Oleh: Dr. Agus Priyatno, M.Sn
Islam seakan dikenal sebagai ajaran penuh kekerasan, ancaman dan peperangan di sejumlah kalangan di penjuru dunia. Berbagai peristiwa di Tanah Air maupun di berbagai belahan dunia lainnya, masyarakat pemeluk Islam (muslim) seakan diwartakan seperti itu. Jika kita menilik langsung pada ajaran Islam yang tertulis di kitab suci Quran, sesungguhnya ajaran Islam itu sangat lembut. Di dalamnya terdapat anjuran tentang sifat pengasih, penyayang, pengampun, keadilan dan keindahan. Hukum balas (Qisas) sebagai contoh, tertulis seseorang diberi hak membalas, tetapi lebih baik jika mengampuni. Pada pengampunan itulah letaknya kemuliaan dan pahala.
Selain itu, Islam juga mengajarkan agar manusia hidup sehat (mengonsumsi makanan baik dengan cara baik). Berbusana sopan dan menutup aurat, juga hidup baik dengan cara menciptakan lingkungan sehat, bersih, nyaman, aman dan indah. Islam menganjurkan keindahan tidak hanya dalam kata-kata, tulisan, juga karya senirupa dan arsitektur. Islam menganjurkan keindahan dalam kehidupan manusia secara komprehensif.
Dalam Quran juga tertulis, Tuhan menciptakan keindahan di langit dan di bumi. Keindahan diciptakan pada malam hari maupun siang hari. Alam semesta merupakan hamparan keindahan ciptaan Tuhan. Keindahan itu dianjurkan untuk dinikmati sesuai ketentuan-Nya. Manusia juga dianjurkan untuk menciptakan keindahan. Kebersihan dan keindahan adalah bagian dari iman seorang muslim.
Keindahan dalam konsep Islam dipahami sebagai keindahan yang memuliakan kehidupan manusia, bukan sebaliknya. Senirupa Islam berkembang melalui seni kaligrafi, hiasan dekorasi pada arsitektur masjid, juga pada hiasan buku (mushaf). Sekarang ini muncul karya kaligrafi sebagai ekspresi senirupa individu yang dikenal sebagai seni kaligrafi kontemporer.
Seni kaligrafi kontemporer merupakan seni kaligrafi kreasi individu yang tidak termasuk dalam kategori seni menulis kaligrafi pada naskhah, mushaf dan dekorasi. Kaligrafi kontemporer diciptakan berdasarkan pertimbangan estetika penciptanya, sebagai ekspresi individu. Perkembangan seni kaligrafi kontemporer masih terus berlangsung. Berbagai corak, gaya dan idiom senirupa dieksplorasi para seniman agar dapat menciptakan kaligrafi kontemporer.
Perkembangan seni kaligrafi kategori kontemporer dibina melalui pelatihan dan kompetisi. Proses pembinaan di berbagai tempat, termasuk di Medan, belum bisa memenuhi kebutuhan peserta, ilmu yang didapatkan kurang memadai. Idealnya mereka mengikuti semacam kursus atau pendidikan selama satu bulan penuh tentang teori warna dan penerapan unsur-unsur rupa.
Kemampuan menulis kaligrafi didukung dengan pengetahuan teori warna dan unsur-unsur rupa dapat menghasilkan berbagai karya kaligrafi menarik. Beraneka kreasi bisa mereka ciptakan. Karya kaligrafi representasional maupun nonrepresentasional (abstrak) dapat dibuat.
Berbagai kompetisi seni ini menunjukkan, kelemahan karya pada aspek penerapan teori warna, komposisi, bentuk, maupun teknik. Seni kategori ini kurang bervariasi dan berkembang. Kebanyakan pencipta kaligrafi ini menguasai penuilisan aksara Arab, tetapi pengetahuan tentang penerapan unsur-unsur rupa kurang menguasai.
Kaligrafi kontemporer bisa diklasifikasikan pada karya kaligrafi dalam wujud representasional dan nonrepresentasional atau abastrak. Lukisan kaligrafi representasional diciptakan merujuk pada wujud-wujud yang dapat dikenali sebagai benda alam semesta. Lukisan kaligrafi nonrepresentasional (abstrak). Diciptakan dengan menciptakan komposisi geometrik atau warna dan berbagai unsur senirupa tanpa merujuk pada wujud benda alam semesta.
Adanya sejumlah pendapat di kalangan ahli agama tentang larangan penggambaran mahluk hidup disiasati secara kreatif oleh seniman muslim. Karya senirupa tidak lagi merepresentasikan mahluk hidup tetapi merepresentasikan komposisi geometrk, abstrak, dan stilisasi flora-fauna. Keindahan senirupa Islam berkembang di berbagai wilayah pemeluk Islam, setiap daerah memunculkan karakteristiknya sendiri-sendiri. Warna- bentuk, komposisi, tekstur, bidang dan berbagai unsur rupa diciptakan berdasarkan karakterisitik daerah.
Jika melihat keindahan hiasan dekorasi masjid di setiap daerah, aspek senirupanya berbeda-beda. Kita dapat saksikan dari Medan ke Aceh, sepanjang jalan dapat kita temui masjid-masjid dengan hiasan-hiasan indah yang beraneka ragam. Islam mengajarkan keindahan segala aspek kehidupan, termasuk keindahan visual atau senirupa.
Penulis dosen pendidikan senirupa FBS Unimed dan anggota Dewan Kesenian Medan.
Semua foto dalam Tulisan ini adalah foto dokumentasi dan koleksi foto penulis Agus Priyatno











