Atap Kubah ;

Warisan Imperium Romawi

Oleh: Azmi TS

BENTUK atap kubah adalah jenis atap bangunan setengah bulatan yang sudah ada pada masa kerajaan Romawi sekitar 100 Masehi. Daerah yang banyak memakai kubah sebagai atap bangunan adalah peradaban Mesopotamia (6000 M) yang diapit dua sungai yakni Eufrat dan Tigris. Konon kubah pertama didirikan di kota Roma, berupa kuil Panthenon, dibuat oleh Raja Hadria (118 -123 M).

Kubah menjadi instrumen penting ketika kaisar Justinian membangun gereja Hagia Sophia di Konstatinopel, yang sempat dipakai untuk masjid kini jadi museum. Bangunan serupa ada di Moscow, Rusia dengan memandangi kubah bagian atas itu mirip seperti masjid. Kubah yang di bangun era Bizantium seperti bangunan katedral basilika dan  kuburan (tombs) berkembang pesat. 

Hal ini pulalah yang dipakai khalifah Abdul Malik (655-688 M). Mendirikan kubah dari batu (dome of the rock), lebih populer masjid Umar di Yerusalem. Kubah batu yang berhiaskan kaligrafi Arabesque berpola geometris. Karena kubah difungsikan sebagai atap, maka struktur bangunan memang dibuat kuat, tahan segala cuaca, megah dan indah. Selain itu kubah juga dibuat selalu menghadirkan simbol dimensi ruang tak beragawi (non-fisik).

Di negara Estonia bangunan kubah berbentuk bawang (union dome) digunakan Katedral Alexander Nevsky (Estonia) untuk mencegah penumpukan salju. Ada pula kubah dibuat melebar dengan tiang-tiang tinggi pada basilika Santo Petrus, sehingga dimensi ruang interior jadi maksimal. Basilika dilengkapi atrium dihubungkan dengan beranda di sebut narthex yakni tempat orang yang sudah dibaptis tapi belum boleh masuk gereja.

Kubah adalah bangunan setengah lingkaran (apsis) pada Santo Petrus kini dijadikan tempat paduan suara. Diikuti jejeran kursi melingkari apsis yang biasa digunakan oleh bishop dan pendeta tertua disebut altar. Kesan ruangan interior dalam basilika memang sangat religius seperti adanya tiang-tiang (ciborium) yang dihiasai langit-langit kebesaran. Ada mimbar tempat membacakan kitab suci, selain itu ada ruang baptis (baptisterium) dan menara tempat menggantungkan lonceng (companile).

Bangunan rumah ibadah era klasik ternyata lebih mengutamakan dimensi ruang selain (ragawi) fisiknya yang agung. Perancang masa itu sudah bisa memaknai suatu ruang religi melalui aspek dimensi religius. Aspek dimensi objektif yang terukur berdasarkan standar fisiknya dan aspek subjektif yang bersifat tak terukur lewat simbolik tertentu. Jadi dimensi religius pada bangunan rumah ibadah termasuk subjektif (tak terukur) alias non ragawi. 

Konon dimensi religius tak beraga itu sebaiknya melekat pada estetika, filosopi dan asosiasi ideologi penganutnya. Bila kita melihat estetika rumah ibadah umat Krisaten klasik, maka pemandangan jatuh pada keunikan bentuk kubah.

Estetika Kubah merupakan dekorasi utama yang bermakna simbolik spritual tinggi. Kubah yang bentuknya  melingkar itu identik dengan langit surga, yakni tempat berada Sang Pencipta-Nya.

Arsitektur rumah ibadah klasik Kristen sangat mengagungkan kubah, sama seperti Islam. Negara Eropa paling banyak ditemukan bentuk unik bangunan klasik selain gereja dengan menara kembar (Notre Dame). Tak mengherankan estetika bangunan gereja Kekristenan Awal (abad IV sampai VII) digarap oleh seniman ukir penerus imperium Romawi.

Kubah berawal dari kata ‘domus’ (Romawi Kuno) artinya rumah yang bergeser menjadi dome. Masa Renaissance kubah gencar digunakan pada saat membangun gereja, yang dalam bahasa Jerman “dom” artinya kubah. Dekorasi atap kubah imperium Romawi tersebut kini ada pada gereja Basilikan St. Peter (Vatikan) yang banyak berhiaskan lukisan Michaelangelo.

()

Baca Juga

Rekomendasi