Zaenal Beta, Pelukis Tanah Liat

Oleh: Dr. MH Heikal. Lumrahnya, untuk me­lu­kis, kita memerlukan cat ataupun tinta. Tidak dengan Zae­nal Beta. Pelukis berambut gon­drong ini tidak memerlu­kan itu. Cu­kup dengan tanah liat, dia dapat melu­kis. Meng­hasilkan karya-karya yang luar biasa dan memukau.

Ide pertama melukis de­ngan bahan ta­nah liat, dia da­patkan secara tidak se­ngaja. Sa­at berusia 20 tahun, Zaenal me­lihat selembar kertas putih terjatuh di­ta­nah. Lama-kela­maan dia pandangi, se­hing­ga seperti membentuk motif yang enak dipandang. Naluri kreati­vitasnya mun­cul seketika. Se­jak itulah Zaenal terus meng­eksplorasi lukisannya dengan tanah liat.

Zaenal Beta lahir di Makas­sar, Sula­wesi Selatan pada 19 April 1960. Sejak berusia 9 ta­hun dia telah senang meng­gam­bar. Kendati orangtuanya melihat ba­kat melukis Zaenal, sayangnya, me­reka tak bisa me­nerima kenyataan kalau anak­nya menekuni bakat itu.

Zaenal sebagai satu-satu­nya anak le­laki dalam keluarga (dua saudara le­la­kinya sudah meninggal). Dia sangat di­ha­rap­kan menjadi tumpuan kelu­arga. Orangtuanya ingin dia sekolah, kemu­dian menjadi pegawai yang bergaji tetap.

Tak hendak melawan orang tua, Zae­nal tetap berse­kolah. Diam-diam dia suka per­gi ke Benteng Rotterdam un­tuk ber­gabung dengan bebe­rapa pelukis di­sana. Ketika itu dia masih duduk di­bang­ku SMP.

Mulailah dia menjadi kartu­nis dime­dia lokal Pedoman Rak­yat. Melanjutkan ke SMA, Zaenal menjadi pembina dan se­­ring ikut mengajar anak-anak melukis serta mem­buat ka­rikatur. Dia juga kerap me­­ng­iku­ti pameran dan membuat ba­nyak lukisan. Lama-kelamaan, dia tak ta­han krea­tivi­tasnya dibatasi am­bisi orang tuanya. Ta­hun 1980, dia menyatakan tak ingin lagi sekolah dan hanya ingin me­lukis. Dia minta pengertian dan restu mereka dari orang tuanya.

Dalam melukis, Zaenal yang berali­ran ekspresionis tidaklah menggunakan kuas. Cukup dengan jemarinya dan se­di­kit bantuan dari bilah bam­bu. Jadilah se­buah lukisan da­lam waktu beberapa me­nit saja. Tahap pertama membuat ka­ryanya ialah tanah liat di­saring dengan halus, kemudian dikeringkan. Setelah itu di­­cam­pur dengan air dalam wa­dah-wa­dah kecil. Saat keken­tal­an cukup, dia lang­sung me­ngoles permukaan kertas de­ngan larutan tanah liat.

Dia menggunakan bebera­pa jenis tanah liat. Selalu dia sem­patkan menco­ba berbagai ta­nah liat kemana pun dia per­gi. Dari proses pencarian ini, dia mene­mu­kan bahwa tiap tempat mempu­nyai jenis tanah yang khas, baik keken­ta­­lan, warna, maupun kehalusannya.

Dia berburu bahan tanah li­at di ber­ba­gai daerah di Sula­wesi Selatan untuk menemu­kan karakter warna yang bera­gam untuk lukisannya. Zaenal menjelas­kan, tanah liat yang di­gunakan tidak bisa sem­ba­rangan. Dia memilih tanah liat dari 24 kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan.

Setiap tanah liat tersebut me­miliki ka­rak­ter masing-ma­sing. Sesuai dengan ke­bu­tuhan untuk menyalurkan imajina­si­­nya. Dia sempat menggunakan tanah liat dari luar wilayah Su­lawesi Selatan. Ter­nya­ta ti­dak sesuai. Beberapa terlalu ke­ras dan war­­na­nya tidak se­suai seperti yang dia harapkan.

Ditahun 1986, Zaenal Beta diundang ber­pameran di Ta­man Ismail Marzuki, Ja­­karta. Lewat pameran itulah dia ber­temu dengan Affandi, sang ma­estro pe­lukis Indonesia. Affandi sangat terkesan pada karya-karya Zaenal. Affandi me­nye­­but lukisan Zaenal se­bagai ide yang krea­tif dan se­buah ‘penemuan’.

“Saya itu doktor, kamu itu profesor ka­rena telah mene­mu­kan teknik baru.” De­miki­anlah Zaenal dengan bangga me­nirukan ucapan Affandi, sembari ter­se­nyum mengingat kejadian itu. Untuk saat ini pu­la Zaenal dianggap satu-sa­tu­nya pe­lukis yang mengguna­kan media tanah liat oleh University of California.

Karya-karya Zaenal identik dengan ni­lai budaya khas Su­lawesi Selatan. Se­perti lukisan Perahu Phinisi. Lukisan senja dan rumah arsitektur Bugis-Ma­kas­sar atau pemain Sepak Raga. Ka­ryanya ini menghiasi dinding-dinding ho­tel berbin­tang di Makassar. Bahkan te­lah menjadi buruan kolektor lukisan yang datang berkun­jung ke Makassar.

Setiawan Djodi dan Guruh Soekarno­putra pernah meme­san lukisannya. Zae­nal memi­li­ki keinginan suatu saat Wakil Pre­siden Jusuf Kalla membeli karyanya. Dia berharap seba­gai seorang asli dari Makassar Jusuf Kalla dapat mengapre­sia­si karyanya. Agar hasil lu­kisannya di­kenal oleh saudara­nya di negeri sendiri.

Zaenal Beta telah meraih be­berapa peng­hargaan. Antara lain: Penghargaan Philips Morris karena masuk 60 besar dalam kompetisi senilukis se-ASEAN 1986. Dia termasuk Delapan Besar In­ter­nasional Lomba Karikatur Anti Apartheid 2003. Selain itu, juga men­jadi juara ke­tiga Lomba Pos­ter Pemberda­yaan Pe­rem­­pu­an di Beijing, China.

Di usia menuju 57 tahun, Zaenal Beta terus bergiat me­lukis disanggarnya di Fort Rot­terdam, Makassar. Kalau ke­be­tulan berjalan-jalan disana, sempat­kan­lah singgah ke gale­rinya. Untuk melihat hasil ‘pe­nemuan’-nya yang luar biasa ini.

()

Baca Juga

Rekomendasi