Dataran Tinggi Golan

Tanah Sengketa di Perbatasan Empat Negara

DATARAN Tinggi Golan adalah sebuah dataran tinggi di wilayah perbatasan Israel, Libanon, Jordania dan Su­riah. Tadinya wilayah ini meru­pakan wilayah Suriah, namun Israel merebut Datar­an Ting­gi Golan dari tangan Suriah pada tahun 1967 dalam Pe­rang Enam Hari.

Pada awal Perang Yom Kippur 1973, Suriah berhasil merebutnya kem­bali, namun serangan balik Is­rael berhasil mengusir Suriah dari se­bagian besar Dataran Tinggi Golan. Di dataran tinggi ini ter­dapat pu­la bukit-bukit yang pada Pe­rang Arab-Israel selalu dipere­but­kan, se­perti Bukit Hermon dan Bukit Booster.

Kedua bukit ini merupakan pu­sat pengamatan tentara Israel yang dikenal dengan "Mata Israel" (Ing­gris: The Eye of Israel)

Sejak pencaplokanya pada Juni 1967 melalui Pe­rang Enam Hari de­ngan Suriah, Israel terus meng­klaim Dataran Tinggi Golan terus se­bagai wilayah kekua­saan mereka.

Baru-baru ini Perdana Men­teri (PM) Israel Benya­min Netanyahu melalui per­nyataannya yang dilansir dari Observer, Jumat pekan lalu, me­nyatakan akan menjadikan data­ran itu wilayah tetapnya dan akan mem­per­tahan­kan­nya selamanya.

Seperti pendudukan yang ter­jadi di Palestina, pemu­kiman-pe­mukiman ilegal pen­duduk Israel mulai didiri­kan pada 1981. De­ngan luas daerah aneksasi men­ca­pai dua pertiga di bagian barat­nya, saat ini sekira 23 ribu warga Israel menetap dan me­ngelola daerah berketinggian 2.814 meter itu.

“Selama 19 tahun Golan berada di bawah penguasaan Suriah, area itu diperkuat bun­ker-bunker, kawat ber­duri, pagar-pagar dan ladang-ladang ranjau. Kawasan itu digu­nakan untuk perang,” kata Ne­ta­nyahu saat bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin pekan lalu.

“Selama 49 tahun di bawah pe­nguasaan Israel, daerah ini diman­faatkan untuk perta­nian, pari­wi­sata, inisiatif eko­nomi, konstruksi, dan in­tinya digunakan untuk perda­maian,” lanjutnya.

Situasi ini memang menja­dikan Dataran Tinggi Golan lebih hidup dibandingkan saat dikuasai oleh Pemerintah Suriah. Namun begitu, bukan berarti PBB lantas mengakui klaim Israel atas kawasan seluas 1800 kilometer persegi tersebut.

Dalam sidang Dewan Keama­nan (DK) PBB di New York pada Se­lasa 26 April 2016, sekira 15 ang­gota DK sepakat status Dataran Tinggi Golan tetap berada di bawah pengawasan PBB dan Negara Zio­nis itu perlu mencabut klaimnya atas Golan.

Sengketa Ratusan Tahun

Sengketa dataran tinggi berbatu di barat daya Suriah itu, telah ber­lang­sung sejak abad kedua Masehi. Letak geografisnya yang berbata­san dengan empat negara, yakni Is­rael, Suriah, Libanon dan Jorda­nia, menyebabkan Da­taran Tinggi Golan rentan perebutan kedaulatan wila­yah.

Dimulai dari era peme­rintahan Kerajaan Amorite di Bashan pim­pinan Manusia Raksasa Raja Og. Seperti yang tercatat dalam Kitab Per­janjan Lama, Nabi Musa meng­o­mandoi bangsa Israel merebut dataran tinggi yang subur itu dari tangan Raja Og. Seluruhnya, 60 kota di wilayah Argob, dijarah oleh Bangsa Israel atas nama Tuhan.

Sebelumnya, pada 20 Se­belum Masehi (SM), dataran tinggi yang ber­batasan de­ngan Sungai Yar­mouk di selatan itu merupakan pe­ning­­galan Raja Herodes Agung un­tuk putranya, Herodes Fi­lipus.

Beribukota di Kaisarea-Filipi, kawasan itu terus di­wariskan secara turun temu­run hingga menjadi hak milik Agripa I pada tahun 37.

Setelahnya, tanah beba­tuan yang berbatasan dengan Danau Galilea dan Lembah Hula di bagian ba­rat tersebut, dengan segera men­jadi pere­butan panjang antara Raja-Raja Israel dan Orang Ara­mean yang berbasis di dekat Da­mas­kus.

Menodai Per­janjian

Perang Israel-Arab pun ikut ber­kecamuk demi mem­perebutkan Da­taran Tinggi Golan ke dalam pelu­kan. Bangsa Iturea, Arab dan orang-orang Aramaic pun men­du­duki wilayah itu pada abad kedua Ma­sehi hingga akhir masa keja­yaan Kekai­saran Romawi Timur.

Berlanjut pada 636, Bang­sa Arab menang dan berkuasa di Data­ran Tinggi Golan berkat pimpinan suksesor dari Nabi Muhammad SAW, Umar bin Khattab.

Baru pada abad ke-16, ka­wasan di sebelah selatan pe­gunungan An­ti-Libanon dan Gunung Hermon ini jatuh ke dalam genggaman Ke­kai­­saran Turki Ottoman.

Keadaan itu berlanjut sam­pai Go­lan menjadi bagian dari ke­dau­latan wilayah vila­yet of Das­maskus hingga beralih ke bawah kontrol Pran­cis pada 1918.

Mandat ini dicabut pada 1946 dan dilepas menjadi negara mer­de­ka baru di ba­wah naungan Re­pub­lik Arab Suriah.

Dilansir dari BBC, Suriah beru­saha merebut kembali Dataran Ting­­gi Golan selama perang Timur Tengah pada 1973.

Meskipun menim­bulkan keru­gian besar pada pasukan Israel, se­rangan kejutan ber­hasil diga­gal­kan. Kedua ne­gara kemudian me­nan­­da­tangani gencatan senjata pada 1974 dan pasukan pengamat PBB (UNDOF) ditempatkan di wi­layah gencatan sen­jata di tahun yang sama.

Namun, Israel menodai per­jan­jian ini pada 1981, se­buah tindakan yang jelas-jelas tidak diakui secara inter­nasional.

Jika dilihat dari keting­gian, alam Dataran Tinggi Golan menyuguh­kan peman­dangan topografi yang tenang dan menakjubkan.

Di Israel, kawasan beba­tuan ini dibagi menjadi tiga wilayah. Ter­ben­tang dari Sa’ar dan Lembah Jila­­bun pa­­da bagian utara, antara Jila­bun dan Lembah Daliyot seba­gai kawasan tengah, dan ada Dali­yot hingga Lembah Yarmouk untuk bagian se­latan.

Dataran Tinggi Golan juga ber­batasan di sebelah barat dengan te­bing batu curam yang menurun hing­ga keda­laman 500 meter ke lem­bah sungai Yordan dan Laut Ga­lilea.

Di sebelah selatan, Lem­bah Su­ngai Yarmouk menan­dai batas-batas dataran tinggi tersebut. Se­dang­kan di timur jembatan kereta api yang ditinggalkan Hamat Gader dan Al Hammah di hulunya, me­no­rehkan perbatasan inter­nasional yang diakui antara Suriah dan Jor­dania. (bbs/wkp/rtr/es)

()

Baca Juga

Rekomendasi