Di Balik Cacing Pita 10,5 Meter

Oleh: Sari Ramadhani.

PULUHAN orang berkumpul di depan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Desa Nagori Dolok, Kecamatan Silau Kahean, Kabupaten Simalungun. Wajah mereka tampak takjub sekaligus bingung saat melihat cacing pita yang bernama latin Taenia asiatica dengan panjang mencapai 10,5 meter lebih.

Cacing ini berasal dari tubuh seorang penduduk Nagori Mariring, Kalekson Saragih (64). Cacing sepan­jang 10,5 meter keluar dari perutnya sekitar tiga minggu lalu usai buang air besar (BAB) setelah meminum obat bernama Praziquantel yang diberikan dokter dari peneliti Fakultas Kedok­teran Universitas Islam Sumatera Utara (FK UISU), Dr dr Umar Zein DTM&H SpPD KPTI.

“Selama 25 tahun ini, cacing pita terus keluar dari dubur saya, tidak hanya ketika BAB. Keluarnya sepo­tong-potong dan membuat risih,” ungkap kakek tua itu didampingi istri­nya, Horamina Purba yang juga menderita cacing pita.

Berdasarkan penuturannya, cacing pita sudah sangat lama ber­sarang di tubuhnya. Disinyalir karena kuat mengkonsumsi makanan tradisional khas Simalungun yang berasal dari daging babi yang tidak dimasak matang, yakni Naniholat dan Hina­sumba. Bahkan, sebagian besar pendu­duk di wilayah ini pun menderita kecacingan pita sudah sejak lama.

Makanan tradisional agaknya men­ja­di daya tarik dan ciri khas dari suatu daerah. Namun, bagaimana jika pe­nganan kebanggaan masyarakat lokal ini berdampak buruk bagi kesehatan? Sajian naniholat sangat digemari penduduk di Simalungun. Sudah sejak turun-temurun dari leluhur mereka menjadi kebiasaan dan budaya serta adat mengkonsumsi daging babi men­tah yang dinikmati dengan perasan jeruk nipis itu.

Kemudian, ada pula yang disebut hinasumba atau daging babi masak merah (Masmer). Dalam olahan ini, tuturnya, babi hanya disiram air panas, kemudian ditambahkan kulit kayu (sikam) dan disiram darah. Daging mentah sudah mengandung cacing pita (Taenia solium) apalagi jika pengo­lahannya tidak matang dan masuk ke tubuh manusia.

“Setelah keluar cacing yang 10 meter ini, saya jera tidak mau makan hinasumba dan naniholat lagi. Saya juga menasehati keluarga. Apalagi nanti cari obatnya susah, tidak ada di Indonesia,” ungkapnya.

Peneliti dari FK UISU yang tekun meneliti kasus itu, Dr dr Umar Zein DTM&H SpPD KPTI menyampaikan, cacing sepanjang 10,5 meter ini merupakan penemuan kedua. Sebe­lumnya, Oktober 2017, cacing dengan panjang 2,86 meter juga ditemukan di Nagori Dolok. Pasien sebelumnya bernama Jamer Sinaga.

Pasien yang menderita cacing pita di perutnya, sam­bung­nya, umumnya akan mengeluarkan potongan atau ruas-ruas cacing (proglotid) dari anusnya. Kondisi ini sangat mere­sahkan, karena proglotid bisa keluar kapan saja meskipun tidak sedang BAB. Sangat tidak nyaman jika sedang ber­santai dengan keluarga harus merasakan hal itu.

“Cacingnya keluarnya dalam bentuk proglotid. Tetapi, sebenarnya hanya ada satu atau dua cacing di dalam tubuh manusia. Panjangnya bisa mencapai 35 meter dan hidup sela­ma bertahun-tahun di dalam usus,” terangnya.

Dokter ahli penyakit tropis ini menyebutkan, pengobatan cacing pita sebenarnya sangat mudah dengan cara meminum obat Yomasen dari Thailand atau Praziquantel dari Vietnam. Namun, di Indonesia tidak terdapat kedua jenis obat itu.

“Penyembuhannya gampang. Kalau cacing pita sudah keluar dari ekor hingga kepalanya sudah sembuhlah itu. Na­mun, obatnya yang susah dan sampai saat ini pemerintah be­lum menyediakan,” jelasnya.

Timnya membawa 150 butir Praziquantel untuk dibagikan kepada penderita di Silau Kahean, Simalungun. Setelah mengkonsumsi obat itu, penderita akan BAB setelah empat jam. Kemudian fesesnya akan diperiksa karena diagnos­tik­nya melalui perkembangan telur di feses.

“Selama jadi dokter 30 tahun, ini menjadi kasus cacing pita terbanyak,” ungkapnya.

Pembantu Dekan II FK UISU, dr Indra Janis MKT me­nambahkan, ini menjadi temuan terpanjang untuk kasus ca­cing pita. Pihaknya terus berusaha menemukan dan meneliti kasus lain untuk mengobati masyarakat di wilayah itu.

“Ini rekor penelitian FK kita. Langkah selanjutnya kita akan teliti lagi karena kasus cacing pertama dan kedua ada perbedaan struktur dan ingin dilanjutkan dengan penelitian biomolekuler,” tambahnya.

Melalui penyuluhan, sambungnya, timnya berharap ke depannya masyarakat tidak lagi memakan daging babi yang tidak dimasak atau mentah. Pihaknya masih berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan untuk penyediaan obat.

“Ini bentuk kepedulian kami. Semoga bermanfaat untuk kasus kecacingan di Negeri Dolok dan bisa tercapai nihil kasus,” pungkasnya.

()

Baca Juga

Rekomendasi