Pasca Tembakan Rudal Korut

Pulau Sakhalin Lenyap dari Peta Online

SAKHALIN juga dikenal sebagai Sag­halien, adalah sebuah pulau di sebelah utara Samu­dra Pasifik yang terma­suk wilayah Rusia. Sakhalin sekaligus merupakan pulau terbesar di Rusia, dan berada di bawah peme­rintahan Ob­last Sakhalin. Bagian selatan pu­lau Sakhalin, Kepulauan Kuril, dan bagian utara pulau Honshu dulunya merupakan tem­pat asal Suku Ainu.

Manchuria menyebut pu­lau Sakhalin se­bagai saha­liyan ula angga hada (puncak muara Sungai Amur). Dalam bahasa Manchuria, sahaliyan berarti warna hitam dan digu­nakan untuk menyebut Su­ngai Amur (sahaliyan ula).

Jepang pernah menguasai bagian selatan pulau Sakhalin dari tahun 1905-1945. Suku Ainu menyebut Sakhalin se­bagai Kamuy-Kara-Puto-Ya-Mosir (Kara Puto) atau "dewa tanah muara sungai."

Pulau ini memiliki luas wilayah 78.000 km² dengan memiliki jumlah penduduk 673.100 jiwa (2005) dan ke­padatan penduduk 8,62 jiwa/km². Kota besar utamanya ialah Yuzhno-Sakhalinsk. Penduduk asli pulau ini adalah Ainu Sakhalin, Orok dan Nivkh. Kebanyakan orang Ainu pindah ke Hokkaido ketika Jepang kehilangan kekuasaan atas pulau ini.

Kini keberadaan pulau ter­besar di Rusia itu tidak di­ketahui karena secara miste­rius menghilang. Hal itu terjadi setelah Korut menem­bakkan rudal yang jatuh di laut.

Rudal ne­gara terkucil du­nia itu  mene­robos wilayah udara Jepang. Namun, tidak ada alarm saat pulau tersebut lenyap dari laya­nan pemetaan online.

Yandex yang sering dise­but sebagai Goo­gle-nya Rusia juga tidak memunculkan lo­kasi Shakhalin dari peta online. Pulau berlo­kasi di se­belah utara pulau Hokkaido, Jepang, pulau yang dilewati rudal Pyongyang sebelum jatuh ke perairan Jepang di Laut Pasifik pada hari Selasa.

Pengguna internet tidak dapat menemukan pulau itu di desktop atau platform selu­lernya saat skala diperbesar antara 180 dan 3.000 kilo­meter.

Namun, tak ada yang perlu dikhawatirkan, karena pulau Sakhalin masih berdiri. Yan­dex mengidentifikasi bahwa hilangnya pulau terbesar di Rusia dari peta online tersebut disebabkan oleh bug selama update harian.

”Hari ini selama update terakhir terjadi kegagalan teknis, akibatnya Sakhalin tidak tampil di beberapa ska­la,” kata pihak Yandex me­lalui seorang juru bicara. ”Ka­mi telah me­ngoreksi ini, dan segera Sakhalin akan kem­bali ke versi layanan mo­bile dan web,” lanjut Yandex, seperti dilansir dari IB Times.

Sejak pernyataan tersebut dirilis, pulau Sakhalin kini telah kembali terlihat pada layanan peta. Insiden tersebut sempat memicu para peng­guna media sosial berspe­ku­lasi atas nasib pulau Sakhalin. Salah satu spekulasi yang ra­mai muncul adalah pihak berwenang Rusia dengan sengaja ”mengacak” layanan GPS karena alasan keamanan, namun spekulasi ini tidak terbukti.

Uji coba rudal Korut ter­catat  pertama kali menerobos wilayah udara atau langit Hok­kaido, Jepang, sehingga memicu kecaman masyarakat internasional. Beberapa ne­gara, termasuk Indonesia me­minta krisis rudal Pyongyang dibahas di forum PBB. (ibtc/spnkc/es)

()

Baca Juga

Rekomendasi