Kualasimpang, (Analisa). Ratusan butir telur satwa dilindungi, Tuntong Laut (Batagur borneonsis) dan penyu berhasil diamankan Yayasan Satucita Lestari Indonesia (YSLI) sejak Desember 2015 hingga Februari 2016.
Jumlah telur yang diselamatkan oleh yayasan yang konsisten melestarikan tuntong laut ini masing-masing sebanyak 791 butir telur tuntong laut dan 119 butir telur penyu.
Telur amfibi langka ini sengaja dicari Yayasan saat melakukan patroli pantai di perairan Pusong Cium, Pusong Putus hingga Pantai Ujung Tamiang, Kecamatan Seruway, Rabu (3/2).
Ketua YSLI, Yusriono kepada wartawan, Rabu (3/2) mengatakan, pengamanan telur ini merupakan bagian dari program pelestarian tuntong laut yang sudah masuk dalam urutan ke-25 hewan nyaris punah di dunia. “Kegiatan ini dilakukan saat musim tuntong laut bertelur, yaitu bulan Desember hingga Februari,” tambahnya.
Diceritakan, pada Desember 2015 pihaknya menemukan delapan titik sarang tuntong laut dengan jumlah telur 114 butir. Sedangkan sepanjang Januari 2016, dari 40 sarang yang ditemukan berisi 661 butir telur ditambah 119 butir telur penyu. “Di awal Februari ini kami baru mengamankan 16 butir telur,” rincinya.
Kemudian, sambungnya, ratusan butir telur tuntong laut tersebut ditanam dalam lubang pasir yang sekelilingnya telah dipagar untuk menghindari perburuan atau hewan pemangsa seperti babi hutan, biawak dan predator lainnya.
“Selain agar aman, juga mudah terkontrol setiap saat, baik siang maupun malam,” imbuhnya sembari menegaskan, timnya akan berada di lokasi pesisir sampai seluruh telur tuntong laut menetas.
“Kami memprediksi seluruh telur akan menetas pada April atau Mei tahun ini. Secara nonstop, tempat penetasan telur ini akan dijaga 24 jam oleh petugas yayasan sebanyak 4-6 orang,” kata dia.
Salah seorang tim YSLI, Suparmin, kepada Analisa, Jumat (5/2) di Karang Baru mengatakan, patroli pantai serta pengamanan telur, penetasan sampai tukik dikarantinakan, memakan biaya lebih besar dibanding biaya patroli tahun sebelumnya.
Menurutnya, proses penetasan telur dilakukan di pusat pembesaran tukik YSLI di Desa Sidodadi, Kecamatan Kejuruan Muda. Selama menjalankan program di pantai Seruway, YSLI dibantu oleh sejumlah anggotanya di antaranya, Abdul Hakim, Devianta, T Bob, Rizal dan Abu Bakar, seluruhnya warga desa di pesisir Aceh Tamiang.
Kegiatan penyelamatan telur ini juga dihadiri Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh melalui Pengawasan dan Kontroling dari Kepala Pos KSDA Perbatasan Aceh-Sumut, Azharuddin. (dhs)











