PATUNG salah satu benda spesifik berbentuk tiga dimensi, diciptakan manusia termasuk ke dalam karya seni. Keberadaan berbagai karya seni patung misalnya versi bangsa Yunani digunakan untuk persembahan. Patung religi itu diwujudkan dalam bentuk (simbol) Tuhan sekaligus Dewa. Bahan yang dipakaipun dipilih dari batu marmer, granit dan kapur agar dapat bertahan lama (awet).
Tidak mengherankan, karya patung dahulu cukup bisa bertahan lama, hingga kini berabad-abad lamanya. Kini patung tersebut masih bisa disaksikan berupa peninggalan sejarah peradaban Yunani kuno. Patung kuno biasanya di tempatkan pada posisi sakral. Kini masih kokoh berdiri serta di jadikan situs sejarah dibuat dalam ukuran raksasa. Kemajuan sejarah peradaban pula yang membawa perubahan fungsi patung sebagai tuhan (berhala) berubah menjadi karya seni.
Adanya penemuan terbaru pada material seni patung sebagai karya seni di dunia mengalami kemajuan yang pesat. Terlebih adanya penemuan teknologi terbaru membuat material pada karya seni patung jadi kaya.
Ada yang berukuran kecil sampai seukuran tubuh manusia. Terutama di kawasan luar Yunani, Mesir dan Asia Tenggara. Bagaimana pematung handal kita apakah diperhitungkan tingkat kreativitasnya, dan bisakah ketokohannya diandalkan?
Berbeda seni patung di Indonesia adalah seni yang diciptakan memiliki fungsinya sendiri-sendiri. Patung di sekitar Bali banyak digunakan untuk bersembahyang. Berbeda dengan daerah lainnya. Seni patung daerah Batak juga banyak digunakan sebagai monumen, mengabadikan peristiwa penting. Menghormati sang tokoh, terutama tetua leluhur dan pejuang kemerdekaan. Keberadaan seni patung di daerah Toba sudah ada beberapa abad yang lampau.
Kelahiran Seni patung modern Indonesia diawali oleh para seniman (Hendra Gunawan, Trubus, Edhi Soenarso, dan lain-lain). Ada pula pematung kontemporer seperti Gregorius Sidharta, Jim Supangkat dan F. Widayanto. Iriantine Karnaya dan Tisna Sanjaya lebih ke penampilan wujud seni patung Instalasi di berbagai even. Selain perkembangan seni patung oleh seniman di atas, kini oleh pematung muda lebih menggemari tematik fauna dan flora. Tidak itu saja. Patung kreasi mereka juga terkesan lucunya luar biasa, lebih menonjol misalnya tentang hewan yang akrab dengan kita.
Kreasi seni patung hewan yang unik-unikpun lahir pula dari perupa Win Adi Laksono, Taufan Adi Priyono dan Syahrizal Zain. Ide kreatif itu tertuang ke bentuk karya-karya patung Budi S. Markitier dan Purdjito mereka dari batu almunium dan fiberglass. Berbagai pematung figuratif itu dahulu di Medan juga semarak. Ada Handono Hadi dan Utoyo Hadi. Berikutnya nama Sekar Gunung (Ki Heru Wiryono) dan M. Saleh. Karya mereka banyak terdapat di kota Medan dalam bentuk patung monumen. Sebagian karya mereka masih ada di halaman gedung atau persimpangan jalan protokol.
Seni patung modern baru dikembangkan dan dipelajari secara akademik misalnya dalam bentuk utuh dan juga relief.
Di dalam kampus Universitas Negeri Medan anda bisa menyaksikan deretan patung bergaya etnik Batak Toba megalitik. Saat ini para pematung memang tidak semenonjol seni lukis yang setiap saat bisa di buat karena bahannya mudah.
Patung diperlukan bakat khusus dan harus menguasai ilmu bahan dan kekuatannya. Begitu beragam cara dan gaya pematung tradisional Kalimantan, Makasar dan Papua menghasilkan karya uniknya.
Membuat sebuah karya patung seukuran tinggi orang atau lebih kalau memakai semen akan memakan biaya besar. Persiapan yang banyak mulai rancang bangun (konstruksi) cetakan atau dipahatkan lansung bahkan adan yang dicor.
Pematung Syahrizal dari Yogyakarta misalnya, kreasi patungnya terkesan plastis artinya objek digambarkan dalam bentuk figuratif yang sudah dideformasikan. Terkadang karya patung Syahrizal nampak aneh pada bentuk. Perlu apresiasi mendalam menyangkut tema yang diusungnya.
Bentuk patungnya figuratifnya sering berubah-ubah bentuknya itulah kekuatan olah estetikanya. Berbeda dengan Edhi Soenarsi. Lebih mengejar kemiripan, tapi karya Syahrizal total bahkan dia tak perduli karya itu laku atau tidak.
Bentuk figuratif patungnya sering berubah-ubah mulai bentuk hingga tema itulah kekuatan olah estetikanya. Berbeda dengan Edhi Soenarso yang lebih mengejar kemiripan tapi karya Syahrizal ia total bahkan ia tak perduli karya itu laku atau tidak. Sungguh menggembirakan bahwa para pematung kita di Indonesia tidak kalah kreatif dari sesama pematung di Asia bahkan dunia. Pematung Nyoman Nuarta itu sering membuat patung dalam ukuran raksasa seperti figur yang diambil dari kisah pewayangan Bali.











