NAKHODA adalah seorang pemimpin kapal. Istilah kapten pula digunakan bagi seorang nakhoda yang pernah mengawal sebuah kapal. Nakhoda adalah perwira laut yang memegang komando tertinggi di atas kapal niaga/ kapten kapal.
Setelah pesawat dan kendaraan darat, kapal laut menjadi salah satu alat transportasi yang sering digunakan orang. Laut terbentang luas, dengan memakai kapal jalur yang dilewati lebih leluasa untuk di pilih tanpa ada kekhawatiran untuk bertabrakan dengan kapal lain.
Namun pada kenyataannya, tabrakan antar kapal juga terjadi. Karena berada jauh dari daratan, bila mengalami kecelakaan kapal yang berada di tengah laut ini juga perlu waktu lama untuk menunggu bantuan andaikata kapal mengalami kecelakaan atau tenggelam.
Kapal selalu dilengkapi dengan skoci dan pelampung dengan harapan mereka bisa menolong diri mereka sendiri apabila kapal yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan.
Dalam dunia pelayaran, ada peraturan. Sang nahkoda dan ABK, dilarang meninggalkan kapal sebelum semua penumpang lain selamat. Peraturan ini sudah disepakati semua pelaku pelayaran di seluruh dunia dan menjadi semacam kode etik.
Semua orang yang bekerja sebagai nahkoda atau ABK tahu akan peraturan ini. Walau semua tahu, tak jarang kode etik tersebut dilanggar para nahkoda kapal.
Tak jarang ketika kapal mengalami kecelakaan, entah terbakar atau bertabrakan dengan kapal lain, mereka justru pergi menyelamatkan diri terlebih dahulu. Berikut beberapa kapten pengecut di dunia yang meninggalkan kapal dalam keadaan bahaya:
1. Captain Coward (Kapten Pengecut)
Dijuluki “Captain Coward” oleh media internasional, Franchesco Schettino berargumen bahwa dia tidak lebi dari “kambing hitam” atas bencana kapal pesiar yang merenggut korban jiwa 32 orang.
Dia percaya untuk menahkodai kapal Costa Concordia asal Italia. Pada 13 Januari 2012, dia membawa kapal yang mengangkut 1000 orang lebih di wilayah Giglio, Latina Italia.
Ketika dia sedang pamer kemahiran mengemudi kapal kepada salah satu kenalan ceweknya, tiba tiba kapal yang dia nahkodai menghantam batu di bawah laut.
Tidak lama setelah itu, kapal mulai kemasukan air. Bukannya menolong, sang kapten memilih meninggalkan kapal, membiarkan kru dan penumpang di kapal yang dalam bahaya itu.
Akibat kecelakaan kapal tersebut, 32 orang meninggal dunia karena tenggelam. Sementara sang kapten tidak basah sedikit pun karena naik skoci yang tersedia di kapal. Sebagai pelanggarannya, dia kemudian dibawa ke pengadilan dan didakwa dengan hukuman 16 tahun penjara.
2. Kapten Yianis Avranas
Yianis Avranas ini merupakan nahkoda kapal Yunani bernama Greek Luxury Liner Oceanos.
Tahun 1991 dia membawa penumpang untuk berpesiar di pantai Afrika Selatan. Kapal pesiar asal Yunani ini tiba-tiba mengalami kerusakan dan tenggelam.
Anehnya, sang nahkoda dan para ABK justru kabur duluan menggunakan sekoci yang tersedia. Para kru kapal pesiar tersebut meninggalkan penumpang.
Yang tersisa di kapal hanyalah para penyanyi dan tukang masak beserta penumpang. Untung saja, ada patroli dari Afrika selatan yang berhasil menyelamatkan para penumpang satu persatu.
Ketika diadili, sang nahkoda ini berkilah bahwa dia telah memerintahkan semua orang untuk meninggalkan kapal. Namun mereka tidak mau meninggalkan kapal itu.
Alasan para penumpang tidak mau meninggalkan kapal karena semua kapal penyelamat sudah dipakai oleh sang nahkoda bersama ABK-nya.
3. Kapten Kapal Zang Shunwen
Salah satu tragedi kecelakaan paling heboh di Tiongkok terjadi pada Juni 2015. Kapal pesiar yang mengalami kecelakaan tersebut bersama Eastern Oriental Star.
Kapal ini nahkodai oleh Zang Shunwe. Kapal tersebut mengangkut 450 penumpang dan rata rata adalah orang tua. Kapal pesiar yang satu ini sedang melintasi sungai Yangtze.
Untuk menghindari badai, sang kapten kapal melakukan manuver belok darurat. Rupanga sudut belok yang diambil terlalu tajam sehingga kapal pesiar tersebut terguling.
Akibat kecelakaan itu, 435 orang meninggal. Hanya 14 orang yang berhasil selamat. Ajaibnya, sang kapten justru selamat.
Setelah dilakukan pencarian selama dua jam, sang kapten ini ditemukan selamat tanpa cidera apapun. Dia dituduh meninggalkan kapal sehingga membahayakan penumpang lain yang perlu diselamatkan.
Tindakannya yang berlayar menuju badai juga memperberat dakwaan. Yang mengejutkan, setelah menyebabkan 435 orang meninggal dia lolos dari jerat hukum dan izin sebagai nahkodanya dicabut.
4. Kapten Kapal Sewol
Siap menjadi nahkoda, seharusnya siap berusaha sekuat tenaga untuk menjaga keselamatan para penumpangnya yang berada dalam bahaya.
Namun apa yang dilakukan nahkoda berumur 68 tahun ini benar benar tidak terpuji. Namanya Lee Jon Seok. Dia adalah kapten kapal feri asal Korea Selatan (Korsel).
Kapal yang dinakhodai mengangkut 300 anak sekolah yang sedang mengadakan field trip. Tiba tiba kapal tersebut mengalami kerusakan dan siap tenggelam. Bukannya memberitahukan akan keadaan yang sebenarnya, sang kapten beserta ABK justru berbohong dan mengatakan semuanya baik baik saja.
Sang kapten memerintahkan semua penumpang yang masih anak anak tersebut supaya tetap tinggal di kapal, sementara sang kapten bersama ABK kabur naik perahu sekoci dengan alasan meminta bantuan.
Sebanyak 300 anak sekolah meninggal dalam insiden tersebut. Sang nahkoda bersama beberapa ABK ditangkap. Sang nahkoda didakwa dengan pasal pembunuhan. Dia dijatuhi hukuman seumur hidup. Sementara dua ABK dianggap ikut bertanggung jawab dan dihukum 30 tahun penjara. (listvs/es)











