Menjaga Kualitas Air Danau Toba

Oleh: Alda Muhsi

DANAU Toba telah lama digadang-gadang akan men­jadi Monaco Of Asia. Pen­deklarasian rencana itu telah terdengar sejak pertengahan tahun 2016 dan ditargetkan tuntas pada 2019. Untuk me­wujudkan cita-cita itu, ba­nyak sekali yang harus dibe­nahi.

Selain memperindah ka­wasan dengan membuat in­fra­struktur yang layak, al­ter­natif jalan yang cepat dan mu­dah dijangkau untuk men­capai destinasi, perlu juga di­perhatikan kualitas air danau demi menjaga kenyamanan dan kesehatan para pengun­jung ketika menceburkan diri ke danau tersebut.

Hal menarik diperhatikan adalah justru yang sangat sulit rasanya un­tuk dibenahi, yak­ni soal men­jaga kualitas air agar tak ter­cemar. Perpres No­mor 81/2014 me­netapkan Danau Toba sebagai perairan dengan kualitas baku mutu ke­las satu. Standar perairan dengan kualitas baku mutu ke­las satu mensyaratkan kan­dungan fosfor maksimum 0.2 mg/liter. Melihat kenya­taan yang ada, timbul perta­nyaan, sudah pantaskan Da­nau Toba disebut memiliki kua­litas mutu air kelas satu?

Untuk menjawabnya mari kita ingat terlebih dahulu pa­da awal tahun 2017 ditemu­kan hama air yaitu lintah dan kutu yang membahayakan pengunjung ketika sedang asyik bermandi-mandi dalam danau. Kemudian setelah diselidiki munculnya hama air lintah dan kutu akibat dari limbah perusahaan ternak ikan keramba jaring apung (KJA) dan perusahaan ternak babi. (me­dan.tribunnews.­com)

Kemunculan lintah dan kutu akan mengurangi ni­lai keindahan yang selama ini terbangun secara alami. Se­cara otomatis, hal ini akan mengurangi minat wisatawan untuk berkunjung. Mung­kin orang-orang yang belum per­nah mengunjunginya dengan semangat menjadikan Danau Toba sebagai destinasi utama ketika berada di Sumatera Uta­ra. Namun bagi wisata­wan yang sudah pernah me­ngun­­junginya dan melihat fe­no­mena ini akan enggan ber­kun­jung untuk kedua ka­li­nya. Inilah yang sebenarnya harus kita jaga.

Tugas kita hanya menjaga keindahan yang telah dicipta­kan Tuhan. Mengapa kita enggan untuk melestarikan­nya? Mengapa kita hanya ber­diam bahkan turut menja­di peserta dari pencemaran itu? Padahal dengan menjaga kelestariannya berarti kita turut menjaga jumlah wisata­wan yang berkunjung. Se­buah langkah maju untuk me­wujudkan Danau Toba se­bagai Monaco Of Asia, bu­kan?

Mengapa dikatakan men­ja­ga kualitas air ter­masuk da­lam kategori sangat sulit? Karena pencemaran yang terjadi bukan hanya dari satu sisi. Serangan datang dari ber­bagai penjuru. Belum se­lesai sampai di situ, hasil pe­nelitian Pusat Riset Perikanan pada Agustus 2017 atau ber­tepatan dengan peralihan dari musim kemarau ke musim hujan, menunjukkan kan­dung­an limbah berupa fosfor dari air sungai yang mengalir ke Danau Toba rata-rata men­capai 0,29 mg per liter.

Pada saat musim hujan bulan Desember 2017, kan­dung­an fosfor meningkat ham­pir dua kali lipat menjadi rata-rata 0,53 mg per liter. Artinya, jika setiap satu liter air sungai itu memiliki kan­dungan fosfor sebesar 0,53 mg, maka dalam satu tahun kandungan fosfor yang ma­suk ke Danau Toba akan men­capai 17.500 ton. (me­dan­bisnisdaily.com)

Danau Toba dikelilingi atau menyentuh 7 Kabupaten yang ada di Sumatera Utara, antara lain Kabupaten Samo­sir, Toba Samosir, Simalu­ngun, Tapanuli Utara, Hum­bang Hasundutan, Karo, dan Dairi. Kemudian sebanyak 191 sungai memua­rakan air­nya ke Danau Toba. Hal ini juga diyakini menjadi pemicu dan penyumbang tercemar­nya air Danau Toba. Selain dari perusahaan ternak yang selalu membuang limbah pa­kan ke danau.

Menarik untuk diperhati­kan, jika ditarik permasa­lah­an sampai ke akar ternyata se­bab pen­cemaran itu ada di tangan masyarakat sekeli­ling sungai-sungai itu. Mengapa dikatakan demikian? Budaya me­lestarikan sungai saja mi­nim sekali di tengah masyara­kat kita, bagaimana mungkin kita mampu menjaga danau seluas 1.124 kilometer ini?

Bagi Tugas

Mencegah pence­mar­an air Danau Toba bu­kan perkara yang mudah. Oleh karena itu jalan yang tepat adalah bagi-bagi tugas. Masyarakat mela­kukan apa yang bisa dijang­kau, seperti pencegahan pen­cemaran sungai-sungai yang bermuara ke Danau Toba de­ngan mem­buat program se­minggu se­kali membersihkan sungai, setiap hari menjaga dan meng­awasi sungai agar tidak dikotori dengan mence­gah pembuangan sampah dan limbah rumah tangga ke da­lam sungai. Kegiatan-ke­giat­an ini akan berjalan lebih baik dengan adanya dukung­an pemerintah setempat.

Kemudian di sisi lain, un­tuk wilayah Danau Toba ada­nya peran pemerintah untuk mengen­taskan permasalahan limbah yang ditimbulkan oleh perusahaan ternak dan perhotelan sangat penting. Peran lembaga-lembaga ter­kait juga sangat diha­rapkan, seperti Badan Lingkungan Hidup (BLH) dan Geopark Kaldera Toba untuk menjaga dan mele­starikan keindahan Danau Toba agar semakin cepat terciptanya Monaco of Asia.

(Penulis adalah alumni Sastra Indonesia Unimed)

()

Baca Juga

Rekomendasi