Oleh: MH Heikal.
Kematian, bagi sebagian orang dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan. Sebagian lagi beranggapan kematian hanya sekadar proses. Sekadar berhenti sejenak kefanaan, untuk kembali hidup di alam yang berbeda.
Itu jugalah kiranya yang dirasakan oleh pelukis Mexico bernama Nicolas de Jesus. Dia lahir 6 Desember 1960 di Ameyaltepec. Sebuah desa kecil di La Mezcala, Nahual, Guerero, Meksiko. Dengan cita rasa tradisional, Nicolas mencipta lukisan-lukisan bertema kematian.
Kematian menjadi salah satu ciri khas yang kental dalam lukisan-lukisan Nicolas. Dominannya diisi oleh warna coklat dan hitam. Tengkorak menjadi simbol kematian yang selalu hadir di setiap lukisannya. Bisa dikatakan, tengkorak adalah identitas dari pelukis otodidak ini. Ini merupakan salah satu upaya Nicolas melestarikan budayanya, sifat dari calaveras (kerangka).
“Tengkorak menceritakan mengapa kita ada di dunia,” ujarnya.
Menurut Nicolas, orang-orang Mexico kebanyakan sangat menghargai kematian dengan cara memperingatinya. Dalam bahasa Meksiko acara itu disebut Dia de los Muertos atau Hari Kematian. Ini adalah tradisi yang berlangsung beberapa abad sebelum kedatangan conquistador Spanyol pada tahun 1519. Ini adalah tradisi yang ditemukan saat ini di beberapa wilayah di Mexico.
Coba kita lihat salah satu karyanya yang berjudul En el Tren atau Dead and Alive. Lukisan ini menggambarkan keunikan tengkorak-tengkorak di sebuah kereta bawah tanah. Semua berpakaian lengkap. Beberapa bertopi olahraga dan kacamata, yang lain dengan rambut gimbal menyentuh punggung mereka.
Mereka membaca surat kabar yang jenisnya hampir terbaca. Mereka mendengarkan musik dan terlibat dalam percakapan. Ada sedikit grafiti di kereta ini, dan hampir terlihat melalui pintu belakang, yaitu adalah kota Chicago.
Pada tahun 2010, di Museum Seni Neuberger di gelar pameran The Irony of the Skeletons: Nicolas de Jesus Amates. Pameran ini sebagai rangkaian dari perayaan Día de los Muertos. Pertunjukan tersebut menyajikan pilihan karya Nicolas dari tahun 1990 sampai 2009.
Patrice Giasson selaku kurator Alex Gordon dari seni Amerika di Neuberger, mengatakan, “Kerangka yang mengejek dan tertawa yang meniru orang hidup. Menantang kesia-siaan, memang sangat ironis. Itu membuat relatif pentingnya kehidupan, karena dalam kematian, semua orang sama.” (New York Times, 29 Oktober 2010).
Karya-karya Nicolas tema kematian telah dipamerkan di Chicago, Paris, Singapura dan Montreal. Bahkan pernah pula berkesempatan ditampilkan di Bandung pada 21-30 November 2014 lalu. Lewat lukisannya, Nicolas menjadikan kematian sebagai sesuatu yang tidak terlalu menyeramkan. Kematian nyatanya sangat akrab dengan kita.
Seorang penyair Mexico, Octavio Paz bahkan pernah berujar.
“Kata kematian tidak diucapkan di New York, di Paris, di London karena membakar bibir (tabu). Sebaliknya, orang Mexico akrab dengan kematian, bercanda tentang hal itu, membelai, tidur dengannya, merayakannya. Kematian menjadi salah satu mainan favoritnya dan cinta teguhnya. Benar, mungkin ada banyak ketakutan dalam sikapnya seperti pada yang lain. Tapi setidaknya kematian tidak disembunyikan.”











