Phnom Penh, (Analisa). Air banjir yang dilepaskan melalui bendungan hidroelektrik Tiongkok telah memaksa ratusan keluarga dari lima desa Kamboja untuk meninggalkan rumah mereka dalam beberapa pekan terakhir, demikian disampaikan kelompok kampanye International Rivers, Jumat (2/2).
Sejumlah desa di provinsi paling utara, Stung Treng, telah pindah ke beberapa lokasi proyek transmigrasi terancang dan memperkirakan setidaknya 5.000 orang akan mengungsi.
Di desa Srekor hanya 10 keluarga yang direlokasi ke desa transmigrasi, sementara 63 keluarga masih berkeras tetap tinggal, pindah ke wilayah hutan yang lebih tinggi setelah mereka telah menyaksikan air banjir naik sejak Desember mencapai atap rumah mereka.
“Komunitas Srekor yang berkembang telah menjadi dunia air yang sunyi,” kata International Rivers, mencatat bahwa lahan pertanian desa, kuil, kuburan leluhur dan tempat pemancingan telah musnah.
Bendungan Sesan 2 yang dapat menghasilkan listrik berkekuatan 400 megawatt, hasil kerjasama antara Perusahaan Energi Hydrolancang International milik Tiongkok dan Royal Group milik Kamboja, akhirnya mulai beroperasi pada November.
Diperkirakan ketinggian air 75 meter dan panjang 8 kilometer, pembangunan bendungan tersebut membutuhkan waktu bertahun-tahun dan merupakan bagian dari ambisi pembangkit listrik tenaga air Tiongkok di wilayah Mekong dan bertujuan menghasilkan listrik untuk Kamboja.
Utusan dari konsorsium bersama tersebut tidak dapat dimintai komentar pada Jumat.
Kelompok aktivis lingkungan hidup telah berkali-kali memperingatkan bahwa proyek tersebut akan berdampak mahal pada perikanan Sungai Mekong dan keanekaragaman hayati.
Perdana Menteri Kamboja Hun Sene telah mencap siapa saja yang menciptakan kekhawatiran mengenai proyek “radikal”, mengatakan bahwa Kamboja perlu untuk bertahan dengan naiknya permintaan kebutuhan akan listrik. (Rtr/echo)











