Erina Wongso, wanita kelahiran 14 Desember 1977 ini hadir untuk memotivasi ribuan peserta dalam hal moralitasnya. Disebutkannya belajar ilmu moralitas bisa diibaratkan dengan sebuah wadah. Dari wadah, kita bisa belajar mendeteksi diri kita. Bukan malah melihat kekurangan orang lain.
"Setelah memahami lebih dalam moral dan kekurangan kita, maka cobalah perbaiki kekurangan itu dengan cara menambal kekurangan tersebut," ujarnya.
Perempuan yang sering melatih para warga binaan dan sejumlah elemen masyarakat lainnya ini juga menambahkan, setelah diperbaiki kekurangan (penyakit) dalam diri tersebut, barulah tingkatkan ilmu dan kebijaksanaan dalam diri.
"Jadi ibarat wadah. Kalau wadah itu bocor. Diisi terus menerus, maka tidak akan ada yang terisi. Begitu juga dengan diri kita. Kalau kita tidak pernah tahu kebocoran (kekurangan) dalam diri kita, maka diisi terus menerus pun dengan ilmu, maka tidak akan ada gunanya," ucapnya.
Misalnya penyakit malas, jika tidak ditempel, maka kita tidak bisa memperbaiki malas tersebut. Begitu juga dengan penyakit lainnya.
Erina mengingatkan jangan lupa untuk bersyukur. Mulai dari bersyukur kepada negara, ayah dan ibu, guru, teman-teman, petani yang telah bekerja keras dan bersyukur kepada khalayak ramai.
"Karena moralitas itu adalah bersyukur. Mari kita tingkatkan moralitas kita dengan bersyukur. Karena moral juga merupakan kasih," ucapnya.
Sebelum Erina tampil, peserta yang hadir dalam acara diperlihatkan beragam tarian dari budaya di Indonesia mulai dari Aceh sampai Papua. Ada juga persembahan tarian Bhinneka Tunggal Ika yang menghibur peserta. (ns)










