Mempertahankan Bahasa Batak di Era MEA

Oleh: Kaleb E Simanungkalit

KEHIDUPAN manusia itu tidak selalu dalam keadaan yang statis. Didalamnya selalu terjadi ber­bagai macam dinamika yang nantinya akan menghasilkan perubahan. Seiring perkembang­an teknologi, perubahan itu te­rasa semakin cepat dan mem­bawa berbagai dampak pada ke­hidupan. Untuk itu, manusia ha­rus dapat menyesuaikan dengan perubahan yang relevan dalam lingkungan mereka.

Masyarakat sebagai perang­kat proses, saling berhubungan. Keberadaannya selalu terkait an­tara apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi. Pola hu­bungan tersebut biasanya lebih bersifat kausalitas (sebab-aki­bat).

Dengan kata lain, apa yang terjadi pada saat ini, merupakan akibat dari apa yang terjadi pada masa lalu. Apa yang akan terjadi di masa yang akan datang me­rupakan akibat dari masa sebe­lumnya. Keterkaitan antara masyarakat dengan masa lalu­nya itu, tidak akan hilang.

Masyarakat tidak akan men­ja­di masyarakat bila keterkaitan dengan masa lalunya tidak ada. Sama halnya dengan bahasa.

Dalam Ethnologue: Language of The world (2005) di­kemukakan, bahasa yang ada di In­donesia terdiri dari 742 baha­sa. 737 bahasa di antaranya merupakan bahasa yang masih digunakan oleh penuturnya. Sementara itu, terdapat dua bahasa yang berperan sebagai ba­hasa kedua tanpa penutur bahasa ibu. Tiga bahasa lainnya telah punah. Beberapa di antara bahasa-bahasa yang masih di­gunakan penuturnya tadi diper­kirakan berada diambang kepu­nahan. Apakah bahasa Batak me­rupakan salah satu di anta­ranya?

MEA dan Dinamika Bahasa

Demi mengimbangi arus glo­balisasi yang terus ber­kem­bang, saat ini bangsa Indonesia mema­suki fase baru kehidupan. Ma­sya­rakat Ekonomi ASEAN (MEA). Era MEA ini ditandai dengan arus lalu lintas barang, ja­sa dan investasi bebas. Arus la­lu lintas modal yang lebih be­bas, meningkatkan pergerakan tenaga kerja professional dan jasa lainnya secara bebas di ka­wasan ASEAN.

Masyarakat Ekonomi ASE­AN tidak hanya membuka arus perdagangan barang dan jasa. Juga pasar tenaga kerja professional, sehingga akan terbuka kesempatan kerja seluas-luas­nya bagi warga negara-negara ASEAN. Manusia di lingkup ASEAN dapat keluar masuk ke negara lain, men­cari pekerjaan dengan bebas dan persaingan kerja semakin ketat.

Dalam pertukaran tersebut terjadi situasi komunikasi bu­daya, sehingga akan mempe­ngaruhi penggunaan bahasa di Indonesia. Dari situasi tersebut keterpengaruhan bahkan terge­sernya bahasa Batak akan mung­kin terjadi.

Para generasi muda Batak pa­da saat ini kurang memiliki ideologi terhadap bahasa daerah­nya. Mereka cenderung meng­gu­nakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dalam kehidu­pan sehari-hari bahkan di ling­kungan keluarga juga. Mere­ka menggunakan bahasa Indonesia jika berkomunikasi dengan orang tua mereka.

Generasi muda Batak pada sa­at ini cenderung mengikuti per­ubahan yang terjadi di ling­kungan masyarakatnya. Bahasa Batak mulai kehilangan otori­tasnya. Bahasa Batak menjadi ba­hasa yang terkesan eksklusif. Hal ini merupakan suatu anca­man bagi bahasa daerah kita. Apa­bila kita tidak memper­ta­hankannya, bahasa daerah kita ini,  dia akan ber­geser. Akan ter­ancam punah seiring berjalan­nya waktu. Bahasa Batak mung­kin hanya akan menjadi cerita fik­si bagi anak cucu kita di masa yang akan datang.

Mempertahankan

Persoalan rasa bangga terha­dap bahasa daerah bisa dise­babkan oleh beberapa hal. Hal sederhana misalnya, dipengaru­hi oleh lingkungan keluarga yang kurang memiliki ideologi terha­dap bahasa daerahnya sendiri.

Memang masih banyak ka­um dewasa dan orang tua yang tetap mempertahankan bahasa Batak, Di celahnya juga sudah mu­lai banyak para orang tua yang sudah meninggalkan baha­sa Batak ini. Peristiwa ini mung­kin disebabkan, mereka yang me­rupakan masyarakat mi­noritas yang mau tak mau ha­rus menggunakan bahasa mayo­ritas. Gunyanya untuk bersosial di lingkung­an masyarakat.

Sah-sah saja bila dilingkung­an masyarakat multilingual. Seharusnya mereka juga meng­gunakan bahasa tersebut di da­lam keluarga, sehingga anak-anak mereka tidak fasih menu­turkan bahasa Batak. Bahkan timbul rasa tidak memiliki.

Sebuah kondisinya tak etika para orang tua lebih bangga tat kala anak-anak mereka fasih me­nuturkan bahasa asing. Mere­ka tidak menyadari anak-anak mereka tidak bisa menggunakan bahasa ibunya sendiri.

Upaya mempertahankan bahasa Batak tidak terlepasdari peran tiap diri individu masyarakat Batak, lebih khususnya lingku­ng­an keluarga. Dalam diri ge­nerasi muda Batak harus di­se­mai rasa memiliki dan sikap bangga terhadap bahasa Batak.

Mereka harus menggunakan bahasa Batak dalam kehidupan sehari-hari. Mereka harus meng­ajari dan meng­gunakan bahasa Batak ke­pada anak-anak mere­ka di ru­mah.

Ini upaya nyata da­lam usaha mempertahankan dan pelestarian bahasa Batak. Strategi lain di dalam mengajari generasi muda dalam menggunakan bahasa Batak dapat pula disemai mela­lui sastra. Melalui karya-karya sastra Batak, guna memberikan wawasan terhadap generasi mu­­da tentang budaya nenek moyang mereka. Selanjutnya akan menanamkan rasa cinta ter­hadap budaya sendiri. Hal tersebut sekaligus dapat meles­tarikan budaya Batak sebagai pemertahanan identitas masya­rakat Batak.

Untuk mengantisipasi feno­mena kepunahan bahasa Batak, strategi sebagaimana diuraikan di atas yang terpenting adalah diaplikasikan oleh segenap ma­syarakat. Merupakan hal yang menggembirakan, jika semua pi­hak dapat berpartisipasi me­lestarikan bahasa Batak. Dengan upaya demikian setidaknya bah asa Batak tidak terlalu rapuh dalam menyongsong era MEA yang sedang menggejala.

Penulis lahir di Sipoholon, 26 April 1991. Aktif di Pengajara Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). MahasiswaPascasarjana UNS Surakarta jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Asal Sipoholon, kecamatan Sipoholon, Kabupaten Tapanuli Utara.

()

Baca Juga

Rekomendasi