Pesona Gamestone

Bacan Mulai Bersinar Lagi

Oleh: Ahmad Nugraha Putra.

Disebut batu hidup. Kadang juga disebut ‘giok’-nya Indonesia. Pancaran hijaunya indah dipandang serta membuat pemakainya lebih menarik dan berwibawa. Bacan, salah satu gemstone asal Indonesia punya kisah menarik bagi pecinta batu akik di dunia.

Batu dengan nama latin chrysocolla chalcedony asli dari Halmahera Selatan, Maluku Utara, tepatnya di daerah Pulau Kasiruta. Mempunyai ciri khas hijau. Umum­nya bacan ada dua jenis, yaitu doko dengan hijau tuanya dan palmea dengan hijau muda kebiruan.

Literasi yang dihimpun, nama masing-masing jenis bacan diambil dari nama desa. Desa Doko dan Desa Palmea di Pulau Kasiruta. Kata bacan sendiri adalah nama tempat awal perdagangan batu unik tersebut. Akik ini juga telah lama tersohor, bahkan sejak zaman kolonial saat Indonesia dikenal sebagai penghasil rempah.

Disebut batu hidup, karena bacan memiliki sifat alami yang mampu berproses dan berubah menjadi lebih indah kemampuan menyerap materi yang melekat dengannya. Bongkahan bacan hitam bisa berubah warna, biasnya si pemilik akan tetap memakai bacan hingga menghasilkan perubahan warna maksimal atau mengoptimalkan proses natural bacan.

Di Sumatera Utara, bacan mempunyai rekam jejak di hati penggemarnya. Seperti Komunitas Sumatera Bacan Lover (SBL) yang berpusat di Kota Medan. Tepatnya di Jalan Williem Iskandar Komplek MMTC – secretariat komunitas yang baru berdiri pada 25 Agustus 2015 lalu.

Rasa Penasaran

Berawal dari kesamaan hobi dan kecintaan terhadap keindahan bacan. Rasa penasaran akan keunikan batu ini, membuat Sumatera Bacan Lover terus bertambah anggotanya. Sekarang bahkan hampir beranggotakan 8 ribu orang, yang aktif bergelut di dunia batu akik dan tersebar di seluruh nusantara.

Kendati baru setahun, komunitas ini banyak mengikuti berbagai ajang terkait batu akik. Seperti pameran di kota-kota besar sampai lelang batu. Bahkan kecintaan pada mineral bumi ini mereka aplikasikan melalui aksi sosial dan berkontribusi nyata bagi masyarakat, melalui penggalangan dana bagi panti asuhan.

Bendahara Komunitas SBL Rudi Ong  mengungkapkan, banyak kegiatan dilakukan terkait kepedulian sosial bagi masyarakat. "Kegiatan rutin kami, sharing setiap Sabtu malam, di sini. Membahas tentang batu, dan bersilaturahmi sesama anggota.”

Mereka juga menggalang dana amal melalui pelelangan batu. Seperti belum lama ini, lelang amal untuk Panti Asuhan Cinta Kasih di Medan Helvetia.  Kadang mereka menjadi partisipan, sekali waktu juga sebagai penyelenggara.

Komunitas ini terus melebarkan sayapnya, dengan memaksimalkan penggunaan media sosial. Kekinian, tercatat 40 admin yang tersebar di seluruh Indonesia. Kedelapan ribu orang anggota yang ada, tidak membedakan laki dan perempuan. Berasal dari status sosial berbeda, beda profesi, dan dari segala umur.

Bacan, nama yang juga berasal dari salah satu kerajan di Maluku Utara ini, telah melalui pangsa pasar yang naik turun. Tidak beda dengan tren batu akik yang sempat meledak beberapa tahun lalu. Diketahui batu akik seperti bacan telah digunakan sebagai perhiasan di zaman kerajaan dulu.

Roda Ekonomi

Tren batu akik yang sempat memuncak tentunya menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Namun sekarang, ibarat burung yang terbang rendah, seperti juga pangsa pasar akik yang meredup.

Walaupun demikian, pasar akik khususnya bacan sekarang mulai membaik. Usaha keras para penggemarnya yang tetap bertahan menyuarakan hijau eksotiknya bacan, mem­be­rikan hasil luayan. "Memang di Medan tidak terlalu menggeliat,  namun di kota lain, seperti Jakarta lebih baik. Makanya kita banyak jual ke luar kota.”

Meski harganya tidak sefantastis dulu, imbuh Rudi, perkembangan harga bacan sekarang sudah mulai naik. Karena kualitas yang bagus dan bersih, bacan  bisa menembus harga jutaan rupiah.

Para penggelut akik optimis kalau tren batu akik di Indonesia, khususnya Sumut akan kembali pulih seperti beberapa waktu lalu. Sebenarnya, batu yang mahal bukan yang dibanderol dengan harga tinggi, namun yang berkualtias terbaik, yang di nobatkan sebagai batu termahal. Jadi penghargaan terhadap batu itu sangat relatif.

"Saya suka batu karena punya keindahan dan keunikan. Sejak kecil, pada era 90-an saya sudah aktif berkecimpung di dunia batu,” katanya sembari mengimbuhkan koleksinya sekarang berjumlah 50-an batu. Sempat kehabisan koleksi karena tujuh tahun pernah meninggalkan hobinya itu. Tapi kini Rudi kembali menggeluti hobinya karena ia yakin ada harapan baru kebangkitan akik.

Rudi juga menuturkan punya koleksi yang harganya menembus hampir seratus juta. Koleksi termahalnya itu, jenis kacubung dengan motif segitiga di da­lamnya. Pernah ditawarkan di situs belanja online menem­bus harga Rp88 juta.

Kecubung milik Rudi didapat dari pemberian seseorang di Malaysia pada 2003. Batu itu lalu dibentuk sebagai per­hiasan di dekat Kantor Pos Medan. “Saat itu lang­sung ditawar orang senilai Rp 4 juta. Tidak saya lepas dan sekarang menyentuh hampir Rp100 juta, ke­nangnya.

Kusus bacan, tren pasarnya mulai naik lagi. Mendapatkan bacan berkualitas memang tidak mudah. Hal itu sebanding, jika bacan berkualitas dengan tampilan bersih, kuat dan tidak berpenyakit, harganya bisa jutaan sampai puluh jutaan.

Menyinggung potensi batu di Sumut, ia mengatakan, masing-masing daerah punya keunggulan. Tidak ubahnya sungai dareh dan solar dari Aceh yang juga punya keunggulan. Di Sumut ada satu jenis batu yang paling disukainya, jenis janggus batu unik dengan tampilan yang khas. “Saya punya satu yang bersih, kemarin sempat ditawar satu juta," ujarnya.

Komunitas pecinta akik Indonesia ini perlu terus dikembangkan. Tujuannya untuk mengoptimalkan potensi batu permataTtanah Air dan mengenalkannya kepada  dunia. Seperti bacan, yang terkenal hingga mendu­nia. Pecinta batu manca negara pun me­ngakuinya. Si batu hijau, keras dan berme­tamorfosa.

()

Baca Juga

Rekomendasi