Karena Tinggalkan Kapal dalam Bahaya

Empat Nahkoda Dijuluki "Kapten Pengecut"

NAKHODA adalah seo­rang pemimpin kapal. Istilah kap­ten pula digunakan bagi seorang nakhoda yang per­nah mengawal sebuah kapal. Nak­hoda adalah per­wira laut yang memegang komando terting­gi di atas kapal niaga/ kapten kapal.

Setelah pesawat dan ken­da­raan darat, kapal laut men­jadi salah satu alat transportasi yang sering digu­na­kan orang. Laut terbentang luas, dengan memakai kapal jalur yang dile­wati lebih leluasa untuk di pilih tanpa ada kekha­wa­tiran un­tuk ber­ta­brakan de­ngan kapal lain.

Namun pada kenya­taan­nya, ta­brakan antar kapal juga terjadi. Karena berada jauh dari daratan, bila menga­lami kecelakaan kapal yang berada di tengah laut ini juga perlu waktu lama untuk menunggu ban­tuan andaikata kapal me­ng­ala­mi kecelakaan atau tenggelam.

Kapal selalu dilengkapi dengan sko­ci dan pelampung dengan hara­pan mereka bisa menolong diri me­reka sendiri apabila kapal yang me­­reka tumpangi mengalami kece­la­kaan.

Dalam dunia pelayaran, ada pera­turan. Sang nahkoda dan ABK, di­larang mening­galkan kapal sebe­lum semua penumpang lain sela­mat. Peraturan ini sudah disepakati semua pelaku pelayaran di seluruh dunia dan menjadi semacam kode etik.

Semua orang yang bekerja se­bagai nahkoda atau ABK tahu akan peraturan ini. Walau semua tahu, tak jarang kode etik tersebut dilang­gar para nahkoda kapal.

Tak jarang ketika kapal meng­alami kecelakaan, entah terbakar atau bertabrakan dengan kapal lain, mereka justru pergi menyelamat­kan diri terlebih dahulu. Berikut be­berapa kapten pengecut di dunia yang mening­galkan kapal dalam keadaan bahaya:

1. Captain Coward (Kap­ten Penge­cut)

Dijuluki “Captain Co­ward” oleh media interna­sional, Franchesco Schettino berargumen bahwa dia tidak lebi dari “kambing hitam” atas bencana kapal pesiar yang me­renggut korban jiwa 32 orang.

Dia percaya untuk menah­kodai kapal Costa Concordia asal Italia. Pada 13 Januari 2012, dia memba­wa kapal yang mengangkut 1000 orang lebih di wilayah Giglio, La­tina Italia.

Ketika dia se­dang pamer ke­ma­hiran me­nge­mudi kapal kepada salah satu kenalan ceweknya, tiba tiba kapal yang dia nahkodai meng­hantam batu di bawah laut.

Tidak lama setelah itu, kapal mu­lai kemasukan air. Bukannya me­nolong, sang kapten memilih me­ning­gal­kan kapal, membiarkan kru dan penumpang di kapal yang dalam bahaya itu.

Akibat kecelakaan kapal terse­but, 32 orang meninggal dunia ka­rena tenggelam. Se­mentara sang kap­ten tidak basah sedikit pun ka­rena naik skoci yang tersedia di ka­­pal. Sebagai pelanggarannya, dia kemudian dibawa ke penga­dil­an dan didakwa dengan hukuman 16 tahun penjara.

2. Kapten Yianis Avranas

Yianis Avranas ini meru­pakan nahkoda kapal Yunani bernama Greek Luxury Liner Oceanos.

Tahun 1991 dia membawa pe­num­pang untuk berpesiar di pantai Afrika Selatan. Kapal pesiar asal Yu­nani ini tiba-tiba mengalami ke­rusak­an dan tenggelam.

Anehnya, sang nahkoda dan para ABK justru kabur du­luan meng­gu­nakan sekoci yang ter­sedia. Para kru kapal pesiar tersebut meninggal­kan penumpang.

Yang tersisa di kapal ha­nyalah para penyanyi dan tu­kang masak be­serta penum­pang. Untung saja, ada patroli dari Afrika selatan yang berhasil menyelamatkan para pe­numpang satu persatu.

Ketika diadili, sang nah­koda ini berkilah bahwa dia telah meme­rin­tahkan semua orang untuk me­ning­galkan ka­pal. Namun mereka tidak mau meninggalkan kapal itu.

Alasan para penumpang tidak mau meninggalkan kapal karena se­mua kapal penyelamat sudah dipa­kai oleh sang nahkoda bersama ABK-nya.

3. Kapten Kapal Zang Shunwen

Salah satu tragedi kece­la­kaan paling heboh di Tiong­kok terjadi pada Juni 2015. Kapal pesiar yang me­ngalami kecelakaan tersebut bersama Eastern Oriental Star.

Kapal ini nahkodai oleh Zang Shun­­we. Kapal tersebut meng­ang­kut 450 penumpang dan rata rata adalah orang tua. Kapal pesiar yang satu ini sedang melintasi sungai Yangtze.

Untuk menghindari badai, sang kapten kapal melakukan manuver belok darurat. Ru­panga sudut belok yang di­ambil terlalu tajam sehingga kapal pesiar tersebut tergu­ling.

Akibat kecelakaan itu, 435 orang meninggal. Hanya 14 orang yang berhasil selamat. Ajaib­nya, sang kapten justru sela­mat.

Setelah dilakukan penca­rian selama dua jam, sang kapten ini ditemukan se­lamat tanpa cidera apapun. Dia ditu­duh meninggalkan kapal se­hingga memba­hayakan penum­pang lain yang perlu dise­lamatkan.

Tindak­annya yang berla­yar me­nuju badai juga mem­perberat dakwaan. Yang me­ngejutkan, sete­lah menye­babkan 435 orang me­ninggal dia lolos dari jerat hukum dan izin sebagai nahko­danya dicabut.

4. Kapten Kapal Sewol

Siap menjadi nahkoda, seharus­nya siap berusaha se­kuat tenaga un­tuk menjaga keselamatan para penum­pang­nya yang berada dalam bahaya.

Namun apa yang dilakukan nah­koda berumur 68 tahun ini benar be­nar tidak terpuji. Namanya Lee Jon Seok. Dia adalah kapten kapal feri asal Korea Selatan (Korsel).

Kapal yang dinakhodai meng­angkut 300 anak seko­lah yang se­dang mengadakan field trip. Tiba tiba kapal tersebut mengalami keru­sa­kan dan siap tengge­lam. Bukan­nya membe­­rita­hukan akan ke­adaan yang se­benarnya, sang kap­ten ­be­serta ABK justru ber­bohong dan me­ngatakan semua­nya baik baik saja.

Sang kapten memerin­tah­kan se­mua penumpang yang masih anak anak tersebut supaya tetap tinggal di kapal, sementara sang kap­ten ber­sa­ma ABK kabur naik perahu se­koci dengan alasan me­minta bantuan.

Sebanyak 300 anak seko­lah me­ninggal dalam insiden tersebut. Sang nahkoda bersama beberapa ABK di­tangkap. Sang nahkoda di­dakwa dengan pasal pem­bunuhan. Dia dijatuhi hu­kum­­an seumur hi­dup. Se­men­­tara dua ABK dianggap ikut bertanggung jawab dan dihu­kum 30 tahun penjara. (listvs/es)

()

Baca Juga

Rekomendasi