Janggus dan Sigori Lafau

Dua batu Indah dari Sumatera Utara

Hampir semua wilayah di In­done­sia memiliki batu akik khas dae­rahnya masing-masing. Tiap daerah di Pulau Sumatera sendiri juga ma­sing-masing mempunyai batu anda­lan. Beragam jenis batu tampil dan diperjualbelikan sepanjang masa kehe­bohan tahun lalu. Namun, batu dari beberapa daerah di Sumatera Uta­ra tampaknya belum terlalu mencuat namanya, menyaingi pesona dari batu-batu mahal seperti Bacan, Lumut Aceh, Garut Pancawarna dan banyak lagi.

Oleh: Sari Ramadhani. Batu lain yang terkenal di Indonesia sudah memakan waktu puluhan tahun untuk mengangkat namanya menjadi terkenal di seantero nusan­tara. Hal itu diwujudkan dengan cara mengadakan kontes-kontes sejak du­lu. Batu Sumut sendiri kualitasnya ju­ga belum bisa bersaing dengan batu populer lain saat ini. Namun, batu Su­mut memilki keindahan dan ciri khas tersendiri yang tak dimiliki daerah lain.

Setidaknya ada dua batu indah nan elok dipan­dang mata dari Sumatera Utara. Janggus dan Sigori Lafau, ke­dua batu tersebut diberi nama. Jang­gus, bagi penggemar batu, namanya sudah tak asing lagi. Batu yang berasal dari Dusun Janggus Desa Bukit Ker­tang, Kecamatan Brandan Barat, kabu­paten Langkat kini menjadi jargon dan simbol keindahan Kabupaten Langkat.

Masyarakat lokal bangga akan ba­tu asli dari daerah mereka tersebut. Dari sisi gemologis, batu ini disebut Kal­sedoni. Sampai saat ini, batu ter­sebut masih banyak ditemui di daerah asal. Hal tersebut karena perajin batu masih mencari batu secara manual. Keadaan itu menunjukkan adanya sikap sadar diri masyarakat untuk menjaga ling­kungan agar tidak rusak.

Batu Janggus

"Janggus dari Langkat memiliki karakteristik berbeda. Corak di dalam batunya membentuk seperti bunga teratai dan kaki lipan. Semakin kuat dan kelihatan gambarnya, maka akan semakin bagus. Motif tersebut jarang ditemukan pada batu lain. Untuk skala nasional, batu jenis ini memang belum terlalu tersohor, namun di Sumut, khu­susnya Langkat sendiri sangat bangga karena batu itu terbaik di dae­rah," ujar Wakil Ketua Asosiasi Pe­cinta Batu Permata Sumatera Utara (APBPSU), Andri Ramadhan saat berbincang dengan Analisa beberapa waktu lalu.

Ditambahkan Marojahan Batu­bara, Ketua APBPSU, informasi me­ngenai batu Janggus sebenarnya telah ada sejak lama. Janggus telah lebih dahulu merambah pusat penjualan batu di Jakarta pada era 80an. Jang­gus, waktu itu banyak ditemui di dae­rah Rawa Bening dan Tanah Abang yang menjadi pusat pasar batu di sana. Hal itu terbukti dengan banyaknya pedagang batu dari Langkat yang bermigrasi ke Jakarta pada masa itu.

"Kita tidak sangka ya kan?! Ter­nyata pada era 80an orang Langkat sudah berdagang batu di sana. Mereka juga membawa batu khas daerahnya (Janggus) untuk dijajakan di Jakarta. Namun, seiring perjalanan waktu selama lebih 30 tahun, batu daerah lain bermunculan dengan beragam va­­riasi dan keunikan masing-masing. Hal inilah yang menyebabkan lama-kelamaan pesona batu Janggus seperti tak terlihat lagi di sana," terang Ma­rojahan.

Kemudian, lanjutnya, pada masa keemasan dan puncak kehebohan ba­tu yang berlangsung selama kurun waktu dua tahun terakhir, Janggus kem­bali mencuat namanya melalui ajang kontes dan jual beli batu di ka­langan kolektor. Pada kontes batu kedua yang diselenggarakan pada Sep­tember silam, Janggus ikut dikon­teskan pada satu kelas. Hal tersebut bertujuan untuk mengangkat dan menge­nalkan batu khas Sumut ke­pada pecinta batu berskala nasional.

Batu Janggus hampir mirip dengan Garut Pancawarna. Perbedaan yang memisahkan kedua­nya terletak pada warna yang ada pada batu. Janggus memiliki warna dominan seperti cok­lat, putih, abu-abu dan merah tidak menyala. Biasanya warna dasar Jang­gus bening namun memiliki corak dan gambar unik di dalamnya. Hal ini­lah yang membuat Janggus cukup menonjol.

Batu Pairit

Sementara, Batu Pairit atau Sigori Lafau yang berasal dari Nias juga tidak kalah cantiknya dengan Jang­gus. Batu akik ini memiliki kan­du­ngan tembaga, perak, kuni­ngan, besi dan logam lainnya di dalam batu. Hal itulah yang menjadikan Sigori Lafau menjadi sangat khas. Batu jenis ini ditemu­kan langsung masyarakat lokal. Tak mau kalah pamor, batu ini juga ikut ambil peran dalam kehe­bohan batu dua tahun terakhir ini.

Batu Sigori Lafau dominan war­nanya putih dan bening. Namun, di dalam batu tersebut seperti ada kum­pulan logam-logam yang membentuk suatu motif. Dengan melihat sekali pandangan mata saja, kita bisa melihat keindahan logam di dalamnya. Andri mengatakan batu ini nantinya bisa diangkat agar lebih terkenal untuk skala nasional. Hal tersebut karena survei pasar yang ia lakukan sebagai pedagang batu dan melihat bahwa masya­rakat Sumut lebih menyukai batu bermotif.

"Karena saya orang pasar jadi saya tahu selera pasar bagaimana. Kami dari asosiasi membantu agar masya­rakat lokal dapat mengangkat batu dae­rahnya juga. Seperti kontes terakhir pada September 2015 lalu, asosiasi membuat kelas sendiri untuk Janggus dan Sigori Lafau. Keduanya pun pernah terjual saat kontes. Sampai saat ini, di kedua daerah, batu tersebut tetap eksis," tukasnya.

Ditimpali Marojahan, pihak aso­siasi bersama masyarakat berbagai daerah di Sumut akan terus menggali dan mengembangkan masyarakat lokal untuk menggali dan menemu­kan batu khas agar bisa menjadi aset daerah Sumut. Namun, dengan cata­tan tidak merusak ling­kungan.

"Ya, ke depannya kami me­mang punya wacana akan me­ngenalkan batu-batu Su­mut lainnya. Karena, Pulau Su­matera rata-rata mem­pu­nyai batu. Se­panjang Bu­kit Barisan pasti ada ba­tunya. Jadi, jika di­gali, di Sumut pasti ada. Tak lupa pula kita berikan fa­si­li­tas sa­­at kon­­tes agar batu ter­se­but da­pat di­ke­nal ­ma­­­­­­­­­­­­­sy­a­­­­­­­­rakat lu­­­as nan­ti­nya," tu­tup pria pa­ruh ba­ya itu.

()

Baca Juga

Rekomendasi