan pantai,  tapi yang ini bersih teratur. Pantai di kampungku tak perlu dikomen. Lalu mengapa disebut Laut Merah?

Penelitian yang dilakukan seorang ahli fisika dari Cambridge University menemukan bahwa sekumpulan besar alang-alang yang tumbuh subur yang seolah menjadi lautan alang-alang. Dalam Bahasa Inggris alang-alang diartikan dengan Reed sehingga seharusnya disebut Reed Sea tapi masyarakat setempat melafalkannya dengan Red sehingga mengobah arti secara total dari lautan alang-alang menjadi Laut Merah. 

Itu hanya salah satu asal-usul nama Laut Merah. Karena masih banyak versi lain yang berpendapat mengapa laut biru itu disebut Laut Merah. Kalau melihat gambar Laut Merah di media sosial kita bisa terkecoh dan membayangkan Laut Merah itu benar-benar berwarna merah tetapi gambar-gambar tersebut banyak yang telah diedit untuk tujuan komersil atau apalah namanya.

Masjid Terapung  

Masjid Arrahmah yang lebih dikenal dengan sebutan mesjid terapung adalah  termasuk salah satu mesjid terpopuler di Kota Jeddah yang menjadi tempat tujuan wisata bagi jamaah haji atau jamaah umroh Indonesia. Masjid ini sebenarnya bukanlah terapung hanya saja pada saat naik pasang seolah-olah terapung karena sanggahannya tidak kelihatan, tetapi pada saat pasang surut tiang-tiangnya jelas kelihatan. Sehingga sebutan masjid terapung ini membuat nilai jualnya   cukup laris lagi pula tak dapat dipungkiri masjid ini cukup indah dan nyaman di dalamnya dengan terpaan angin sepoi dari laut. 

Biaya perjalanan dari Makkah ke Masjid Terapung ini sebesar 60 rial atau setara Rp.220.000 plus makan siang. Selain mengunjungi Masjid ini ada juga Masjid Qisas  di kota Jeddah. Menurut cerita guide kami bahwa masjid ini dahulunya bernama Masjid Syeikh Ibrahim Al-Juffali yaitu nama seorang pedagang Arab terkenal yang membangun masjid ini. 

Halaman Masjid Qisas biasa digunakan untuk menghukum para penjahat. Hukum Qisas adalah hukuman mati/ pancung. Sehingga Masjid ini lebih terkenal dengan nama Masjid Qisas. Biasanya hukuman qisas dilakukan pada hari Jum'at yaitu selesai Sholat Jumat sehingga  bagi pengunjung/ wisatawan yang ingin menyaksikan hukuman pancung sebaiknya datang pada hari Jumat. Hukuman dilakukan di tempat terbuka sehingga setiap orang bisa menyaksikan hukuman itu. Diharapkan dengan hukuman terbuka seperti itu akan membuat efek jera bagi yang akan membuat perbuatan terlarang berikutnya.

Selamat berkunjung ke Laut Merah dan Mesjid Terapung juga sekalian menyaksikan hukuman pancung. ***

()

Baca Juga

Rekomendasi