Medan, (Analisa). Ceng Beng adalah tradisi yang dilaksanakan oleh warga Tionghoa untuk menghormati para leluhurnya dengan cara berziarah ke kuburan atau berdoa di abu jenazahnya.
Tradisi Ceng Beng tahun ini jatuh pada 4 April (Sa Guek Che Pek). Sampai sekarang, tradisi ini masih dilakukan oleh warga Tionghoa di Indonesia sebagai tradisi turun temurun.
Tetapi juga ada warga Tionghoa yang sudah tidak lagi melakukan tradisi ini dikarenakan keyakinannya atau tidak lagi diturunkan oleh orangtuanya.
Hal itu disampaikan Tokoh Pemuda Tionghoa Medan yang juga Wakil Sekretaris Ikatan Pemuda Tionghoa Indonesia Sumatera Utara (IPTI Sumut), Sandy Wu kepada Analisa, Rabu (22/3) di Medan.
Menyambut Ceng Beng tahun ini, ungkap Sandy Wu, dirinya sudah mempersiapkan segala sesuatu. Tradisi Ceng Beng yang dilakukannya merupakan tradisi turun temurun dari keluarga. Tradisi tersebut sebagai sebagai penghormatan kepada leluhur, yakni kedua buyut, kakek dan nenek serta sanak saudara.
"Kegiatan yang kami lakukan adalah mengunjungi kuburan, membersihkannya, menaruh aneka makanan di depan kuburan, berdoa dengan hio (dupa) dan membakar lembaran kertas,” jelas Sandy
Selain ke kuburan, lanjut Sandy, ada juga warga Tionghoa yang menghormati leluhur dengan berdoa di depan abu jenazah. Soalnya ada sebagian warga yang saat meninggal tidak dimakamkan, tetapi dikremasi dan dimasukkan ke dalam guci.
“Upacara sembayang di depan abu jenazah biasanya kita menaruh aneka makanan di depan guci dan dipasangi hio,” terangnya.
Dijelaskannya, pesan dari tradisi Ceng Beng bagi sebagian warga Tionghoa adalah untuk mengingatkan kita sebagai manusia agar berbakti kepada orang tua atau leluhur meskipun mereka sudah meninggal dunia.
“Tradisi ini diajarkan oleh orangtua kepada anak cucunya agar dapat meneruskan kebiasaan ini dalam bentuk merawat kuburan leluhurnya atau menghormati abu jenazahnya," ungkapnya.
Melalui tradisi ini, tambah Sandy Wu, keluarga berkesempatan menjalin kekerabatan dengan pulang ke daerah masing-masing untuk mengunjungi kuburan leluhur secara bersama-sama.
“Ceng Beng diperingati setiap tahun sebagai bentuk penghormatan, bakti dan kesetiaan anak cucu kepada leluhurnya. Generasi penerus diharapkan pula menghormati leluhurnya dalam bentuk menjaga nama baik leluhur dalam sikap dan perilaku masyarakat,” pungkasnya. (twh)











