Negara kaya minyak berutang sekitar 200 juta dolar AS kepada investor dan gagal menyelesaikan pembayaran sampai ujung masa tenggang 30 hari yang akan berakhir pada pekan depan. Akibatnya, S&P menurunkan peringkat kredit Venezuela menjadi SD.
Terguncang karena terlambat melakukan pembayaran dan nyaris mengalami krisis tunai, ini pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir Pemerintah Venezuela melampaui tenggat waktu pembayaran utangnya. Perusahaan minyak Venezuela, Petroleos de Venezuela SA, juga sudah dinyatakan default oleh dua lembaga pemeringkat lain Fitch Ratings dan Moody’s Investors Service.
Dalam beberapa bulan belakangan, Venezuela memang harus berjuang mengatasi keterlambatan pembayaran karena sanksi-sanksi AS yang dikenakan pada negara ini telah menghambat kelancaran rantai pembayaran.
Dengan kondisi cadangan dana terendah hampir 15 tahun, pejabat pemerintahan Venezuela meminta dilakukannya negosiasi ulang untuk semua utang global negara tersebut.
Untuk itu, para pemegang obligasi diundang ke Caracas pada Senin (13/11) guna melakukan perundingan.
Moody’s juga memiliki outlook negatif pada peringkat kredit Venezuela. Kondisi itu mencerminkan kemungkinan negara itu akan kembali mengalami default dalam tiga bulan ke depan. Para investor yang memegang obligasi senilai 5 miliar dolar AS dan jatuh tempo pada 2019 dan 2024 bisa menuntut Venezuela segera melunasi seluruh utangnya.
International Swaps and Derivatives Association menggelar pertemuan pada Selasa (14/11) untuk membahas apakah keterlambatan perusahaan minyak Petroleos de Venezuela SA membayar bunga obligasi yang akan berakhir satu pekan lagi akan memicu munculnya kontrak asuransi default pada sekuritas lain sejenis itu. (Blmbrg/asri)











