Makanan Khas Kluet yang Terlupakan

DALAM komunitas masyarakat Aceh, etnis Kluet di Aceh Selatan bukan satu-satunya yang memiliki bahasa tersendiri. Masih ada etnis lain seperti Gayo di Aceh Tengah dengan ba­hasa Gayonya.

Tetapi etnis yang berada di empat keca­matan dengan penu­tur bahasa asli di pedala­man Aceh Selatan itu sekitar 60.000-80.000 jiwa, me­miliki banyak jenis makanan khas yang belum tentu ditemui di pergau­lan etnis lain.

Khususnya lagi di pedalaman Kluet itu sendiri yakni satu daerah yang terpencil di kawasan itu yakni Lawesawah (kini sudah dimekarkan lagi menjadi Desa Laweci­manok-red), memilik makanan yang spe­sifik mulai dari plong, kerabu, ma­jun dan rabee. Kecuali makanan lemang yang juga banyak dijumpai di daerah lain di Aceh atau bahkan di luar Aceh.

Kini, makanan khas itu pun mulai langka, kecuali kerabu yang terdiri atas kerabu daging dan kerabu pucuk pangkat sera kerabu sayur pucuk paku. Sama halnya juga dengan ma­kanan khas jenis rabe daging yang biasanya hanya dijum­pai saat meugang (punggahan), menjelang puasa Ramadan.

Seiring dengan perkembangan zaman, lalu lintas warga menjadi urban karena tuntutan pekerjaan dan perkawinan antare­tnis, menjadikan makanan khas ini pun mulai jarang ditemukan. Apalagi, bahan bakunya berupa sayur paku dan pangkat (sejenis rotan-red) mulai langka dijumpai karena lahan dan hutan tempatnya tumbuh berubah menjadi areal kebun sawit dan lainnya. Makanan lemang yang mengguna­kan bambu muda untuk sarana memasaknya, kini sudah lang­ka karena hutan bambu sudah musnah dijadikan lahan sawit.

Bagi sebagian warga, makanan rabee masih menghiasi hi­dangan penganan pada waktu meugang. Padahal, sebelum tahun 1980-an, semua jenis makanan khas itu menjadi pe­nganan yang mentradisi, sehigga ada ungkapan tanpa rabee, plong , kerabu dan lemang tidak usah menjadi orang Kluet.

Kini, semua masakan itu, sudah semakin langka dan men­jadi peleng­kap bagi kehidu­pan masyarakat Kluet. Apalagi plong yang masa­kannya tanpa dimasak, tetapi bahan ikan su­ngai (air tawar) yang menjadi bahan utamnya ditambah bumbu alamiah, sudah sejak lama tidak pernah terlihat lagi.

Kolam-kolam di hutan dan rawa-rawa yang dulu terhampar luas, kini berubah jadi lahan persawahan dan bahkan menjadi areal penana­man sawit. Ikan air tawar yang dulu di tahun 70-80-an masih mudah di­tang­kap dengan alat tradisional seperti jala, tange (lunak) dan bubu (alat tangkapan tradisional dari bambu), kini  tidak ada lagi.

Berharap Lestari

“Semua tradisi itu, kini langka dan kita masih berharap dapat lestari tetapi apa boleh buat, namun bila upaya dilakukan dengan kesadaran sendiri masyarakat Kluet sendiri, makanan itu bisa dinikmati lagi di tengah modernisasi sekarang ini,” kata tokoh masyarakat Kluet Drs. Abidinsyah, belum lama ini.

Banyak warga asal Kluet yang kini di perantauan seperti di Banda Aceh, Jakarta, Medan dan Tapak­tuan ingin merasa­kan kembali nikmatnya makanan khas daerah asalnya itu. Sehingga, pada waktu menjelang Ramadan ini, sebagian me­re­ka berusaha untuk membuat makanan itu dengan ba­han sea­danya.

Seperti kerabu pucuk pangkat, rabee yang masih mung­kin dapat dimasak karena bahannya agak mudah didapat, dapat disantap kembali oleh mereka.

Banyak harapan agar makanan khas itu dapat dilestari­kan, termasuk dari pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh. Bahklan. pihak instansi pememrintah itu meminta agar masyarakat Kluet sendiri yang berinisiatif untuk me­les­ta­ri­kannya.

“Untuk memeperkenalkan maka­nan khas dan tradisional itu, perlu adanya pendataan nama dan jenis makanan ter­se­but, selebihnya dila­kukan pagelaran masak-mema­saknya dan memperkuat kuliner masakan tradisonal itu sen­di­ri,” begitu saran pihak Dinas Kebu­dayaan dan Pari­wisata Aceh dalam dialog budaya Kluet di Tapaktuan, belum lama ini.

Harapan banyak pihak itu, sepa­tutnya disahuti oleh ma­sya­rakat Kluet sendiri untuk memulai kem­bali meng­gairahkan masakan tradi­sonal itu sebagai hidangan pada bulan Ramadan ini.

Paling tidak dimasak pada saat peringatan Nuzul Quran dan men­jelang Idulfitri. Terhadap kerabu serpo (bahasa Kluet pucuk sayur paku-red) atau rabee masih bisa dibuiat kapan saja agar masakan khas tradisional itu tidak lagi terlu­pakan. (masluyuddin)

()

Baca Juga

Rekomendasi