Ekowisata Menarik di Aek Nauli

Oleh: Muhammad Ali, MLS

Saat ini, udara bersih sudah mahal harganya, karena hiruk pikuk kendaraan yang menghasilkan polusi untuk kita konsumsi sudah merajalela. Sebagai pengimbang  polusi di dada mari berwisata ke daerah yang masih alami. Aek Nauli adalah pilihan yang sangat ideal untuk menghirup udara segar tak berpolusi.

BEBERAPA puluh tahun yang lalu hutan Aek Nauli ini disebut juga dengan “Harangan Ganjang” yang terbentang dari Tiga Dolok sampai Aek Nauli. Hutannya masih padat, binatang buas masih berkeliaran di dekat rumah warga yang tinggal di dekat hutan.

Pada saat penulis masih remaja kalau melewati hutan ini berjalan kaki atau bersepeda,  koordinator perjalanan selalu berpesan kalau melewati Harangan Ganjang harus bersama-sama karena takut diserang  hewan buas, tetapi pemandangan seperti ini kini telah tiada, hewan buaspun seandainya ada sudah hijrah ke tempat yang lebih tinggi takut dengan kebuasan manuasia dan  yang tinggal hanya primata “monyet” yang melompat sana sini, walaupun terkadang dijerat atau ditembak untuk dikonsumsi.

Kita masih beruntung populasinya relatif banyak sehing­ga  anak cucu kita masih bisa melihat mereka lompat dari dahan ke dahan dan ada  juga yang turun ke jalan meminta makanan dari orang yang dalam perjalanan. 

Sejak tahun 2005 Hutan Aek Nauli telah menjadi Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK)  Aek Nauli dikuatkan berdasarkan Surat Menteri Kehutanan No.39/Menhut-II/2005, tanggal 7 Pebruari 2005 dengan luas areal 1.900 hektar. 

Tujuan pembentukan KHDTK ini adalah untuk tujuan penelitian dan kegiatan ekowisata agar kawasan ini bisa terlindungi dari tangan-tangan tidak bertanggungjawab dan diharapkan bisa mendatangkan manfaat bagi masyarakat sekitar dan karyawan Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK). Kawasan Aek Nauli ini sangat dingin dengan air yang cukup bening dengan ketinggian 1.200 m.dpl., kesegaran udara tanpa polusi mengundang para pengunjung untuk datang berulang kali.

Hal ini terbukti banyaknya tamu yang datang berkali-kali seperti contohnya para  Hasser  telah menjadikan tempat ini istilah penulis “the second house” karena seringnya melakukan trekking di hutan ini, begitu juga dengan beberapa sekolah dari Pematangsiantar, Medan dan kota lainnya ada yang telah membuat agenda kunjungan tahunan (annual visit)  untuk melakukan bermacam-macam kegiatan seperti trekking, pengenalan jenis tanaman  juga teori/ praktek pemeliharaan lebah madu hutan. BP2LHK Aek Nauli telah memiliki pakar lebah madu yang siap melakukan demonstrasi cara-cara pemeliharaan lebah madu ini.

Untuk mengunjungi ke Aek Nauli para tamu harus membuat surat izin berkunjung atau bermalam yang di alamatkan kepada Kepala Balai Penelitian dan Pengembang­an Lingkungan Hidup  dan Kehutanan Aek Nauli dengan menyebutkan kegiatan yang akan dilakukan. Untuk  kenyamanan perjalanan menuju hutan (Air terjun Aek Nauli 1, air terjun Aek Nauli 2, dan Puncak Panorama) pengunjung diharuskan membawa penunjuk jalan yang telah disediakan oleh BP2LHK hal ini penting mengingat perjalanan masuki hutan memerlukan rambu-rambu tersendiri agar tidak kesasar dan terkesan arogan. Untuk pembiayaan semua kegiatan ini bisa langsung ke lokasi karena relatif murah. 

Perjalanan pergi dan pulang memasuki hutan memakan waktu sekitar 3,5  jam dengan pemandangan tanaman hutan yang bervariasi, Air terjun dan Panorama (memandang Danau Toba) dari ketinggian 1.350 m.dpl. juga terdapat tanaman langka “Kantong Semar” (Nepenthes) yang dapat dijumpai disekitar panorama. Perjalanan akan sangat menyenangkan dan tentu juga banyak tantangan karena perjalanan mendaki dan menurun dengan menggunakan alat bantu tali dari pepohonan merambat. Di beberapa tempat akar tunjang kayu bisa dijadikan ayunan.

KHDTK  Aek Nauli telah menjadi Lokasi Penelitian beberapa Universitas di Sumatera Utara, karena hutan penelitian Aek Nauli memang sangat layak untuk dijadikan lokasi penelitian karena pada jalur trekking setiap pohon telah diberi label nama pohon dalam bahasa Indonesia, bahasa lokal (Batak) dan bahasa latin agar para peneliti dan mahasiswa yang sedang menulis skripsi/ thesis ataupun wisata edukasi tentang pengenalann jenis tanaman hutan dapat dengan mudah melaksanakan tugas mereka karena fasilitas di KHDTK ini telah lengkap.

Bagi peneliti ataupun mahasiswa yang akan menginap telah tersedia guest house dengan empat kamar tidur dan satu ruangan besar untuk pertemuan. Bagi yang membutuhkan makanan bisa di­siapkan oleh ibu-ibu darmawanita dengan harga terjangkau sesuai orderan.

Letak dan Aksesibilitas

Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus  Aek Nauli ter­ma­suk dalam wilayah Desa Sibaganding, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, dan terletak di jalan lintas Sumatera sekitar 36 km. dari kota Pematangsiantar menuju Parapat dan hanya 9 km. dari Kota Wisata Parapat dan mudah terjangkau. Dengan telah beroperasinya Bandara Silangit yang terletak di Siborongborong  Kabupaten Tapanuli Utara, kawasan ini dapat dicapai dengan waktu kurang lebih 90 Menit

Untuk kegiatan outbound bisa dilakukan atraksi turun tebing, trekking, dan flying fox. Topografi yang berbukitan menjadikan tempat ini ideal untuk dijadikan tempat meluncur dari ketinggian diantara pepohonan pinus.

Pada Bulan September tahun ini rencananya akan di­datangkan beberapa ekor gajah dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam. Dengan didatangkannya gajah maka kegiatan wisata yang ada di Aek Nauli akan bertambah. Tempat untuk Atraksi gajah sedang dikerjakan dan diharapkan selesai dalam waktu dekat sehingga perencanaan atraksi dan tempat duduk penonton sudah memenuhi standard keamanan. Kegiatan ini akan sangat menarik karena dilakukan di hutan bukan di lapangan terbuka atau di kota. Uniknya adalah penonton  masuk ke hutan menyaksikan gajah bukan gajah dibawa ke kota dan inilah yang dirasa cukup fair karena kita yang membutuhkan gajah maka kita mengunjunginya. Keberadaan gajah di KHDTK Aek Nauli akan melengkapi Wisata Edukasi yang beratapkan Ekowisata.      

Pondok Bulu

Sebelum sampai ke Aek Nauli atapun Parapat pengunjung  dari arah Siantar bisa sejenak rehat menikmati duduk santai di saung bersuasana hutan di Objek Wisata “Pondok Bulu” dengan saung-saung bertebaran di bawah pepohonan pinus menanti kita. Suasana rindang tanpa polusi bisa menjadi tempat rekreasi keluarga menghilangkan penat selama per­ja­lanan yang menikung kiri dan kanan sambil sekedar meng­isi perut dengan minuman dan makanan ringan di warung sekitar saung tersebut. Sekitar Objek Wisata Pon­dok Bulu juga anda bisa  menikmati aliran sungai yang jernih dan jalur-jalur treking yang telah disiapkan untuk  pengunjung. 

Mari ber­kunjung ke tempat yang masih alami dan tak berpolusi.***

()

Baca Juga

Rekomendasi