Aceh Tak Mampu Penuhi Kebutuhan Telur

Banda Aceh, (Analisa). Capaian keberhasilan ketahanan pangan Aceh di sektor peternakan, terutama daging, telur dan susu hingga saat ini masih sangat rendah, sehingga untuk me­me­nu­hi kebutuhan ma­syarakat harus dipasok dari luar daerah.

Komoditas telur misalnya, sekitar 84 persen sampai saat ini masih harus di­datangkan dari luar Aceh karena kemampuan produksi di Aceh hanya mencapai 16 persen. Produksi telur pada tahun 2015 berjumlah 2.204.474 butir, sedangkan kebutuhannya 31.775.100 butir, sehingga terjadi defisit 29.570.626 butir.

Hal itu diungkapkan Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah pada Rapat Koordinasi Dewan Ketahanan Pangan Aceh tahun 2018 di Hotel Hermes Palace Banda Aceh, Senin (26/11).

“Ini perlu kita jadikan perhatian bersama. Dewan Ketahanan Pangan Provinsi Aceh dan Kabupaten/Kota yang hadir pada pertemuan ini, diha­rapkan dapat berkontribusi guna me­mikirkan masalah produksi telur agar Aceh ke depan mampu berswasembada,” terangnya.

Dijelaskan, pertanian merupakan sektor yang memiliki kontribusi terbesar dalam struktur perekonomian Aceh. Dengan rata-rata peningkatan sebesar 3,11 persen dari 25,42 persen tahun 2012 menjadi 29,41 persen tahun 2016, membuktikan sektor rill ini memberi daya ungkit yang besar dalam perekonomian Aceh.

Aceh merupakan salah satu lumbung pangan nasional yang hampir setiap tahunnya mengalami surplus padi. De­mikian pula halnya dengan produksi perikanan yang terus meningkat. Dalam kurun waktu 2012-2016 produksi perikanan Aceh mencapai 187.402 ton di tahun 2012 dan meningkat menjadi 266.882 ton pada tahun 2016.

Nova Iriansyah juga meminta semua pihak, baik pemerintahan, akademisi hingga petani bersinergi untuk mewujudkan kedaulatan dan keta­hanan pangan di Aceh. “Jika negara pu­nya kebijakan, perguruan tinggi pu­nya teori, tentunya petani punya praktik kontekstual. Saat semuanya diramu secara baik, dengan cepat kita men­jadi daerah dengan ketahanan pa­ngan yang baik,” katanya.

Lewat forum ketahanan pangan, No­va meminta agar persoalan akses pa­ngan bisa dibahas, sehingga perso­alan diskriminasi pangan yang disebut melanggar hak asasi dapat diatasi dan Aceh bisa mandiri pangan secara berkelanjutan.

Belajar

Untuk mewujudkan kemandirian pangan, Dinas Pangan serta Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh diharapkan belajar ketahanan pangan dari salah satu negara Afrika Timur, Ethiopia. Ne­gara yang 20 tahun lalu menderita kelaparan parah itu, saat ini menjadi negara dengan ketahanan pangan terbaik ke-15 dunia, jauh meninggalkan Indonesia yang peringkatnya di atas 20.

Ethiopia, kata Nova, bisa menjadi rujukan pembelajaran untuk menjadikan Aceh sebagai daerah yang mandiri pangan dan berkelanjutan di tahun 2022. “Melalui pertemuan ini diha­rapkan kita dapat menyusun program yang terencana dan terukur sehingga potensi rawan pangan di Aceh dapat kita hindari sejak dini,” harapnya.

Untuk memastikan kemudahan akses pangan, terutama bagi pendu­duk yang berada di wilayah rentan ra­wan pangan, Pemerintah Aceh telah menyediakan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) setiap tahunnya, bantuan pangan kepada kelompok rentan serta kegiatan operasi pasar yang dilaksanakan secara rutin.

Keberadaan pasar atau sarana pemasaran yang semakin banyak juga merupakan faktor yang akan memu­dah­kan akses masyarakat terhadap pa­ngan. Ketidakseimbangan antara kebu­tuhan pangan oleh tubuh dan konsumsi pangan oleh individu akan berdampak pada status gizi dan kesehatan seseorang.

Kepala Dinas Pangan Aceh, Ilyas mengatakan, Rakor Ketahanan Pangan diikuti 120 orang terdiri atas bupati/wali kota se Aceh, anggota dewan ketahanan pangan, Pokja Ahli dan Pokja Teknis Ketahanan Pangan dan Kepala Dinas yang menangani ketahanan pangan se Aceh.

Dalam pembukaan Rakor tersebut, Plt Gubernur Aceh memberikan penghargaan Adi Karya Pangan Nanggroe 2018 kepada pelaku dan pembina pa­ngan di Aceh. Mereka yang menda­patkan penghargaan itu diberikan uang pembinaan sebesar Rp5 juta.

Mereka yang mendapatkan peng­har­ga­an itu adalah Siswanto asal Aceh Te­ngah, pelopor ketahanan pangan (pengembangan tanaman apel di kampung Despot Linge Aceh Tengah, dan Wahyu Hidayat dari Aceh Tengah seba­gai pengembangan ternak sapi melalui sistem integrasi tanaman ternak.

Selanjutnya Salawati, pelaku pengo­lahan ikan segar menjadi keuma­mah, abon dan nugget asal Banda Aceh serta Yusnida, pengolah buat pala menjadi selai, keripik dan balsem pala di Aceh Selatan.

Petugas penyuluh yang diberikan Adi Karya Pangan Nanggroe dan T.Ba­ha­ruddin (Pidie), Sukarman (Aceh Tengah) dan M.Sulaiman (Aceh Besar), yang giat mengajak ma­syarakat untuk menanam kunyit dari aktivitas menanam ganja. (mhd)

()

Baca Juga

Rekomendasi