Harta yang Paling Mulia

Oleh: Bhikkhu Thitavamso Thera.

NamoTassaBhagavatoArahatoSammasambuddhassa

kebahagiaan adalah sesuatu yang dinginkan setiap manusia, dan untuk mendapatkan kebahagiaan tentu kita ha­rus memiliki harta, banyak orang men­cari harta berbagai macam cara, ada yang mencari harta berupa materi sebanyak-ba­nyaknya untuk ditabung agar mejadi ba­hagia, namun kenyataanya banyak orang yang memiliki simpanan harta ber­limpah tetapi tidak merasakan kebaha­giaan, bah­kan banyak didunia ini orang yang ti­dak kekurangan materi sedikit pun tetapi tidak merasa bahagia hingga sam­pai me­ngakiri hidupnya sendiri. Jika de­mikian lalu  apa sesungguhnya harta yang paling berharga yang harus kita miliki se­hing­ga kebaha­giaan sejati kita dapatkan?.

Warisan Samasambuddha lah yang se­sungguhnya harta yang paling berharg, Dhamma adalah harta yang paling ber­harga. Jika misalnya seseorang menggali dan menemukan, serta memanfaat­kan­nya, orang tersebut akan menjadi kaya da­lam sepanjang hidupnya, kaya dalam ke­sa­daran dan kebijaksanaan serta amat bahagia. Inilah warisan Buddha.

Dhamma berarti segala sesuatu yang baik, sejuk, damai, sejahtera, dan terang. Seseorang yang telah memperoleh pe­nger­­tian tentang Dhamma memiliki hati yang baik, tenang, damai, bermanfaat, ber­budi luhur, dan bijaksana. Apapun yang ia laku­kan, dilakukannya dengan pe­nuh semangat, perhatian, dan bijaksana, karena batin mere­ka tenang dan damai, dan pikiran mereka terang dan jernih. Se­seorang yang memiliki Dhamma tidak pernah merasa kesepian te­tapi penuh se­mangat, pengeta­huan, kesa­daran, dan kebahagiaan.

Bagaimana kita bisa mencapai keada­an tersebut di dalam hidup kita? Kita ha­rus memiliki semangat latihan, praktek, dan mempunyai pendirian yang benar. Ja­lan yang paling cepat adalah dengan sela­lu memancarkan cinta-kasih, melakukan tugas anda dengan baik, mencurahkan isi hatimu dengan apa yang engkau kerjakan. Dengan cinta-kasih sebagai landasannya, praktekanlah dengan orang-orang terde­kat anda terlebih dahulu, maka akan lebih mudah anda menerapkan ke orang lain. Dhamma adalah kewajiban/tugas. Seseo­rang yang tidak melakukan tugas seorang ibu, dia bukanlah seorang ibu. Begitu pu­la, seorang ayah harus melakukan tugas seorang ayah kepada anak-anaknya. Jika seseorang mengabaikan tugasnya, ia s­e­ma­ta-mata disebut manusia tetapi bukan manu­sia yang baik, maka dari itu laku­kanlah sesuatu yang baik sesuai dengan dhamma karena ini adalah harta yang tidak akan pernah hilang. Telah dikatakan di dalam Nidhikhandha Sutta: “Asadha­rata mannesam, acoraharato nidhi kayi­ratha dhiro punnani, yo nidhi anugamiko, esa devamanussanam. Tiada seseorang pun yang dapat mengambilnya, peram­pok-perampok pun tidak dapat meram­pasnya, maka, lakukanlah perbuatan baik (jasa), inilah harta yang susul menyususl, inilah harta yang memuaskan keinginan para deva dan manusia”.

Jika kebaikan-kebaikan dalam dham­ma kita mampu mempraktekan didalam kehidupan sehari-hari dengan baik se­sungguhnya inilah harta yang paling ber­harga, berharganya suatu harta apabila harta tersebut mampu membuat keba­ha­gia sang pemiliknya, sang pelakunya yaitu pelaku dhamma.

“Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia”

()

Baca Juga

Rekomendasi