Setiap daerah maupun suku pasti memiliki tradisi budaya yang cukup unik untuk diperhatikan. Seperti di Pulau Nias atau dalam bahasa lokalnya disebut Tano Niha yang berada di Sumatera Utara misalnya. Selain atraksi lombat batu yang cukup dikenal itu, ternyata pulau terluar sebelah barat Samudera Hindia ini menyimpan sejumlah khasanah budayanya. Salah satunya adalah Famadaya Hasi. Famadaya Hasi merupakan upacara tradisional pemakaman adat bagi yang gugur dalam perang.
Baru-baru ini, tepatnya pada 2 April lalu upacara tradisional Famadaya Hasi digelar di Desa Orahili Fau, Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan, Pulau Nias. Acara yang diprakarsai oleh Indonesia Trip Advisors bekerja sama dengan sanggar tari ‘Laeru Nama’ asuhan Eforis Martinus Fau menampilkan cerita rakyat yang dikemas dalam sebuah tarian, atraksi perang, lompat batu, dan puncaknya upacara adat pemakaman atau Famadaya Hasi.
“Upacara ini terakhir kali dilaksanakan di kampung kami, Orahili Fau pada tahun 1994. Berkat Indonesia Trip Advisors dan sejumlah fotografer, pada tahun ini kembali digelar. Dan tentu saja warga cukup antusias menyambutnya’, ujar Eforis Martinus Fau. Sejumlah persiapanpun dilakukan jauh hari sebelum hari pelaksanaan. Mulai dari busana yang terbuat dari kulit kayu, alas kaki yang terbuat dari sabut kelapa, topi yang terbuat dari tempurung dan sabut kelapa, hingga perlengkapan alat tari perang dan penari yang total berjumlah 87 orang.
Acara ini berlangsung sekitar dua jam. Diawali dengan tarian penyambutan oleh kaum hawa bagi para tetua adat dan tamu. Dilanjutkan dengan tarian perang yang diselingi dengan atraksi lompat batu.
Secara bergantian, puluhan pelompat masing-masing pemuda yang telah tangkas melakukan lombat batu yang tingginya sekitar dua meter memperlihatkan kebolehannya.
Usai atraksi lompat batu, sejumlah tombak, golok, serta perisai atau baluse mulai dilengkapi para penari pria. Selanjutnya mereka membagi dua kelompok yang menjadi kelompok prajurit perang. Perdebatan antar kedua kelompok kian memanas dan terjadilah perang suku. Hingga akhir menewaskan seorang prajurit perang.
Kesedihan melanda warga desa hingga kaum hawa berbelasungkawa. Kedua kelompok prajurit pun bersatu dan melakukan upacara adat pemakaman atau Famadaya Hasi.
Para warga Orahili Fau berharap dengan diadakannya gelaran adat ini nantinya dapat menarik kunjungan wisata ke Nias, khususnya Desa Orahili Fau. Dan sejumlah dinas terkait di Kabupaten Nias Selatan kiranya dapat juga berperan aktif. Saohagolo. (ferdy)











